CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »
Showing posts with label College. Show all posts
Showing posts with label College. Show all posts

27.2.18

Cara Membuat Koneksi Client-Server Aplikasi SAS 2018




Apakah anda pengelola keuangan yang kesulitan menggunakan aplikasi SAS? Bingung membuat koneksi client-server untuk Aplikasi SAS? Sudah berkoordinasi dengan orang KPPN namun tetap tidak ada hasil, malah dibilang gampang-gampang saja? Dibilang gak perlu settingan khusus?

Nah..!! anda datang ke blog yang tepat, tanpa berbasa-basi saya akan jelaskan cara membuat koneksi server-client Aplikasi SAS 2018.

Tapi tunggu dulu, saya mau cerita, satuan kerja saya baru saja berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri. Nah, sebagai satuan kerja baru, harus melakukan setting aplikasi-aplikasi keuangan yang kata pengelola keuangan kami sangat sulit dan ribet. Kemudian saya dikenalkan dengan Aplikasi SAS 2018 yang sampai saat ini saya tidak tahu apa kepanjangan dari SAS 😄

Singkat cerita, sang pengelola keuangan ingin dibuatkan koneksi server-client, bahwa ada server atau komputer yang dijadikan server. Okey dalam hati saya. Segera saja saya minta petunjuk teknis dan manualnya. Dalam bayangan saya tinggal klak-klik menu di atas, mungkin ada menu connect to server, atau ada menu make this computer a server.

Namun, alangkah terkejutnya saya mengetahui tidak ada petunjuk teknisnya, tidak ada manualnya, apaa..!! seperti sinetron india yang zoom in dan zoom out. Aplikasi besutan Kementerian terkaya se-Indonesia ternyata primitif, masih pakai Foxpro, dan tidak ada manualnya. Satu-satunya cara belajar adalah lewat whatsapp dengan orang KPPN katanya, oke saya bilang tanya aja caranya bagaimana.

Jawabannya gimana? Cuma jawab gampang, kan di sana ada orang TI, gak ada setting khusus, cuma nembak IP saja.

Hadeeeh… nembak IP? Istilah apa itu? Saya orang TI gak ngerti istilah nembak IP. Caranya gimana, klik apa, masuk ke menu apa gitu lho…😞

Aplikasi SAS 2018 ini cukup penting soalnya, bisa-bisa gak gajian kalau pengelola keuangan ini gak pakai Aplikasi SAS 2018. Kita sudah menghubungi pengelola keuangan di satuan kerja yang lain, jawabannya nihil, mereka juga gak tau caranya. Gimana sih ini? Aplikasi penting, banyak dipakai orang, tapi minim transfer knowledge.

Saya paham sih, aplikasi ini cuma diinstal sekali setahun, dan para pengelola keuangan juga menggunakan banyak aplikasi primitif lainnya. Pengelola keuangan juga enggan mengganti komputernya karena mereka paham, sekali ganti komputer bakalan repot instal-instal aplikasi keuangan lainya, dan itu sangat mengerikan jika aplikasi baru yang telah diinstal malah tidak berjalan.

Kepada Kementerian Keuangan, tolong bereskan pekerjaan ini, buat sistem yang baik, on-line, permudah dengan frequently asked question, petunjuk teknis dan manual. Dan paling penting, jangan banyak aplikasi lah, integrasi donk, tolonglah, kasihan para pengelola keuangan ini siang, malam sampai sabtu-minggu kerja keras melototin aplikasi, kantung mata mereka sudah membesar, hehee….
😉

Oke gak usah panjang lebar, udah gak sabar kan mau tau caranya? Mau tau aja atau mau tau banget? Ini dia..

1. Buat hubungan server-client. Sebenarnya bukan bentuknya yang seperti server segede gaban juga, komputer biasa sebenarnya bisa kok. Misal  mau ada koneksi beberapa komputer di ruangan dengan Aplikasi SAS, maka anda harus tentukan komputer yang ingin dijadikan server.

2. Pilih komputer sebagai server yang punya spesifikasi tinggi, baik, dan tidak punya kenangan masa lalu dengan mantan, eh.. maksudnya tidak punya sejarah kerusakan di masa lalu. Komputernya harus tinggi, baik, dan pengertian, duh, maksudnya komputernya dalam kondisi baik, terlindungi dengan anti virus, dan sebaiknya memakai USB, eh, UPS, agar kalau mati lampu (anak jaman dulu bilangnya mati lampu) komputernya masih nyala tra..la..la.

3. Cek IP komputer server itu, jika masih DHCP, tolong dibuat manual, caranya gimana? Tinggal telepon staf TI di kantor anda, hahaa…. Gini caranya,






4. Masuk ke Network and Sharing Center, klik di gambar atau tulisan ethernet, lalu klik details. Nanti muncul details alamat jaringan komputer anda, catat, jika DHCP enabled yes, maka perlu dimanualkan.



5. Klik Properties, pilih Internet Protocol Version-4, dan Properties lagi untuk memasukkan secara manual alamat IP dan turunannya, berdasarkan catatan tadi. Ribet ya? Ya udah panggil aja staf TI-nya yah, hahaa…



6. Lalu pada komputer server, temukan folder instalasi Aplikasi SAS 2018, biasanya di Drive C. temukan file notepad txt, namanya IPSERVER. Nah buka dan kosongkan isinya.





7. Kemudian di komputer lain, komputer yang mengakses SAS 2018 dan ingin dikoneksikan dengan server, temukan file notepad txt tadi, namanya sama, IPSERVER, tapi kali ini diisikan alamat IP komputer server.

8. Mudah bukan… voilla!! … Aplikasi SAS 2018 berhasil bekerja, gajian pun lancar. Ternyata yang dimaksud dengan nembak IP itu cuma poin 7 di atas, gitu doank ternyata, tapi jadi beban pikiran berhari-hari karena gak ada di mana-mana caranya.

😊😊

NB: Tujuan saya membuat postingan blog ini adalah untuk transfer of knowledge, karena ternyata caranya sangat mudah, namun kenyataannya banyak pengelola keuangan yang kesulitan. Budayakanlah menulis apa yang anda lakukan, dan lakukanlah apa yang anda tulis. 😉


(trus, Dhis...?!!)

31.1.18

Karya Akhir, Wisuda, S2 Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia (MTI UI) - Habis

Terakhir saya posting tentang kehidupan kuliah di S-2 Magister Teknologi Informasi adalah pada tanggal 20 Juni 2017 yaitu cerita saat kuliah pada tahap Semester III. Sudah lebih dari 6 bulan yang lalu, karena memang ada kesibukan lain dan pindah tugas kerja ke unit yang lain di kantor.

Sekarang Januari 2018, padahal saya lulus Desember 2016, dan wisuda Februari 2017, sudah hampir setahun yang lalu, mudah-mudahan masing ingat ya 😉

Peringatan: 
Tulisan ini sangat panjaaang sekali..

...

saya sudah peringatkan loh ya... risiko tanggung sendiri..

Sebelumnya saya sampaikan kembali tulisan-tulisan saya sbb:

- Awal masuk, ujian SIMAK-UI 
- Semester I 
- Semester II 
- Semester III 

Dilanjutkan dengan penulisan Karya Akhir sebagai berikut.

Alhamdulillah nilai mata kuliah MPPI saya A, eh atau A+ ya, saya lupa, yang jelas saya berhak untuk mengajukan topik KA (Karya Akhir) dan mendapatkan pembimbing di semester III. Artinya saya bisa mengerjakan KA, sambil kuliah berjalan, dan saat itu saya yakin, pasti akan sangat berat. 

Dua minggu pertama awal perkuliahan adalah awal mula mendebarkan, karena kita menunggu email dari sekretariat tentang pengajuan proposal, belum lagi tau apa topiknya, lalu siapa dosen pembimbingnya (dosbing), ini mau dipanggil dosbing atau dospem ya? Kalau dosbing jadi dosen bingung, kalau dospem jadi dosen pembantu, hahaa… 😆

Anyway, email itu datang juga, dimana kita harus mengirim kembali dengan Topik KA, dan usulan judul, nanti oleh sekretariat akan dikompilasi dan dicocokkan dengan dosbing yang available, karena satu dosbing hanya boleh membimbing maksimal 10 mahasiswa. Selain itu juga topik dan usulan judul berpengaruh terhadap pemilihan dosbing. Jadi, ya harus pintar-pintar pilih judul, soalnya saya tidak mau dengan salah satu atau salah dua dosen yang terkenal.. galak.

Bukan galak sih, tapi perfectionist, hahaa…. Soalnya dua dosen itu sangat teramat pintar, mereka berdua sangat logis, ilmiah sekali, mereka tahu dengan tepat kalau kita tidak tahu, dan mereka bertanya hal-hal yang kita tidak tahu, dan pokoknya saya ketakutan bahkan untuk mendengar namanya saja, hehee…

Untuk topik, saya samakan dengan tugas MPPI semester II kemarin, namun judulnya berubah, kemudian pakai ada kata “analisis”nya, dan hindari beberapa kata yang kalau saya liat history KA semester yang lalu, akan dapat dua dosen horor itu. Dan voila..!!, daftar pembimbing dapat dilihat di website, dan saya mendapatkan dosen yang.. saya kurang begitu kenal, hahaa…. Tapi yang jelas dia sering ada di kampus salemba, itu adalah sisi plus, karena banyak dosen yang available di Depok dimana para mahasiswa harus bimbingan ke sana.

Segera saja saya buat proposal KA, yaitu 3 Bab pertama, dibuat dengan express, kasih ke sekretariat untuk mendapat form bimbingan alias kartu kuning. Kartu kuning ini harus tertandatangan sebanyak 8 kali, terisi dengan kolom jadwal, pembahasan dan tanda tangan, setelah 8 kali barulah kita bisa mengajukan sidang KA.

Ketika membuat proposal ya saya harus mencari data dukung sebagai dasar pembuatan KA, ingat mata kuliah MPPI kan ya, saya harus cari data tentang masalah, yaitu ekspektasi, realita, kondisi saat ini, kondisi yang ingin dicapai, dan lain sebagainya. Datanya bisa lihat di dokumen Rencana Strategis, kemudian kondisi saat ini bisa lihat di Laporan Kinerja. Terus bagaimana menuangkannya ke Bab 1 sampai 3? Ya pintar-pintar kita saja.

Ingat lho ya, saya juga sambil kuliah dan kerja, terbayang donk pagi sampai sorenya kerja, lalu kuliah, dan pulang kuliah baru siap jam 11 malam untuk kemudian mengerjakan KA sampai jam 2 pagi, setiap hari dari senin-kamis!! Duh, kalau ingat masa-masa itu sedih, capek banget, tapi heran juga kok kuat yah, di kelas saya cuma 2 orang yang bisa mengerjakan KA, sisanya ya masih leyeh-leyeh hanya berkuliah saja. Memang saya..


Sangat sering saya mengerjakan KA sampai jam 2 pagi, rasanya sudah menjadi kebiasaan. Jaga kesehatan harus, dan juga pastinya minum vitamin.

Bagaimana bagi waktunya? Satu-satunya cara ya mencuri, iya mencuri, mencuri waktu, hahaa….😃 Jadi saya kerja sampai jam 2 siang, make sure pekerjaan sudah beres, baru melipir ke perpustakaan kantor, setiap hari..!! Orang perpustakaan jadi hapal sama saya, tapi bukan untuk meminjam atau membaca buku, tapi numpang mengerjakan KA, bawa laptop, dan tidur, ya tidur!! Saya sangat tidak tahan berlama-lama di depan komputer, mengetik, membaca, dan mikir, karena semua itu membuat saya cepat ngantuk, alhasil saya sering menguap, hahaa…

Back to topic, idealnya, sebuah KA adalah hal yang baru, ada sesuatu yang revolusioner yang bisa kamu usulkan dalam rangka berkontribusi untuk dunia akademik. Tapi ada daya, saya hanya ingin cepat lulus, waktu untuk KA praktis hanya 3 bulan ya, september-desember. Saya tidak mau juga berlama-lama di kampus, mahal bro.. hahaa… ya begitulah, ketika idealisme terpentok kebutuhan. Padahal jiwa saya ya jiwa penemu, inventor, selalu ingin membuat hal yang berguna bagi manusia, ingin belajar, meneliti, tapi ya, cicilan mobil dan tagihan iuran apartemen menunggu, hahaa… 😏

saya pun terjepit, bagaikan atun yang terjepit tanjidor..


Jadi gimana? Saya pintar dalam mengambil jalan pintas, saya orangnya malas, dan kata para petinggi silicon valley, rekrutlah orang malas, karena mereka pasti mencari cara menyelesaikan pekerjaan dengan trik dan dibuat otomatis, hahaa… ya saya begitu, tak terkecuali untuk KA. Saya sudah komit bahwa akan tinggal copy-paste saja dari topik KA sebelumnya dan bedakan saja studi kasusnya.

Bab 1 sampai 3 sudah terstruktur dari tugas MPPI sebelumnya, saya hanya tinggal ubah sesuai judul saja, yang berarti ubah research question (RQ), theoretical framework, tambah tinjauan pustaka berdasarkan RQ, bikin Bab 3 untuk metode, langkah-langkah, dan apa saja yang akan dilakukan. Dan semua itu harus ada referensinya..!! Setiap paragraf yang bertujuan mengarahkan apa yang akan saya lakukan dikaitkan dengan studi kasus saya musti ada rujukan papernya..!! Hahaa…

Saya jadi rajin buka googlescholar, remote-lib, dan lain sebagainya untuk download paper-paper tentang RQ, metode, dan segala macamnya, bukan hanya download, tapi baca, lalu di-highlight, masukkan ke Mendeley, yaitu aplikasi untuk manage paper, bisa connect ke daftar pustaka di word.

Tahu aplikasi Mendeley juga karena tugas matkul e-Government, katanya kalau peneliti yang beneran, atau penulis buku ya pasti butuh aplikasi untuk manage paper, disitu kita bisa search berdasarkan penulis, topik, tahun, highlight, bookmark, dan connect ke daftar pustaka, sampai bisa online dan diakses dari mana saja, wow.!!

Lalu tibalah saatnya janjian dengan dosbing untuk bimbingan, rasanya deg-degan, maklum, saya orangnya introvert, mau berbicara sama orangnya tuh harus dipikirkan dulu mau ngomong apa, alurnya gimana, dan lain-lain sehingga apa yang saya mau omongin ya dicatat dulu. Karena dosbing ini juga saya tidak terlalu kenal, tapi pegang jabatan penting, yaitu Ketua Jurusan..!! Wow. Jadi ya, wajar sih deg-degan. Untungnya si dosbing berkantor di Salemba, saya tinggal menyesuaikan jadwal beliau berkantor, yaitu 3x seminggu.

Setelah saya siapkan materi, pertanyaan, dan daftar obrolan, maka saya tinggal duduk di ruang sekretariat, mendaftar dan menunggu bapaknya berkenan menerima saya. Selain saya juga sudah ada mahasiswa bimbingan lain yang mengantri. Dalam bayangan saya, karena sudah ada beberapa pengalaman teman yang lain, tanggapan dosbing paling buruk ya ditolak misal dengan alasan sudah banyak topiknya, ruang lingkup terlalu kecil, atau dosbing punya topik yang lain, dan bayangan itu semua jadi faktor pendorong untuk merasa was-was, haha..!!

Saya paham sih bahwa musti ada sesuatu yang baru, yang berbeda dengan KA sebelumnya, dengan paper internasionalnya, harus ada keunikan dan kebaruan, nah, tapi kan sejauh mana kebaruan dan keunikannya jadi area subyektif dosen, ya kan. Apalah saya yang hanya ingin cepat lulus dan meniru topik KA sebelumnya? Hehee…

Saya hanya menambah metode saja sih dari topik KA sebelumnya, beberapa metode dan ruang lingkup, kalau sebelumnya hanya mengukur faktor X, saya mengukur tingkat kepentingannya juga untuk sejumlah variabel sebelum menghitung faktor X, kemudian saya juga tambahkan solusi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan variabel dan faktor X, banyak kan ya? hahaa…. 😉

Ya tapi tak dinyana, ketika saya bimbingan pertama kali, bak awan petir menggelegar, si bapaknya tampak tak terkesan, datar saja, nah lho.

Datar aja sih, enggak negatif seperti menolak, tapi gak bersemangat juga, haha… tapi agak sedikit menolak juga, jadi menurut bapaknya masih tetep kurang keterbaruannya, disitu saya argumen bahwa sisi kebaruan saya ada di sini dan di situ, tapi metodenya gimana? Lalu ruang lingkup, lalu rujukan-rujukannya. Si bapak menawarkan atau tepatnya mengusulkan gimana variabelnya ditambah, jadi lebih detail dari sebelumnya.

Di sini saya paham, bapaknya suka berdiskusi, suka kalau kita memiliki argumen, dan menghadirkan referensi apa saja untuk mendukung argumen tersebut. Bapaknya tidak terlalu mementingkan struktur Bab 1 sampai 3 yang sudah saya buat, beliau ingin gambaran besarnya beres dulu. Jadi untuk 1 bulan ke depan kami hanya berdiskusi, yang saya bawa hanya catatan 3-4 lembar saja, seperti alur diagram.

Jadi saya bikin fishbone analysis, dari situ ada tanda panah ke research question, lalu panah lagi ke theoretical framework, dari situ saya tentukan metode, lalu apa saja yang akan saya ukur, nanti hasilnya akan seperti apa. Bahasa kerennya Rich Picture kali ya, kayak Scrapbook, hahaa…. Ya udah, 1 bulan kita argumen disitu, dicoret, dikasih masukan. Saya ketemu beliau hampir tiap minggu, dan setiap ketemu selalu dikasih saran dan masukan, implikasinya adalah saya musti banyak baca.

Jadi si dosbing ini, sebelum saya ketemuan, saya selalu email rich picture saya, dan juga Bab 1 sampai 3 saya, lalu si dosbing akan kirim balik kasih masukan, kadang soal typo, kadang minta klarifikasi, wow..!! Berarti DIBACA sodara-sodara!! Yah ampun. Dan seringnya lagi dikasi paper juga, baik hasil download atau softcopy yang musti saya baca, dan saya tanggapi gimana kemungkinannya untuk ditambahkan ke KA saya, duh, capek, tapi ya mo gimana lagi, saya merasa apa ya…. Saya merasa PINTAR, hahaa..😊😄 soalnya jadi banyak baca, nganalisis, dan menyatakan pendapat dengan didukung paper yang lain. Mulanya sih..


Akhirnya tiba kesepakatan yang dicapai, itu masih berupa rich picture kan ya, saya harus formalkan bahasanya ke bentuk Bab 1-5, Bab 4 kan cuma cerita organisasi, Bab 5 tentang analisis dan pembahasan, jadi ya 5 setengah lah ya. KA saya kan tipenya kuantitatif, dengan pengumpulan datanya berupa kuesioner. Ada kuesioner AHP (Analytic Hierarchy Process) dan juga kuesioner tipe statistik deskriptif. Jumlah pertanyaannya lebih dari 60..!! Itu belum seberapa, jumlah respondennya donk harus minimal 359..!! Karena pakai rumus slovin, katanya jika populasi sekitar 3500 orang, maka hasil itungannya adalah 359, minimal lho ya.

Dan… duh harusnya tidak boleh pakai kata Dan di awal kalimat, menurut pak Ivan Lanin, hehee… Dan saya buta soal statistik..!! Sangat tidak tahu menahu soal statistik, untungnya istri pernah jadi konsultan skripsi dan sering mengerjakan statistik, tapi katanya sudah lupa, hehee.. baiklah, apa boleh buat, saya meluncur ke gramedia, toko buku andalan untuk membeli buku statistik, awalnya 1 buku judulnya statistik apa gitu, warna orange, penulisnya Sujarweni.


Siang malam saya membaca buku statistik, saya tandai hal yang penting, kemudian tampaknya saya perlu beli buku 1 lagi, sebagai pembanding dan lumayan buat menambah referensi, judulnya analisis regresi untuk penelitian, jadi lebih spesifik khusus regresi. Siang malam kembali saya membaca statistik, mumet juga ya, sambil utak-atik software SPSS, ya lumayan, nambah ilmu dengan baca step-by-step.


benar sekali dek..

Itu hanyalah awal kemumetan, tantangan sebenarnya dari segala proses KA ini baru dimulai, yaitu menyusun kuesioner, selain harus ada referensinya, mengikuti KA sebelumnya, atau ada rujukan dari paper, juga harus sesuai kondisi organisasi. Artinya ada ciri khas dari kuesionernya itu. Kebayang gak kuesioner 90 pertanyaan, ada 10 lembar? Itu harus kita buat semenarik mungkin agar responden enggak bosan, bingung, bikin ngantuk, lalu jadi gak mau ngerjainnya lagi. Jadi pilihan kalimat, kata, serta penempatannya harus dipikirkan.

Segera saya susun konsep kuesioner, kemudian saya bimbingan ke dosbing, lalu ada arahan dan masukan untuk mengganti jawabannya sesuai pertanyaannya, jadi gak sesimpel setuju, tidak setuju, tapi juga misal, tahu, sangat tidak tahu, sering, jarang, selalu, dan sebagainya. Oke, kemudian kita bikin dulu 20 buah kuesioner sebelum cetak 500an, 20 orang responden kita minta isi kuesioner sebagai uji coba, lalu kita minta masukan.

Karena juga ada kalimat pertanyaan negatif kan, supaya mengecoh responden agar tetap berpikir, jadi supaya gak selalu jawab monoton saja. Misal contoh pertanyaanya “saya selalu membuka website tidak senonoh di kantor” hayo mo jawab apa? Kalau gak baca teliti bisa terjebak kan.

Masukannya bisa berupa pilihan kata, apakah ada yang bingung, berapa lama ngerjainnya, sampai saran dan kritik. Idealnya ngerjainnya 10-15 menit, klo lebih lama dari itu kita harus rombak kuesionernya. Jika ada masukan, ya kita ubah, kita susun konsep lagi, baru kita bimbingan ke dosen lagi. Jika dosbing oke, maka mulailah cetak 550 buah kuesioner..!! Pakai tukang fotocopy donk tentunya ya, haha…. Terpikir mau cetak di kantor atau beli printer, tapi kayaknya lebih ekonomis pakai fotocopy.

Selain itu saya juga harus melakukan wawancara dengan para pimpinan di kantor saya. Hasil wawancara itu saya gunakan sebagai rujukan untuk menguatkan latar belakang penelitian, dan juga untuk mengkonfimasi indikator dan variabel yang akan saya gunakan. Setelah wawancara, yang sudah saya rekam, saya harus buat transkripsinya, yaitu bentuk formal tulisan dari wawancara itu. Ini yang takes time sangat, misal wawancara 1 jam, maka mentranskripsinya bisa 3 jam, karena saya harus mendengarkan, juga harus sambil menulis.


So it’s begin, menyebarkan 550 kuesioner ke seluruh satuan kerja di kantor, oya sebelumnya juga mencari jenis souvenir yang cocok, yaitu beng-beng, karena saya suka beng-beng. Beli beng-beng di pusat perkulakan Indomaret di Kemayoran, beli sekitar lebih dari 6 dus, setiap dus ada 8 kotak, 1 kotaknya ada 20an, hehee… jadi pusat perkulakan itu memang khusus jual barang yang berdus-dus, untuk dijual lagi, pembelinya ya orang-orang yang punya usaha toko kelontong dan sebagainya.

Saya ke kantor bawa seluruh kuesioner, sementara untuk beng-bengnya saya bawa bertahap dan ditaruh di kantor saja. Beratnya, berat bangeet!! Pakai usaha dan tenaga sendiri tanpa bantuan OB, saya memang segan minta bantuan orang. Saya sudah pikirkan, berarti per satu satuan kerja atau unit Eselon II sekitar 20 kuesioner, 20 saja kok. Tapi ada puluhan eselon II. saya pun mulai memikirkan strategi, saya buat matriksnya per Eselon II, lalu ada contact person yang bertugas di bagian yang sama, namun ditempatkan di Eselon I.

Tak lupa juga sebelumnya membuat konsep email dan membroadcastnya ke seluruh staf kantor, jadi saya akan juga dapatkan isian kuesioner dalam bentuk softcopy. Back to kantor, saya bikin janji dulu dengan teman di satker, lalu saya bawa kuesioner dan beng-beng, misal di Eselon I itu ada 5 eselon II, jadi saya harus bawa 100 kuesioner, dibagi per 20-20, tak lupa juga beng-bengnya. Nah nanti teman saya itu yang akan mengantarkan saya ke setiap Eselon II.

Capek, capek ngomong, memperkenalkan diri, capek senyum, hahaa… menjadi introvert tipe INTJ-A (Architect-Arrogant) bisa sangat melelahkan jika ketemu orang, tidak hanya ketemu tapi senyum, ya senyum..!! 😔

Begitulah dari hari ke hari, menyebarkan kuesioner ke setiap orang yang lagi available di ruangan, mohon-mohon supaya ngisi, bercanda basa-basi, ngasih beng-beng, terus kita gak tau kan kapan mereka akan ngisinya, jadi kita titip ke teman kita tadi untuk pengumpulannya. Target 1 minggu sudah tersebar ya, lalu 2 minggu adalah waktu untuk mengumpulkannya.

Selama penyebaran kuseioner ya ada suka dan dukanya, sukanya jika memang orang-orang yang dituju ramah, dan dengan senang hati menerima, serta mengisi kuesioner, lalu gembira menerima beng-beng, seperti ada kebahagiaan tersendiri, hahaa… 😄

Dukanya itu ya jika orang-orangnya jutek, cuek, nerimanya males-malesan, saya juga kan gak tega ya, tapi yah oh come on, cuma gini doang gitu lho, cuma 10 menit, dapet beng-beng pula. Yang paling ekstrim dan bikin kesel ya kalau ditolak, jutek dan ditolak, gak banyak sih, cuma 2-3 orang, tapi ya kesel aja, bakal inget seumur hidup inget mukanya, apakah..


Rasanya mau balas dendam jika ada kesempatan di masa depan, awas ya kalau butuh saya, hahaa… 😀 ala-ala sinetron.

Tapi ya emang benar, pengalaman ini membuat saya mengerti betapa pentingnya pengisian kuesioner, betapa kita harus merasakan berada di sisi orang lain. Saya mungkin selama ini, sebelumnya tidak mengerti hal itu, ngisi kuesioner ya seadanya, cenderung gak serius, mungkin sebal juga. Padahal ini dibutuhkan orang lain.

Maka dari itu, saya berjanji jika ada orang yang minta bantuan isi kuesioner, ya saya harus bantu, harus serius, harus didukung, karena saya tahu betapa berat perjuangannya mulai dari menyusun, mencetak, menyebar, dan mengumpulkan, itu perjuangan yang BERAT sodara-sodara. Bagaikan..


Kemudian tiba saatnya mengumpulkan, jadi rentang 2 minggu itu ya bertahap pengumpulannya. Lalu selanjutnya apa? Kuesioner sudah terkumpul, softcopy melalui email juga sudah, terus ngapain? Buka-buka lagi deh buku statistik yang dibeli di Gramedia, maka kegiatan selanjutnya adalah melakukan TABULASI.

Jadi tabulasi adalah mengkonversi data jawaban kuesioner ke data angka, misal pertanyaan soal data responden, jawaban umur 20-30 tahun jadi 1, umur 30-40 jadi 2, dst. Intinya merubah jawaban menjadi kode. Kodenya bisa 1,2,3,4,5 atau a,b,c,d. Kemudian untuk jawaban pertanyaan substansi kan pakai skala likert, misal jawaban sangat tidak tahu nilainya 1, sangat tahu nilainya 5, tidak tahu nilainya 2. Juga misal jawaban untuk tidak setuju nilainya 2, sangat tidak setuju nilainya 1, sangat setuju nilainya 5, begitulah seterusnya.

Gunanya apa? Gunanya ya untuk menghitung, misal kalau untuk data responden, kita bisa tahu berapa banyak yang umur 20-30 tahun, berapa banyak laki-laki dan perempuan, berapa banyak yang berpendidikan S-1, semua itu pakai rumus countif di excel. Kemudian kalau untuk pertanyaan substansi kita bisa ukur berapa persen kepuasan responden, tingkat pemahamannya, tingkat pengetahuannya dsb. Selain itu juga dengan dikonversi ke angka, kita akan menghitung PENGARUHNYA sebagai HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT antar variabel, atau dengan SPSS pakai metode regresi.

Regresi yaitu menghitung seberapa besar pengaruh hubungan sebab-akibat suatu variabel terhadap variabel lainnya, pakai SPSS. Nah semua itu kan pakai angka, jadi kita harus konversi setiap lembar kuesioner, ke dalam tabel excel, setiap lembarnya..!! Satu per satu..!! 400an lebih..!! Hahaa…. Gilak gak tuh. Saya pun mentabulasi kuesioner dimanapun dan kapanpun, saya bawa ke kantor, ke kampus, ke mall, kemana saja pokoknya, hahaa…

Anda tahu betapa pentingnya kegiatan tabulasi jika sudah mengkonversi waktu mentabulasi kuesioner dengan kegiatan anda, dan saya mampu maksimal mentabulasi 20 kuesioner untuk waktu 1 jam, itu sudah paling cepat banget. Jadi kalau saya sudah bisa memprediksi nih, saya punya waktu luang 2 jam, maka saya bisa tabulasi 40 kuesioner. Atau saya mau tidur, tapi 1 jam dulu deh untuk tabulasi kuesioner, maka saya hanya dapat 20 saja. Atau kalau saya melakukan kegiatan sia-sia seperti menunggu, misal 2 jam, maka saya bersumpah serapah kesal karena telah menyia-nyiakan tabulasi 40 kuesioner, hehee…

Saya pun mentabulasi kuesioner di kampus, saat kuliah pelajaran yang lain, maklum kan saya juga masih sambil kuliah full 4 mata kuliah, jadi saya biasanya melipir ke paling pojok dan di belakang, kemudian mulai beraksi mentabulasi diam-diam. Hehee….

Capek memang, lelah, satu per satu kuesioner kita screening, tabulasi ke excel, oya sebelumnya kita tandain kuesionernya, kasih nomor sesuai urutan di excel, 1,2,3, sampai 400an..!! Dan rasanya senang sekali ketika sudah selesai, namun petualangan baru akan segera dimulai, kali ini lebih banyak menggunakan excel dan SPSS.

Di aplikasi excel kita rapihkan datanya, kita hitung tentang segala data responden, persentasenya, kemudian kita rata-ratakan setiap variabel, nah hasil rata-rata variabel ini yang akan dipakai untuk hitung regresi. Sebelumnya juga hitung normalitas, apakah data kita normal atau enggak dan layak atau enggak untuk dilanjutkan perhitungan. Kalau tidak normal wah wasalam, ulang lagi sebar kuesioner, mati aja deh, hahaa… 😅

Kalau tidak normal, ya lakukan normalisasi, dan ubah sudut pandang. Statistik adalah tentang sudut pandang, karena pada dasarnya yang diolah hanyalah sekumpulan data. Data itu belum menjadi informasi kalau belum dikasih sentuhan sudut pandang, ya kan.

Okey, utak-atik excel, export ke SPSS, cari nilai R Square atau keterpengaruhan berdasarkan hipotesis, misal kita buat hipotesis dulu A berpengaruh terhadap B, maka nilai R Square adalah persentase keterpengaruhannya, nilai beta adalah nilai jika A naik satu satuan, maka B akan naik sebesar Beta. fiiuuhh… gitulah ya pokoknya.

Hitungan paling rumit mungkin di statistik deskriptifnya, karena banyak yang harus diungkap sedetailnya-detailnya, misal untuk Variabel A punya 8 indikator, yang delapan-delapannya kita ungkap persentasenya, dan juga per identitas responden yang dibagi jenis kelamin, pendidikan, umur, dan sebagainya, wah pokoknya, banyak angka-angka kode berwarna juga untuk mewarnai misal yang nilainya dibawah 60 warna merah, yang dibawah nilai 80 warna biru muda. Pokoknya KA saya berwarna-warni, hahaa…

Setelah saya pikir, sepertinya ini waktu yang tepat untuk beli printer, setelah dihitung-hitung, lebih ekonomis beli printer, hahaa... printer yang tintanya pakai cairan gitu, ada tabungnya, namanya infuse ink, jadi lebih hemat. Pikir saya nanti kalau sudah selesai, bisa dijual lagi. Dan benar saja, setelah selesai proses semua ini, saya jual laku loh 50 persennya..!! tetap untung dibanding fotocopy.


Back to topic, kini saatnya menulis Bab 5 tentang Analisis dan Pembahasan serta Bab 6 Penutup, Kesimpulan dan Saran juga sambil sering konsultasi dengan pak dosbing, apa yang menurut saya sudah cukup, dosbing selalu bisa memberikan sudut pandang lain, minta ditambah dan ditambah, menulis dan menulis terus sampai detail, hehee… saya merasa DIPERAS dalam arti yang baik. Saya juga bingung ketika baca kembali KA saya, kok bisa ya saya nulis panjang lebar dan detail seperti itu.

Selain analisis, dosbing berpendapat bahwa yang harus dikuatkan dan diperjelas adalah di sub bab diskusi, nah disitulah kita harus memberikan pendapat, bahwa berdasarkan hasil-hasil yang sudah kita hitung apa yang bisa kita ambil, kita jawab kenapanya sambil dikaitkan dengan hasil wawancara dan rujukan paper atau buku. Setelah diskusi maka kita ajukan solusi berdasarkan ciri khas studi kasus organisasi, disitu harus jelas dan unik.

Lalu tibalah saatnya saya merasa cukup, bahwa yang saya tulis ini sepertinya udah banyak ya, lebih dari 120 halaman lho, capek pokoknya, haha…. Maka si dosbing ini langsung menghubungi sekretariat untuk memasukkan saya ke jadwal sidang. Wow..!! Saya bahkan belum daftar sidang dan sedang mengumpulkan keberanian, hehe… eh dosbing pengen saya sidang cepat-cepat..!!

Hanya 2 hari waktu saya untuk mempersiapkan segalanya menuju sidang, karena tiba-tiba dapet kabar saya akan sidang lusa, yang artinya saya harus sudah mempersiapkan 4 hardcopy KA lengkap dengan lampirannya, plus presentasi..!!

I was going crazy and shocked..!! Hahaa… saya butuh 30 menit untuk bengong, lalu kemudian barulah saya susun strategi apa yang harus saya lakukan. Pertama, saya harus perbaiki tulisan serapih mungkin, kedua saya harus print sebanyak 4 bundel hardcopy, dan karena banyak yang berwarna maka harus print sendiri pakai printer yang baru beli di rumah. Ketiga, membuat presentasi untuk 20 menit, harus cukup menjelaskan dari Bab 1 sampai Bab 6. Dan terakhir, membuat combat kit, semacam ringkasan jawaban dari kemungkinan-kemungkinan pertanyan yang akan diajukan.

Fiiuuh…. Pokoknya gak mengerti lagi deh pikiran udah seperti apa, melayang aja gitu, buru-buru selesaikan tulisan, lalu print 4 bundel hardcopy, dan mencetak itu, luamaaa banget ya..!! Hehee…. Jadi buat anda-anda yang megerjakan tesis, sisakan spare waktu untuk mencetak yah. Begitulah 2 hari saya habiskan untuk mencetak siang malam, sembari mencari jawaban dari kemungkinan-kemungkinan pertanyaan, yang walau kelihatan sepele, tapi kalau gak bisa jawab ya malu juga yah.

Misal pertanyaan apa itu statistik deskriptif, apa itu normalisasi, apa itu uji satu arah dan dua arah, apa perbedaan skala likert dan rating scale, apa itu nilai R Square, yah yang begitu-begitulah yah. Tak lupa juga pinjem buku perpustakaan dari Pak Wiryo staf sekretariat di perpustakaan terkait hal-hal yang relevan, pokoknya dibuat sesiap mungkin!!, hehee…

JRENG…JRENG…!! Tibalah saatnya sidang KA/Tesis S2 MTI UI tanggal 22 Desember 2016, hari Kamis, juga bertepatan dengan Mata Kuliah e-Government, jadi sesudah sidang saya tetap masih harus kuliah, hahaa…. Sidangnya sekitar jam 4-5 sore, dan harus sudah ada di tempat 1 jam sebelumnya. Saya sudah mengambil cuti selama 1 minggu untuk fokus mengurus penyelesaian tulisan KA, eh dapet bonus sidangnya juga, hehee…

Deg-degan.. sangat, jadi pada hari itu juga banyak yang akan sidang, kebanyakan dari semester yang lalu, saya menunggu orang yang sedang di dalam, dan ada juga yang akan sidang setelah saya, semua menunggu dipanggil oleh sekretariat. Orang yang sedang sidang sebelum saya, ketika keluar dan sudah selesai langsung diberi ucapan selamat, karena ya secara de facto sudah lulus, tinggal nunggu nilai aja, lalu ditanya-tanya tadi gimana, ngapain aja, ditanya apa saja, dan lain sebagainya. Saya?

Akhirnya nama saya dipanggil, dan saya merasa..


Saya sudah siapkan hardcopy dengan berbagai macam posted-it untuk menandai hal-hal yang penting, juga sejumlah buku-buku perpustakaan juga sudah siap, kemudian handphone juga disiapkan untuk timer 20 menit, supaya saya tetap aware terhadap waktu presentasi. Di dalam ruangan ada dosbing dan 2 orang penguji, 1 orang penguji saya kenal, bapaknya baik, lucu dan ceritanya selalu kekinian dan menginspirasi, yang 1 lagi saya tidak kenal, mungkin karena tidak pernah mengajar di kelas saya.

Deg-degan masih donk, padahal udah tua yah, hahaa… masih aja deg-degan, gitu kata Pak Ganda, staf sekretariat MTI. Saya, yang sudah pernah tinggal di Eropa selama 3 tahun, sudah pernah menyetir 600 Km pulang pergi ke Milan melewati terowongan menembus gunung yang terpanjang di Eropa, masih saja deg-degan…. Hahaa…. 😋

Dalam hati saya, ya sudah, whatever will be, will be, mau bagus atau jelek, yang penting sudah selesai. Saya selalu berkata begitu dalam hati ketika dalam situasi menegangkan. Bahwa apapun yang kita hadapi, pasti akan berlalu juga kan, toh waktu tidak bisa dipercepat atau diperlambat, kita cuma bisa jalani saja.

Sidang dibuka oleh dosbing, eh dosbing atau salah satu penguji yah, pokoknya beliau menyampaikan susunan acaranya, dimulai dengan presentasi 20 menit, kemudian tanya jawab, jawab dengan jelas dan sesuai apa yang ditulis, maksimal waktu sidang adalah 1 jam, yak segera dimulai..!!

Langsung saja saya sampaikan salam pembuka, dan mulai presentasi, dari Bab 1 sampai akhir saya merasa lancar-lancar saja, saya tidak membaca layar, tapi bercerita sambil menghadap penguji, saya kira itu poin penting ketika melakukan presentasi, yaitu jangan membaca layar, namun bertatap muka dengan audiens.

Kemudian saya bilang selesai, dan si penguji bertanya sudah selesai? Karena tampaknya kecepatan, tapi bener kok udah mo hampir 20 menit, hehee… ini karena semuanya, dosbing dan penguji sibuk main hape, tapi bukannya tidak mendengarkan lho ya, mereka sangat menyimak. Lalu tibalah pertanyaan-pertanyaan itu. Pertama dari penguji yang saya tidak kenal.

Beruntung, pertanyaan-pertanyaan dari penguji pertama tidak terlalu sulit, saya kira memang untuk menguji apakah benar kita yang mengerjakan, jadi sebenarnya jawabannya memang sudah ada di slide dan tulisan, kadang saya rujuk dengan tulisan di halaman sekian, atau jika ada di slide saya tunjukkan slidenya, begitulah, tampaknya untuk menguji sisi mental kita. 

Pertanyaannya misal keterkaitan antara Research Question (RQ) dengan kesimpulannya, apakah kesimpulannya menjawab RQ? Coba tunjukkan data dan hitungannya, kemudian ditanya rujukan-rujukan papernya, apa paper yang paling utama. Kemudian apa implikasi dari penelitian ini, apa harapannya? Kemudian apa yang bisa ditambah untuk penelitian selanjutnya.


Alhamdulillah pertanyaan penguji satu selesai bersamaan dengan Adzan Maghrib, dan seharusnya dilanjut dengan istirahat sholat, tapi semuanya gak mau, dilanjut sidang saja dengan sholat yang bergantian, jadinya sepi deh. Tapi ini justru keberuntungan. Untungnya adalah penguji jadi ingin cepat selesai, ya sama pak saya juga ingin cepat selesai, hahaa… 😆

Kemudian lanjut dengan pertanyaan dari penguji kedua, dia bilang sih baik-baik aja, cuman kenapa di cerita organisasi dan latar belakang gak ada tentang Peraturan Menteri terbaru terkait dengan topik penelitian? WOW..!! si penguji ini sangat mengerti sekali tentang kondisi lingkungan organisasi saya, secara sering diminta sebagai konsultan, dan juga banyak alumni yang jadi teman baik beliau yang juga staf di organisasi saya.

Yah jadinya hal itu menjadi masukan untuk ditambahkan ke tulisan saya, istilahnya revisi. Lalu apa? Lalu SELESAI..!! iya selesai, hanya 30 menit saja, rasanya juga tidak percaya. Teman dan orang-orang yang duduk di bangku penonton juga tidak percaya saya menyelesaikan sidang hanya dalam waktu 30 menit..!! saya terperangah tak percaya, beneran kah? Ternyata benar. Segera saya rapihkan meja sidang, dan bawa semua buku dan senjata-senjata saya keluar ruangan untuk menunggu.

Ceritanya para dosbing dan penguji sedang berdiskusi untuk menentukan kelulusan saya, dan ada berkas-berkas yang harus ditandatangani, misal form revisi yang berisi catatan-catatan dosbing dan penguji. Jadi mereka bisa coret-coret di tulisan saya, atau tulis di form. Hal itulah yang menjadi dasar revisi tulisan. Kemudian saya dipanggil lagi masuk ke dalam.

Saya dinyatakan LULUS..!! lalu menerima form revisi dari dosbing. Saya keluar lagi, lalu ditanya-tanya oleh teman tentang pengalaman sidang tadi, jujur saya masih melayang dan tidak percaya. Diantaranya ya itu, cepat sekali..!! hehee… hal pertama yang saya lakukan ya tentu bersyukur ya, Alhamdulillah, sholat magrib, makan secepatnya, kemudian ikut kuliah lagi. Teman yang sedang kuliah tidak tau kalau saya barusan sidang, karena kuliahnya ini gabung sama anak semester I yang masih unyu-unyu.

Saya pulang dengan perasaan LEGA..!! perasaan paling lega dalam sejarah hidup saya, atau nomor 3 ya, yang pertama itu setelah selesai sidang Tugas Akhir Diploma III Teknik Elektro Politeknik UI, yang ke-2 setelah selesai sidang skripsi S-1, hahaa… Sepanjang jalan senyum terus, pokoknya malam ini harus menjadi malam dengan tidur ternyenyak saya semenjak kuliah satu setengah tahun yang lalu. Alhamdulillah… Alhamdulillah…. Tak berhenti saya ucapkan...


Revisi adalah 1 minggu, dan saya membuat form revisi berisi catatan apa saja yang menjadi arahan dan masukan dosen, dibuatkan dalam bentuk tabel dan ada kolom ceklist serta tanda tangan penguji. Saya harus perbaiki tulisan berdasarkan catatan dosbing dan penguji, kemudian setelah selesai ajukan ke penguji dan dosbing, nanti mereka semua akan memeriksa apakah revisi saya sudah beres atau belum.

Jika sudah beres ke penguji, barulah ke dosbing, jika sudah beres semua, maka semuanya, dosbing dan penguji menandatangani lembar pengesahan, yang mengesahkan tulisan saya sebagai Karya Akhir yang sah dan lulus, hehee… untuk tanda tangan lembar pengesahan juga gak mudah loh, saya sering banget bolak-balik karena kesalahan penulisan nama dan gelar. Ada salah satu penguji yang saya sampe minta tanda tangan 3 kali, hahaa…. Untung bapaknya baik banget.

Setelah dapat halaman pengesahan, maka saatnya membuat hardcopy jilid keras untuk diberikan ke perpustakaan, tapi itu juga tidak mudah, harus melewati serangkaian standar format perpustakaan. Pak Wiryo staf perpustakaan gak akan segan-segan mencoret tulisan kita kalau tidak sesuai standar, semua ada hitungannya, ada footer, kemudian kata-katanya, spasinya, paragarafnya, nomor halaman angka dan huruf, kemudian juga diukur pakai penggaris, wah rumit.

Jika sidang ala Pak Wiryo sudah lulus, barulah tulisan kita di halaman pengesahan dicap fakultas, tandanya sudah SAH..!! saya sidang tanggal 22 Desember 2016, dan beruntung dipotong libur natal dan tahun baru sehingga saya bisa punya waktu revisi yang panjang, sehingga tulisan saya dicap dan disahkan tanggal 4 Januari 2017, yiippieee..!! SAH..!!

Dengan ini maka saya sah untuk mendaftarkan diri wisuda, ya… WISUDA.. selama masa menunggu wisuda paling menyiapkan softcopy KA untuk perpustakaan dan pas foto untuk ijazah. Foto rumit juga sampai bolak-balik 3x ke foto studio, haha…. Jadi bajunya harus terang, putihlah ya, karena cap birunya harus kelihatan. Awalnya saya pakai jas dan dasi, dan tentu saja ditolak mentah-mentah.

Hari-hari menunggu wisuda tentu melakukan persiapan wisuda, dimulai dari pengambilan baju toga, merencanakan pakaiannya, transportasinya, lalu lokasinya, hehee… tidak tanggung-tanggung, wisuda UI itu 3 hari berturut-turut, 3 HARI..!! terbayang 3 hari bangun pagi-pagi terus, hahaa… 😃

Hari pertama adalah Wisuda Fakultas, ini wisuda khusus mahasiswa seangkatan dari S-1 sampai S-3 di Fakultas saya saja, yaitu Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom). Sejak pagi kami sudah bersiap-siap, saya, istri, ibu saya dan ibu istri juga kami boyong. Kan istri saya juga wisuda, lupa ya? Saya dan istri adalah sama-sama mahasiswa MTI UI, dengan angkatan yang sama, namun beda kelas.

Jadi semua yang saya ceritakan sebelumnya ya kurang lebih juga dialami oleh istri saya. Hanya saja dosbing istri saya ada 2, dan selalu available di Depok, jadi ya sering bimbingannya jarak jauh, pernah lho bimbingan via skype di saat kami sedang menghadiri undangan pernikahan sepupu, bimbingan sambil pakai kebaya jadinya, hahaa…

Back to wisuda hari pertama, yaitu wisuda fakultas. Semua tampak bahagia, senang, dan lega karena sudah lulus. Yang S-3, yang S-2, dan yang paling ramai adalah anak-anak S-1, UI gitu lho..!! ini adalah kampus impian saya sejak kecil, namun baru kesampaian di jenjang S-2, Alhamdulillah.

Kami sampai sejak pagi sekali, masih gelap sepertinya, karena kami sangat bersemangat untuk wisuda, hehee.. ibu kami berdua juga tak kalah heboh mulai dari awal memilih pakaian, sepatu, dan sampai di tempat pun heboh foto-foto. Segera saja kami berdua berganti pakaian toga, dan ibu kami duduk di tempat undangan.

Karena acara belum mulai, maka kami sekeluarga berfoto studio khas wisuda yang telah disediakan panitia, beruntung kami datang pagi sehingga bisa seperti itu, kalau tidak harus menunggu acara selesai nanti, sudah lepek kan jadinya, hehee… Kemudian acara dimulai dengan prosesi iring-iringan mahasiswa sesuai tempat duduk. Yang cumlaude duduk di depan, jadi tempat duduknya sudah ada nama-namanya. Saya dan istri terpisah dekat saja sih, gak terlalu depan juga. Padahal saya dengar IPK saya tertinggi, ternyata gak setinggi itu..uhuk..uhuk… 😋

Hal lain yang membuat saya excited adalah, mungkin ini pengalaman wisuda saya yang benar-benar wisuda. Waktu D-III tampaknya saya mengalami hal buruk, urusan keluarga, dan sampai pas wisudanya juga tidak bagus di mata saya, hahaa… maksudnya gimana? Mungkin karena kekurangan informasi kali ya, jadi wisudanya 2 hari, hari pertama gladi resik, dan hari kedua wisuda beneran.

Waktu D-III malah gladi resik yang kita dipanggil satu per satu, dan difoto..!! padahal baju masih biasa aja dan gak ada orang tua. Eh pas besoknya wisuda beneran malah gak dipanggil dan gak difoto padahal ada orang tua dan udah pake baju bagus juga, hahaa… 😃 bener-bener pengalaman buruk. Waktu S-1 saya tidak ikut wisuda, sudah malas duluan.

Nah, wisuda kali ini beda, saya sudah siap, kami sudah siap bertempur untuk tampil kece badai, dan juga saya sudah tanya-tanya temen yang pernah wisuda S-1 UI. Katanya akan dipanggil namanya satu per satu, disebutin judul KA-nya, dan status kelulusannya..!! wow..!!

Acara dimulai dengan biasa ya, sambutan Ketua Panitia, Dekan, Ketua Jurusan, dan Lulusan Terbaik yang ternyata anak S-1 Fasilkom dan IPK-nya nyaris 4. Yang pidato siapa? BAPAKNYA..!! hehee… lucu juga ya, dan sangat menginspirasi. Bapaknya pasti bangga sekali dengan anaknya, katanya dulu waktu anaknya masih kecil sering dibawa main ke UI, lalu diperkenalkan ke orang-orang bahwa anaknya itu akan menjadi lulusan terbaik UI, dan ternyata kejadian..!! selamat ya pak. saya sampai terharu..


Di setiap acara itu selalu ada persembahan musik dari artis-artis lokal Fasilkom, ada yang bagus, ada yang enggak, tapi semua fun saja sih, hehee…. Acara intinya adalah wisuda, yaitu pemanggilan mahasiswa, penyebutan status kelulusan, lalu menerima tabung dari dosen, foto, selesai, intinya itu aja sih. Dari S-3, sampai S-1. Ketika nama saya disebut, Yudhistira Normandia, dengan judul Karya Akhir bla…bla… dengan predikat CUM LAUDE..!! dengan nada yang sama ketika memanggil petinju, hehee…. Lucu, dan bangga.

Yang kita noticed adalah tidak ada pemindahan tali toga, tapi dikasih tabung, tabung yang harus kita balikin lagi setelah selesai foto karena akan dipakai mahasiswa berikutnya.

S-3 sudah, S-2 sudah, S-1 paling ramai karena paling banyak dan masih anak-anak juga kali yah. Setelah semua sudah dipanggil, kini dipanggil lagi untuk yang cum laude. Jadi bagi yang cum laude dipanggil lagi maju ke depan, S-3, S-2, dan S-1 untuk menerima medali cum laude dan berfoto bersama bersama dekan. Dan ini semua disaksikan oleh orang tua kami, bangga rasanya.


Medali di atas adalah medali sementara, karena katanya vendor yang mengerjakannya di senen, dan pada masa itu kawasan senen sedang KEBAKARAN..!!

Kemudian, belum berhenti sampai disitu, saya juga dipanggil lagi untuk ketiga kalinya karena termasuk dalam lulusan terbaik, walau saya merasa bukan lulusan terbaik sih, hanya IPK tertinggi. Kami menerima plakat yang menyatakan sudah berkuliah di MTI UI, sudah itu saja, tidak ada kata-kata lulusan terbaiknya, hahaa… 😉


Bangga rasanya… itu saja sebenarnya, dan orang tua kami juga bangga, tapi jangan lupa, masih ada 2 hari wisuda lainnya. Acara wisuda fakultas selesai, orang tua kami juga sudah lelah, dan katanya untuk acara besok tidak ikut lagi, baiklah, karena besok adalah acara wisuda se-UI yang pastinya akan sangat ramai, lagi pula tidak ada penghargaan yang diberikan kepada kami, nilai kami kurang tinggi se-UI soalnya, hehee…

Wisuda hari kedua adalah acara gladi resik wisuda UI untuk S-2 dan S-3, sementara S-1 ada di sesi pagi, jadi dalam sehari ada 2 kali acara wisuda UI, sesi 1 untuk S-1, dan sesi 2 untuk S-2 dan S-3. Waktu gladi resik kami di sesi siang, sementara besok kami di sesi pagi. Berkaca pada pengalaman wisuda D-III saya dulu di tempat yang sama, gladi resik itu latihan tapi serius, karena kami dipanggil satu-satu ke depan untuk menerima ucapan selamat dari dekan dan rektor, menerima tabung, berfoto dan selesai, bergiliran untuk semua fakultas loh..!! lama pokoknya.

Kami beruntung datang lebih awal, karena masih sepi, selain dapat parkir, kami juga bisa bebas berfoto dimana saja. Dan saya, jiwa selfie saya yang liar pun tak akan bisa dikekang, hahaa… saya ingat sayalah yang pertama memberanikan diri berfoto di.. PODIUM..!! 😅 kemudian barulah diikuti oleh orang-orang lainnya. Jadi kalau anda mau wisuda, datanglah lebih awal demi foto terbaik. 


Saya tidak ingat apakah nama kami juga disebut satu-satu, rasanya tidak ya, yang disebut hanya yang IPK tertinggi sefakultas, iya sefakultas, bukan sejurusan, syedih, hahaa.. jadinya nama saya tidak disebut. Kemudian seperti biasa ada acara musiknya, dan kali ini terdengar sangat profesional ya, karena anak UI memang banyak yang jadi artis kan ya. Sisa acara lain sambutan sana sini, ada kuliah umum, ada ikrar janji wisudawan. Inti dari kegiatan ini adalah FOTO yang akan diambil nanti sekalian dengan videonya.

Berikutnya wisuda hari ketiga, inilah wisuda benerannya, bedanya sama kemarin? Lebih membosankan sebenarnya, karena sudah tidak dipanggil maju ke depan satu-satu, dan sudah tidak ada sesi foto-foto. Jadi untuk apa? Kalau saya pribadi ingin mendengar lagu gaudeamus igitur, itu loh lagu wajib wisuda yang sering dinyanyikan di setiap wisuda, baik kampus dalam negeri atau kampus luar negeri.

Mau dengar lagu gaudeamus igitur? Klik disini.. 

Bagi saya merinding mendengarkannya, ketika masuk semester III, saya sudah ubah ringtone saya menjadi lagu gaudeamus igitur, semacam untuk menjadi motivasi supaya cepat lulus, hahaa... and it’s works..!! dan sampai sekarangpun ringtone saya masih gaudeamus igitur, hehee...

Namun, alangkah kecewanya saya ketika prosesi akademik, ketika rektor dan iring-iringan guru besar kampus tidak dibarengi oleh lagu gaudeamus igitur, melainkan lagu bagimu negeri. Ya.. mungkin.. entahlah... apakah dianggap tidak nasionalis? Mungkin aturan baru dari pihak berwenang? Mungkin. Ya sudah, nikmati saja rangkaian acaranya.

Sebenarnya banyak mahasiswa yang tidak ikut wisuda hari ketiga, karena memang ya tidak melakukan apa-apa, kecuali kalau anda pemilik IPK tertinggi sefakultas karena akan dipanggil maju ke depan, worthed lah ya. Namun tak apa, tetap pengalaman yang berharga bagi kami.

Setelah selesai semua rangkaian acara wisuda, maka semua mahasiswa melakukan satu kegiatan akhir yang wajib, yaitu berfoto dengan latar gedung rektorat UI, gedung fenomenal yang menyihir anak muda Indonesia untuk berlomba-lomba masuk UI. Rasanya tidak akan pernah kehilangan rasa keren dan bangga jika orang tua memiliki foto anaknya wisuda dengan latar belakang gedung rektorat UI dan dipajang di ruang tamu, ya, kami melakukan itu, seperti  ini...


Setelah puas berfoto-foto, selfie, berdua, dengan teman seangkatan, maka semua mahasiswa ketawa-ketawa, semua wajah menunjukkan ekspresi bahagia, senang. Seakan tidak mau cepat pulang dan tidak mau cepat kehilangan momen ini.

Wisuda adalah salah satu hari yang paling bahagia sepanjang usia. 

Berikutnya apa? Ya ke studio foto lah, hahaa... maka pada hari itu semua studio foto se-Depok dipastikan penuh dan mengantri. Saya ke studio foto di dekat rumah saya dan ketemuan dengan keluarga di sana. Kami berfoto dengan orangtua, adik, dan adik ipar, lengkap pokoknya..!! untuk apa? Untuk dipajang donk.


AKHIRNYA... selesai juga rangkaian tulisan saya tentang berkuliah di S2 MTI UI, untuk pribadi saya sendiri tulisan ini akan selalu saya baca untuk mengenang perjalanan saya ketika berkuliah disana. Berat memang, penuh perjuangan, dengan keringat, darah (mimisan), dan air mata. Momen bersama teman sekelas, teman seangkatan, dosen pengajar, penguji, dan dosen pembimbing akan selalu menginspirasi saya.

Terakhir saya kutip dari status FB saya dalam rangka memperingati 1 tahun sidang sebagai berikut: 

“S2 adalah tentang problem solving, dengan masalah dan solusi yang harus nyata. S2 adalah tentang membangun relasi, diskusi, wawancara, dan menggali ide dari setiap pikiran orang-orang. Maka lanjutkanlah sampai S2 kawan, jika ada kesempatan” 

Untuk khalayak, mohon ambil baiknya dan jangan tiru yang buruk, jangan ditiru yah, please.. hehee...  😏

Terima kasih sudah membaca..

NB: benar kata asdos MPPI, selepas kuliah, kita akan kebingungan menghabiskan waktu malam, karena sudah tidak ada kerjaan, tugas, atau yang lainnya. Yang ada kita akan bengong, mungkin harus kuliah lagi, lanjut ke S-3?
(trus, Dhis...?!!)

20.6.17

Semester III - MTI UI

Semester II berlalu, gak terasa udah 1 tahun, 1 tahun yang lalu kita OMB, kita berjuang di SIMAK-UI, wkwkk... waktu itu gw liburan ke.. eh kemana ya? Liburan apa engga? Duh lupa, yang jelas klo pun liburan pasti gak tenang, karena dah terbayang KA yang musti kita tulis di semester III, dan mikir dapet pembimbing yang mana? Ah entahlah, yg penting nikmatin aja liburannya, tapi kemana? Lupa?!

Pengalaman super baru pas liburan dari semester 2 ke semester 3 adalah.. ngisi IRS..!! alias milih mata kuliah yang kita pengen, wow..!! ya ampun, ini pengalaman pertama bagi gw, dari D3, trus S1 semuanya sistem paket, udah ditentuin dari sononya, tinggal jalanin apa yang udah ditempel di jadwal pengumuman. Deg-degan rasanya, wkwkk... jadi karena banyak mata kuliah yang bisa kita pilih, dan kita musti milih 3 aja, selain itu 1 matkul wajib. Kita musti pinter-pinter milih mata kuliah, harinya, jamnya, dan dosennya juga, semua itu jadi bahan pertimbangan, dan musti cepet-cepetan juga, karena maksimal 25 atau 30 orang gitu, klo udah lebih gak bisa lagi, dan klo yang daftar di matkul itu kurang dari 15, matkulnya bakal dibatalin, nah loh, hehee... jd mikirnya ini kira-kira ada peminatnya gak ya, ini orangnya masih cukup gak ya, gitu... lucu lah.

Sembari kuliah juga gak tenang mikirin soal proposal KA, alhamdulillahnya dapet MPPI A maka berhak mengajukan proposal KA Bab 1-3, tapi kapan? Denger-denger sih sekitar 2 minggu setelah perkuliahan dimulai, rasanya lama betul nunggu pengumuman di SCELE. Yah meanwhile kita bikin proposal KA, tapi apa? Hhmm.... klo judulnya X, kayaknya bakal dapet dosbing killer itu, klo judulnya kita-kira soal analisis kepuasaan dsb, pasti dapet dosbingnya ini itu, hahaa... yah pokoknya semua sudah bisa dibayangin lah.

1. E-Business

Dari namanya sih keren ya, E-Business, tapi klo diterjemahin namanya jadi Perdagangan Elektronik, hehee... gak banget sih, kayak dagang di Glodok atau Two Mango. So overall, kita belajar tentang penggunaan TI untuk berbisnis. Mulai dari hulu yaitu memikirkan tentang supply, lalu proses, lalu ke hilir yaitu selling, yang semuanya menggunakan TI. Intinya sih, tentang online shop ya, hahaa... yah pokoknya tentang penggunaan TI untuk menggerakkan bisnis, baik yang online ataupun offline. Menarik banget kuliahnya, dosennya juga eksentrik dan update banget, kekinian lah si bapak YGS itu. Dia tau banget apa yang sedang trending saat ini, online shop apa, barang apa yang lagi laku, artis siapa yang lagi viral macam awkarin dan younglex, wow..!! kuliah dengan bapak itu selalu eye opening terhadap isu-isu terkini pemanfaatan media sosial.


Belajarnya text book banget, judul bukunya digital business, daffey, pas ujian juga open book, santai lah, gak ada tugas apapun, cuma tugas pas terakhir aja sih ada semacam bikin PPT, cuma presentasi aja. Intinya kuliah ini tentang.. penggunaan TIK untuk berbisnis, well itu terdengar klise dan sangat general ya. Intinya tentang start up dan bagaimana start up bisa survive dengan memanfaatkan TIK, baik infrastrukturnya, proses, dan strategi marketingnya.

Kuliah ini mengajarkan bagaimana kemajuan TIK di berbagai bidang merubah cara kita bertukar informasi, dan perubahan itu juga berdampak terhadap cara kita berbisnis. fenomena media sosial dan inbound marketing, dimana orang yang malah mencari sendiri barang/jasa yang dia inginkan, menjadikan kemampuan pengelolaan TIK dan marketing sangat utama dalam membuat bisnis kita survive.


Nah, jadi apa itu e-commerce dan digital business? Untuk jelasnya liat gambar aja kali ya. Digital business itu bagaimana perusahaan menggunakan TIK dan media untuk meningkatkan competitiveness melalui optimasi proses internal mulai dari supplier sampai selling unit. Sementara e-commerce adalah segala pertukaran informasi secara elektronik antara organisasi dengan pihak luar, baik ke arah supplier, dan ke arah selling, itu sih simpelnya. Jadi e-commerce adalah bagian dari digital business. Jadi ada online shop yang dia full digital business, misal dell. Ada juga yang hanya e-commerce, ya hanya jual saja, sementara suppliernya belum di-TIK-kan juga ada.




Kemudian tentang marketplace, alias pasar, ada banyak jenis-jenis marketplace. Matkul ini agak ngawang-ngawang ya, alias ya barangnya gak keliatan, tapi yang cuma bisa dibayangin yaitu sejenis website, heheee.... intinya apapunlah website itu ya bisa dikategoriin di marketplace ini, apakah search engine, affiliate, sejenis tokopedia, bukalapak, aggregator, website penghimpun misal trivago, semua-semuanya itu ada kategorisasinya, dan kategori itu menentukan apakah bisnis kita ke depan akan survive atau enggak.


Trus ada bentuk revenue, ya kita musti tentuin juga cara kita dapet duit gimana, apakah dengan iklan, per klik, per lihat, per proses de el el banyak banget. Kemudian tentang digital business infrastructure, misal kita harus memikirkan mau di platform apa, apakah PC atau mobile, andorid, atau IOS. Media sosial yang seperti apa, apakah cukup twitter, FB, instagram? Gaming platform, email platform, compliance terhadap peraturan terkait dll. Selain itu bagaimana domain dan URLnya yang catchy dan dapat bertahan untuk waktu yang lama. 

Ada juga tentang lingkungannya, e-Environment, gak jauh-jauh dari SLEPT ya, Social, Law, Environment, Politic, and Technology. Ya intinya kalau bikin iklan di negara yang gak mahir berbahasa inggris ya musti bahasa lokal. Kalau di negara itu iklan kondom masih tabu yang musti dilokalisasi atau kustomisasi. Yak kayak-kayak gitu lah... (slogan YGS).

Efek samping yang dari matkul ini adalah kita musti belajar di LAB soal kata yang gw baru denger selama kuliah, yaitu ERP (Enterprise Resource Planning), somehow, gw gak gak tau itu apaan, dan selama kuliah dari semester 1 klo denger kata itu yang gw inget adalah Electronic Road Pricing, sehingga gw harus selalu googling setiap denger kata itu, hahaaa.... dan gw terkejut betapa gw enggak tau, tapi temen-temen gw tau, dan yang gak tau sudah dipastikan PNS, wkwkkk... Jadi ERP itu adalah aplikasi yang mengintegrasikan aplikasi-aplikasi atau proses-proses bisnis di dalam organisasi, jadi di dalem ERP udah ada modul tentang kepegawaian, keuangan, penjualan, marketing dll yang bisa copot pasang dan dikustomisasi. Intinya, perusahaan-perusahaan besar macem astra, honda, bank, pastilah punya ERP, dengan ERP ga usah bikin aplikasi-aplikasi lageeee... buseeett, kenapa PNS kagag tau yak?!!! Karena selain mahal, programmernya juga langka. Ya ERP punya bahasa pemrogrammannya sendiri. Nah di MTI, kita belajar nge-LAB aplikasi ERP yg namanya SAP. Intinya SAP adalah.. sangat tidak user friendly!! Tampilan jelek, tapi somehow ya terkenal banget itu aplikasi SAP, mahal pulak. Heheee....




Oke terakhir soal kuliah umum dan tugasnya. Gw seneng banget dan merasa eye opened. Kuliah umum soal start up, narasumbernya anak muda bergaya selengean yang kerja di perusahaan sejenis venture. Perusahaan itu mengumpulkan uang dari investor untuk diputar menginvest start up – start up yang mulai menjamur di dunia. Dia bilang uangnya gak terbatas, you can write the number, bebas..!! gilak gak tuh!!. Apapun ide lo, apapun target lo, dateng aja ke perusahaan dia, dia bakal analisis layak apa enggak, klo layak bakal dapet jutaan dollar buat ngembangin start up, tapi dia musti hadir di setiap rapat dan jadi pemegang saham. Gw kurang ngerti gimana caranya, penjelasaannya gak detail, lebih ke masalah kepemimpinan sih yah, dan ide.

Jadi katanya start up itu didesain utk cepat berkembang, klo idenya bukan cepat, ya bukan start up. Pembagian keuntungan juga gak jelas, lo bisa aja bikin ide start up yg murni bantu orang awalnya, nanti dengan kepemilikan user yg banyak ya itu start up bisa dijual, so gak selalu ngejar untung, dan venture juga gambling, katanya dari 10 start up, yg berhasil dan untung cuma 1, sisanya rugi!! Contoh start up yang masih rugi kan macam go-jek, grab, dll. Dan venture menerima risiko itu..!! gw curiga investor-investor start up sebenarnya make uang haram atau money laundring, karena si narasumber gak mau ngebuka investornya siapa aja, ya kan? Cuci uang emang gitu kan caranya, hahaaaa....

Tugasnya bikin analisis start up, membuat model bisnis, semacam proposal yang bakal kita presentasiin untuk perusahaan venture. Jadi kita memilih start up yang udah ada, kita tanya-tanya tentang apa aja sebenernya value perusahaan, apa core bisnisnya, partnernya siapa aja, segment pasar, pendapatannya dari mana aja, susunan organisasinya apa. Bener-bener mencerahkan ya. Banyak banget start up menjamur yg isinya anak muda, dan ide-idenya out of the box. Ada lah start up soal bawang dijual per 5 Kg untuk melawan tengkulak, ada juga start up tentang cari jodoh, tentang jual daging langsung ke konsumen, hahaa.... intinya start up itu ada untuk melawan model bisnis konvensional yang banyak rantai dan banyak tengkulak. Kemudian di start up itu strukturnya gak kayak PNS ya, mereka ada CEO, CIO, CTO, COO C apalah-apalah.




Begitulah anak muda, kerjaan gak jelas, pake kaosan mulu, sneakers, kayak gak mandi, but hey, mereka lebih kaya dan kartunya ada C apalah-apalah. Dunia emang aneh...

2. Manajemen Risiko 

Matkul manajemen risiko ini menarik juga, selain karena udah ngincer buat KA soal manajemen risiko sejak semester 2, juga karena gw gak bisa coding!! Hehee... jadi buat orang TI yang gak bisa coding, ya lo cuma bisa berharap di aspek keamanan alias satpam alias security. Nah, pertama yang paling jelas adalah, namanya itu RISIKO ya!! Bukan RESIKO!! Oke? Hehee... belajarnya asik, sesuai buku banget, judulnya managing risk in information systems, darril gibson. Dan buku itu jadi buku acuan gw prioritas nomer 1 selama pembuatan KA. Dosennya pun eksentrik banget, muda, banyak pengalaman, pernah kerja di IBM USA, wah banget, heran kok pulang ke indo ngemis-ngemis jadi konsultan, well gak ngemis sih, tetep aja dateng ke perusahaan ngarep dapet proyek. Mungkin karena gw PNS jd gak masuk akal sih, gw sukanya zona nyaman, hahaaa... tapi ya pengen buat jadi konsultan juga, duitnya banyak kali ya?




Anyway, jadi apa itu risiko? All about possibilities, atau likelihood, jadi risiko adalah “kemungkinan kerugian yang akan terjadi ketika ancaman mengeksploitasi kerawanan” duaarr..!!! itu dia..!! KEMUNGKINAN..!! matkul ini dibilang abstrak iya, dibilang nyata iya juga, karena penting banget. Segala hal itu ada risiko ya, aset, informasi, kegiatan, proyek TI, pengembangan aplikasi, pemeliharaan, operasional, itu ada risikonya, dan risiko itu adalah kemungkinan, dan kemungkinan itu gak bisa dikontrol!! Misal bencana alam, banjir, gempa, trus kena data center, trus aplikasi down, trus lo bengong aja gitu karena bencana alam gak bisa dikontrol? NO..!! If you fail to plan, you are planning to fail, and if you can’t control something, JUST MANAGE IT..!! jadi ya musti dikelola, alias manajemen.




Untuk menjelaskan lebih lanjut tentang manrisk (manajemen risiko) gampang, tinggal breakdown aja dari definisi Risiko di atas tadi. Misal ancaman itu adalah aktivitas/kegiatan yang bersifat mengganggu dan menyerang, kerawanan adalah kelemahan, seperti biasa paling kelemahan itu terkait PPT (People, Process, Technology). Risiko itu adalah kemungkinan ancaman mengeksploitasi kerawanan, nah kerugian adalah compromise of business function, entah kenapa bahasa enggrisnya compromise ya, gak cocok klo diterjemahin jadi kompromi, jadi kerugian adalah ketika fungsi bisnis/aset terganggu/down. Nah itu dia, lengkap kan! Ancaman sendiri bisa sengaja atau gak sengaja, misal bencana alam, gempa, banjir, kebakaran, yang intinya dari pihak luar atau alam. Nah kalau sengaja juga dari pihak luar sih, tapi sengaja, misal hacker, cracker, attacker, motifnya macem-macem, misal uang, dendam, atau emang cuma mau test ilmu aja untuk merusak.


Secara simple-nya sih, Ancaman  Kerawanan  Risiko  Kerugian  Mitigasi trus balik lagi deh, ya, Manajemen Risiko adalah sebuah Siklus yang tanpa henti yang harus dipikirkan dari waktu ke waktu. Setiap penambahan sistem/aset, maka harus di-update manajemen risikonya. Nah, ada banyaaak lembaga di dunia ini yang udah memikirkan tentang risiko, karena apa? Karena kejahatan cyber itu nyata!! Makanya banyak standar, prosedur, peraturan, dan, lembaga-lembaga yang mikirin tentang kejahatan cyber yg pada akhirnya ya tentang Manrisk. Misal aja ID-SIRTII, id-cert, NIST (National Institute of Standard and Technology), US-Cert, CVE list, dan lain-lain.

Manrisk ini juga terkait dengan complience, atau kepatuhan, karena memang aset yang harus dilindungi menguasai hajat hidup orang banyak, misal sektor perbankan, keuangan, kesehatan, pendidikan, dll. Maka orang amerika sana membuat banyaaak banget aturan-aturan. Gagal mematuhi, maka siap-siap lah di penjara. Misal Computer Security Act yang menghasilkan standar NIST itu, atau FISMA untuk melindungi komputer lembaga pemerintahan, hukum-hukum tentang privasi. 

Kemudian ada HIPAA untuk melindungi data pasien rumah sakit atau aspek kesehatan, Sarbanes-Oxley yang muncul setelah kasus Enron, agar setiap lembaga keuangan menyimpan dengan baik data keuangan dan harus bisa di-retrieve kapanpun, intinya menjaga integritas data agar tidak terjadi penipuan, CIPA untuk anak-anak sekolah, dan PCI-DSS, yaitu seperangkat aturan mengenai transaksi keuangan lewat kartu, apapun kartunya. Keren kan?

Oke tiba saatnya untuk developing risk management plan, so what is a plan? Jangan tertipu dengan kata ”plan”, walau diterjemahkan jadi “rencana” sebenarnya bukan berarti gak ada fisiknya, plan itu artinya DOKUMEN, ya dokumen, tertulis, dan ada kesepakatan. Apa isinya? Ya isinya sejumlah daftar risiko, ancaman, kerawanan, dampak, cara mitigasi, sampai kepada siapa yang bertanggung jawab. Banyak banget standar-standar untuk developing management plan, ada NIST SP sekian ya, lupa, hahaa... ada ISO 27005 khusus untuk manajemen risiko, masih satu keluarga dengan ISO 27001 tentang keamanan informasi. Ini dia gambarnya ya:



Yah beda-beda tipis lah ya, satunya dari amerika, satunya dari eropa, cuma beda-beda bahasa dan istilah aja. Yang satu mitigasi, yang satu treatment, yah begitulah. Jadi intinya kita membuat daftar ancaman, lalu hubungkan dengan kerawanan, lalu kemungkinan yg terjadi, dampaknya bagaimana, sampai kepada nilai risikonya, trus kita pilih mitigasinya apa. It’s all about math, ada hitung-hitungannya. Risiko adalah kemungkinan*dampak. Nilai risiko yang tinggi tentu jadi prioritas untuk ditangani, kalau nilai risiko rendah ya nanti-nanti aja, yekan. Itulah yang dinamakan tahap Risk Assessment, atau penilaian risiko.

Risk Assessment (RA) ada metode kuantittatif, ada kualitatif. Kalau kualitatif itu tadi, cuma perkalian dari kemungkinan dan dampak, itupun cuma kira-kira aja apakah kemungkinannya sering, jarang, sedang, apakah dampaknya rendah, sedang, atau tinggi. Kalau kuantitatif ada hitung-hitungannya, bisa berdasarkan data yang disimpan, misal data down, dan juga dampaknya dalam kerugian uang. Jadi gunanya RA adalah untuk memprioritaskan risiko, untuk apa? Untuk membuat mitigation plan, rencana mitigasi. Setelah risiko-risiko tadi didaftar, nanti kelihatan mana risiko yang paling besar, yang kemungkinan sering dan dampaknya besar, nah, baru kita tentukan mitigasinya seperti apa, apakah akan diterima atau dibiarin aja, ditransfer atau diasuransikan, atau dilakukan sesuatu dengan memakai control atau countermeasure. Lalu dilihat, berapa biaya untuk implementasi control, waktunya berapa lama, dan kalau risikonya kejadian, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk UP lagi dengan kontrol itu, masuk akal gak antara biaya control dengan manfaatnya, jangan-jangan kerugian cuma seiprit tapi biaya control jutaan dollar, ya mending gak usah beli kan, sesederhana itu sih.



Oh ya, kerugian itu bukan cuma uang, tapi bisa juga misal reputasi. Kalau ada website pemerintahan, bank, atau perusahaan bonafide dihack misal website dideface gambar tak senonoh, atau uangnya dibawa kabur hacker, maka hancurlah reputasinya, konsumen bakal gak mau masuk lagi, karena terkait kepercayaan.



Oke lanjuuut.... Membuat mitigation plan tentu sampai detail ke pemasangan control, biaya, berapa lama, dan siapa yang bertanggung jawab. Oke, gw rasa udah selesai deh ini kuliahnya, udah lengkap kan semua, ada ancaman, kerawanan, risiko, kemungkinan, nilai risiko, dan mitigasi, tapi kok kuliahnya belum berakhir juga, haaa.... ternyata diulang lagi, yak, kita belajar lagi cara menganalisis mulai dari ancaman sampe mitigasi.

Cara menganalisis ancaman kita bisa mulai dari 7 domain of TI, kita bisa ambil dari aspek CIA (confidentiality, integrity, availability). Confidentiality misal hak akses, Integrity misal hacker, Availability misal sistem down karena DDOS. CIA-nya itu kita tembak ke masing-masing 7 domain of IT, kita bisa FGD atau brainstorming, atau pakai data pelanggaran informasi/down. Lalu cara menganalisis kerawanan/vulnerabilities lagi-lagi dengan FGD, data historis, tapi bisa juga dengan VA, vulnerability assessment atau penetration testing yang semuanya mengarah ke PPT. People misal social engineering, lack of security awareness. Process misal gak ada prosedur keamanan, bikin password yang lemah. Technology misal gak ada patch, gak ada antivirus, port-port yang terbuka, gak ada firewall. Lalu dibikin match deh, ancaman menembak kerawanan untuk masing-masing CIA dan PPT.



Setelah semua itu selesai sampai ke nilai risiko, saatnya menentukan control. Ada 4 jenis control, mencegah (firewall, IPS, IDS), mendeteksi (AV, SIEM, ARCSIGHT), mengelabui, dan memulihkan (backup storage). Tapi tak kalah penting dari control yang bersifat teknis (firewall, AV) dan fisik (CCTV, satpam, dll), adalah control administratif, yaitu kebijakan atau dokumen tertulis, misal kebijakan, aturan, standar, SOP, asuransi, pemeriksaan latar belakang pegawai, pelatihan kesadaran dll.


Oke mustinya udah selesai lah ya soal manajemen risiko, tapi ternyata enggak, malah naik ke level atasnya lagi, namanya contingency plan, atau rencana kontinjensi, apa itu? Jadi gak cukup dengan kita hanya memikirkan risiko dan mitigasinya, kita juga harus mikir kalau benar-benar ada kejadian, bagaimana memulihkannya? Nah sebelum kita memikirkan bagaimana memulihkannya, kita musti mikir, banyak banget mikirnya, hahaa... udah gitu mikirnya jadi ke belakang-belakang ya, begitulah, dari yang kecil remeh-temeh jadi ke yang besar, semacam bottom-up. Jadi, sebelum kita mikir bagaimana memulihkannya, kita membuat BIA (business impact analysis) yaitu dokumen berisi.. kalau manajemen risiko berisi daftar ancaman dan kerawanan, maka BIA berisi daftar fungsi-fungsi bisnis.



Dan fungsi-fungsi bisnis ini kita analisis berapa sih boleh down-nya, kalau down berapa kerugiannya, nanti hasilnya adalah daftar fungsi-fungsi bisnis yang amat kritikal yang layak untuk masuk ke program pemulihan, karena gak semua fungsi bisnis harus dipulihkan, tergantung tadi MAO (Maximum Acceptable Outage), misal ada yang 3 hari harus up, ada yang gak boleh down sama sekali, ada yang 4 jam. Nah kesemua itu masuk ke rencana pemulihan dan dapat menentukan strategi recovery-nya, apakah Disaster Recovery Centernya aktif-aktif full atau bergantian, atau mirroring.


Terakhir, ini beneran terakhir, kita naik ke atas lagi, jadi setelah manajemen risiko, kita ke atas mikirin rencana kontinjensi, lalu kita ke atasnya lagi membuat business resilience, resilience artinya membal atau tahan, jadi setelah diserang, bisnis kita bisa mengkerut untuk beberapa waktu untuk kemudian ke posisi semula, ibarat bola karet kali yak. Nah nama dokumennya adalah BCM (Business Continuity Management). Si BCM ini mengatur cara organisasi kita bekerja selama dan setelah terjadi krisis maha dahsyat, keren ya orang bule, udah mikirin beginian, hahaa... jadi klo krisis terjadi, tentu pekerjaan kita gak normal kan, tadinya pake komputer jadi pake kertas, tadinya data center deket, jadi pake data center yang jauh, nah itu semua membutuhkan pengaturan, mengenai siapa yang jadi koordinator, bagaimana rantai komandonya, fungsi bisnis apa aja yang masuk ke BCM, scopenya apa aja.

Semuanya kesepakatan sih, sebagus apapun prosedur, apakah itu manrisk, mitigation plan, BIA, atau BCM klo gak sepakat dan gak pernah disosialisasiin ya percuma. Semua plan-plan itu juga harus diupdate setiap ada perubahan aset, perubahan fungsi bisnis, perubahan infrastruktur, perubahan secara reguler, dan perubahan setelah testing!!. Ya, semua plan-plan itu harus ditesting, diuji, pura-puranya diserang, pura-pura down untuk melihat DRC-nya jalan gak, untuk kemudian jadi pelajaran apa aja yang harus ditambah ke plan tersebut. Semua pegawai harus patuh akan plan-plan itu dalam kegiatan training, testing, dan excercise. Fyuuuh, selesai, banyak ya, karena gw emang suka kayaknya yang berbau-bau keamanan, risiko, prosedur, intinya yang ada kepatuhan dan disiplin, hahaa..!!!

3. MPPTI (Manajemen Perubahan dan Proyek TI)

Kayaknya ini mata kuliah paling penting selama semester III karena ini adalah mata kuliah wajib, yang lain kan pilihan, hehee... oke, matkul ini secara namanya gabungan dari dua topik, ada manajemen perubahan dan manajemen proyek TI. Kenapa disatuin? Entah, dosen gak jelasin, gw musti dengerin rekaman dari kelas sebelah yang dosennya si bapak fenomenal itu. Katanya.. lupa... bentar gw cek lagi rekamannya

.. .. .. ..

Manajemen perubahan dulu ya, jadi dulu itu semua perusahaan kan gak pake TI, nah tiba-tiba harus pake TI maka akan ada yang berubah, yang dulunya TI sebagai support, kini TI harus menjadi enabler suatu product dan process. Kenapa harus di-manage? Agar bisa bertahan dengan cara beradaptasi, yaitu dengan cara merespon perubahan itu sendiri, kesuksesan merespon perubahan akan membawa organisasi bertahan. Jelas kan? Hubungan dengan Proyek TI adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk mengeksekusi strategi TI supaya bisa berubah dan merespon perubahan, agar dapat memenangkan persaingan.


Manajemen proyek TI adalah cara atau bagian dalam manajemen perubahan. Hal ini merupakan benar-bener baru bagi gw. Karena dalam dunia PNS, proyek TI itu ya pengadaan, lelang, penawaran, bikin spesifikasi teknis dll. Nah di matkul ini kita seakan-akan sebagai vendor yang bikin aplikasi, bikin alat, nawarin pemasangan alat dsb. Dan ternyata ribet, gak seperti yang kita bayangkan, banyak proses, standar, prosedur, dalam proyek TI. Dan lagi-lagi yg namanya standar dan prosedur tuh gak jauh-jauh dari yang namanya DOKUMEN, ya, kita belajar PMBOK (Project Management Body of Knowledge) semacam best practice langkah-langkah apa aja, form apa aja, dan apa-apa aja yang harus dipikirkan ketika pengadaan proyek TI. Disini Proyek TI biasanya adalah tentang pembangunan aplikasi ya, software engineering, tapi bisa juga pengadaan alat, pemasangan alat, kegiatan TIK, pokoknya segala hal yang bisa dinamakan PROYEK.

Selain PMBOK, ya kita belajar dari slide dosen aja, hasil copas dari buku fenomenal ITPM (IT Project Management) Marchewka. Ke depan, kita akan mengingat PM sebagai Project Manager atau Project Management, bukan Prime Minister, hahaa... Jadi kenapa PM itu penting? Karena belajar dari era software chaos era 90an sampai sekarang, bahwa rata-rata penyelesaian proyek TI selalu telat, karena masa depan itu gak pasti, banyak hal yang bisa membuat sebuah proyek gagal, dan karena sumber daya perusahaan itu terbatas, Uang, Waktu, Orang, Ruangan, dan Perangkat lainnya itu terbatas jadi harus direncanakan sebaik-baiknya. Dan juga karena pepatah yang kurang lebih begini “9 orang Ibu tetap tidak bisa melahirkan anak dalam waktu 1 bulan” artinya banyaknya orang untuk menyelesaikan proyek tidak serta merta berpengaruh untuk selesai dengan cepat.


Sehingga butuh disiplin ilmu baru bernama PM untuk merencanakan proyek TI, merencanakan berapa sumber daya yang dibutuhkan, membuat komitmen diantara stakholders, memperjelas job role, dll. Kan kalau kita membuat penawaran pembuatan aplikasi pasti kita nyatakan kita butuh waktu berapa lama, uang dan orangnya berapa banyak, see..? it’s all about managing resources, and we will manage it through series of document or commitment. Ya kuliah ini, it’s all about membuat proposal penawaran proyek TI, hahaa...

Dan lagi-lagi sebagai PNS gw gak tau soal keberadaan profesi atau kegiatan PM ini sebelum ikut kuliah MPPTI. Ternyata seorang IT PM itu pekerjaan yang serius lho, ada sertifikasinya dari PMI (Project Management Institue) yang harus di-maintain dengan angka kredit pekerjaan sebagai PM. Dan bidang PM ini juga banyak menjadi tesis, misal contoh “faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan proyek TI pada perusahaan XYZ” benar-benar matkul yang eye opening.

Dalam IT PM ada 3 batasan (constrain) yaitu scope, schedule, dan budget yang digambarin dengan segitiga. Konon katanya kita cuma bisa mengontrol 1 sisi aja, misal kalau mau scope yang besar, maka jadwal dan biayanya mau gak mau jd ikutan melebar, atau kalau kita gak punya budget yang longgar, maka implikasinya scope dan jadwalnya jadi kecil. Memaksakan ketiga constrain ini diluar hukum alamnya, niscaya proyek akan gagal berantakan.




Dari gambar tahapan PLC (Project Life Cycle), dimulai dari fase inisialisasi dan konseptualisasi proyek, deliverables-nya Business case. trus ke fase berikutnya adalah Planning, deliverables-nya project charter and project plan, nah itu semua DOKUMEN sodara-sodara!! Haha... yak, di matkul ini kita cuma belajar sampe fase ke 2, tahap selanjutnya ya belajar sendiri, karena bakal lamaaa banget klo belajar semuanya, PM itu luas broh..!! dan profesi yang amat sangat menjanjikan bergelimang harta di perusahaan swasta.


Oke tahap pertama inisialisasi dan konseptualisasi, deliverable-nya business case, semacam proposal lah ya, mengenai kenapa harus ada proyek ini, apa MOV-nya (Measurable Organizational Value) yah semacam kecap-kecap mengenai tujuan utama proyek ini sehingga dianggap layak untuk diteruskan. Nah yang namanya measurable itu berarti musti terukur, maka di business case musti ditulis apa yang mau dicapai dan berapa, musti PAKAI ANGKA. Misal, dengan aplikasi yang mau dibangun ini, maka jumlah customer meningkat menjadi xxx, keuntungan akan break even point pada saat sekian, penjualan meningkat sebesar XYZ, atau banyaknya customer baru yang membuka aplikasi sebanyak XXX. Tapi semua musti logis dan terukur. Apakah akan membuat sesuatu lebih besar? Proses lebih cepat? Biaya produksi lebih murah? Atau apa? Tulis semua di business case, intinya ngecap!! Agar pimpinan manajemen bisa menilai apakah layak diteruskan, dan kalai diteruskan maka business case ini akan menjadi acuan tunggal TUJUAN proyek TI, kalau tujuan gak tercapai, maka proyek dinyatakan GAGAL.


Setelah business case disetujui, maka langkah selanjutnya adalah membuat Project Charter, semacam dokumen untuk meresmikan ini lho ada Proyek TI!! Yeay, resmi!!, semacam kick off meeting bahwa proyek akan berlangsung. Isinya ya tentang SIAPA mengerjakan APA dengan TOOLS apa, sumber daya yang diperlukan apa aja, waktunya berapa lama, dan BIAYA-nya berapa. Nah dari project charter ini lah disusun strategi untuk mengeksekusi sumber daya berdasarkan MOV yang telah dibuat di business case. Nah bayangkan, namanya aja sih project charter, tapi isinya beranak, misal nentuin scope, itu ada analisisnya lho, bikin scope statement, scope definition, WBS (Work Breakdown Structure), Scope verification dan control, itu baru SCOPE loh ya, belum biaya, tools, sumber daya manusia, dan yg gak kalah penting adalah BIAYA, semua ada analisisnya, ada templatenya, ada form-nya, sangaat lengkaaap..!! capek kuliahnya, hahaa...



Karena scope ini penting, proyek TI kita harus berdasarkan scope untuk memulai acuan jadwal dan biaya kan. Dan yang penting gw pelajari adalah = jangan cuma nulis scope yang bakal dikerjakan saja, tapi juga tentuin APA YANG GAK AKAN DIKERJAKAN juga. Itu berguna untuk mengontrol scope, kalau pun scope berubah, biasa PNS kan, ada form scope change request, musti dilihat masih sesuai dengan MOV gak, kalau enggak ya jangan disetujui, kalau disetujui, terima risikonya anggaran dan jadwal akan membengkak. Kemudian WBS, adalah proses membagi-bagi pekerjaan menjadi lebih kecil, pekerjaan-pekerjaan kecil inilah yang akan kita estimasi nanti biaya dan jadwalnya. Tekniknya banyak asalkan bukan guessmatting, alias nebak-nebak.



Ada metode delphi technique, semacam minta pendapat expert, lalu time-boxing, tiap pekerjaan ada alokasi waktunya sehingga bisa di-break down. Top-Down, dimana pimpinan menentukan biaya dan waktu, sementara bawahan menentukan WBS-nya. Bottom-Up dimana itung-itungan dimulai dari pekerjaan kecil, lalu diakumulasi, banyak deh ada COCOMO, Heuristic, Line of Code, dll. Scope sudah, WBS sudah, kini kita tentuin hal yang paling penting, yaitu SCHEDULE dan BUDGET. Intinya sih dari tadi gambar dan teknik kan ya, nah menentukan jadwal dan biaya juga pake gambar atau tabel.







Longest path adalah waktu paling lama, yaitu waktu tercepat agar project bisa selesai, jika kurang dari waktu terpanjang kemungkinan ada yg terlewat. tujuan cari critical path adalah: jika ada task yg mundur sehari dalam critical path, maka penyelesaian project juga mundur sehari. Kalau tasknya bukan di critical path, berarti boleh mundur sebanyak sampai jumlah hari critical path-nya tanpa memundurkan keseluruhan project.

Tapi namanya kenyataan gak sekaku itu, ada lagi metode lain yang ngasih buffer, jadi waktu penyelesaian proyeknya udah di-mark up dari awal supaya gak kelihatan telat di depan pimpinan, tapi tetap jadwal yang dikasih ke anak buah yang gak pake buffer, hehee.... pinter emang orang bule. Project schedule dan budget ini pastinya akan melewati beberapa iterasi untuk disetujui pimpinan manajemen sampai ada kesepakan akhir dan akan menjadi BASELINE PLAN.

Next kita belajar tentang Risiko Proyek TI, well gak ada perubahan signifikan sih dari yang kita dah belajar Manrisk, tetep tentang risk assessment, risk identification, risk monitoring and control, ujung-ujungnya kita membuat tabel daftar risiko. Nah kalau di Manrisk yang berat ke keamanan informasi dengan CIA-nya, kalau di risiko proyek TI kita membagi risiko dengan aspek kesuksesan proyek yaitu= Schedule, Budget, Scope, dan Quality.

Dari setiap aspek itu kita bedah apa aja ancaman dan kerawanannya, lalu dinilai secara kualitatif atau kuantitatif. Sebenernya kalau kita udah define scope, schedule, dan budget sebenernya udah lah ya udah selesai, hehee... tapi PMBOK ini emang annoying mengharuskan kita bikin banyak dokumen tetek bengek banget, jadi bakal ada tambahan dokumen yang namanya Project Communication Plan, yang mengatur cara Tim berkomunikasi, hahaaa... itu aja pake diatur lho, ada form dan templatenya, lalu ada Project Quality Plan, berhubungan dengan complience dengan standar yg dipake di perusahaan, misal CMMI. Lalu ada Project Managing Resistant, Procurement Plan, and Ethics and Leader. Itu semua jadi bumbu aja sih, ribet banget, ngantuk belajarnya, hahaa...


Terakhir Project Closing, musti diperhatiin bagaimana pergantian dari sistem yang lama ke yang baru, apakah langsung ganti, paralel, atau dibuat per fase. Terakhir closing pake rapat donk, ada evaluasi. Apa lesson learned yang bisa diambil dari Proyek TI tersebut. Oke DONE...!! selesai!! Hehee... 


Terakhir, pengajarannya memang buat mengantuk tapi tetap menarik bagi saya, dan saya tau ini adalah hal yang sangat penting untuk diterapkan di kantor. Karena kantor melakukan pengadaan proyek TI seadanya, sehingga implikasinya gak terdokumentasi, nilai apa yang di dapat, pengadaan yang lama mau dikemanain, gak jelas. Dan juga tertarik sih untuk ambil sertifikat PM, yah sebagai cadangan kalau mau keluar dari PNS, hahaa... tapi berat lah.

Dosennya eksentrik, namanya pak WCW, saking narsisnya dia punya website yang depannya WCW, bukan WWW, hahaaa... semua materi ajar dan tugas bisa didownload disitu, serta ada website satu lagi untuk kita bikin tugas business case dan project charter dan plan. Jadi intinya Proyek TI yang katanya banyak dokumen itu sebenernya bisa di-manage lewat website aplikasi PM, disitu kita bisa bikin segala hal mulai dari semua tahapan PM, gantt chart, WBS, Node, budget, kirim-kirim jadwal dan tugas antar tim, upload dokumen, notifikasi waktu, notifikasi pekerjaan sudah selesai apa belum, lengkap pokoknya

4. E-Government


Ini dia mata kuliah terakhir yg akan gw bahas sebelum tentang KA. Mata kuliah ini sangat PNS banget kan, electronic government, atau pemerintahan elektronis. Sebagai PNS yang bekerja di Satker pengelola TIK tentu penting memahami e-government. Agak kecewa sih ya, ternyata yang dipelajari terlalu mengawang-awang. Memang praktis sih, jadi bahan ajarnya mengambil langsung dari suatu badan UN (United Nations) yang menangani ICTD (Information and Communications Technology and Development) tumplek plek download dari websitenya langsung yaitu UN-APCICT, semuanyaaa.... sisanya ya tugas aja.

Intinya belajar tentang bagaimana pemerintah menggunakan TIK untuk mendukung percepatan MDGs (Millenium Development Goals) / SDGs (Sustainable Development Goals). Mengenai mengapa pakai MDGs dan SDGs gak terlalu dijelasin. Kebanyakan belajar tentang apa itu E-Government, apa layanan yang bisa elektroniskan, hubungan layanan pemerintah dengan bisnis yang lain, dan contoh-contoh E-Government dari berbagai negara.


Tadinya gw berharap belajarnya ya PNS banget lah, membumi di negara sendiri dan instansi masing-masing, belajar tentang Undang-Undang, Peraturan, Kementerian terkait yang berwenang untuk mengelola TIK dan sebagainya, seakan gw merasa penggunaan TIK tuh mustinya wajib dan terencana. Tapi ya apa daya, ternyata memang kenyataan di lapangan enggak seperti itu, penggunaan TIK masih berupa gimmick marketing pemerintah, kementerian, atau Pemda, gak dipake ya gak apa-apa, klo dipake yang bisa promosi dan koar-koar betapa hebatnya penggunaan TIK. Tapi ya sudah lah, kembali ke mata kuliah.


So definisi E-Gov ada di gambar di bawah ya, intinya adalah penggunaan TIK di pemeirntahan yang merubah/mentransformasi hubungan/pekerjaan dengan tujuan peningkatan-peningkatan layanan. Lalu mengapa dikaitkan dengan MDGs? Karena MDGs merupakan standar terukur pembangunan yang disepakati secara global. Target-target dalam MDGs yang kemudian dilanjutkan dengan SDGs selalu terukur, misal jumlah pengurangan angka kemiskinan dan kelaparan, jumlah anak yang bersekolah, jumlah penurunan kematian ibu dan bayi, dsb.




Jadi kita belajarnya tentang apa saja yang bisa dilakukan oleh penerapan TIK kaitannya dengan peningkatan perekonomian, kesehatan, pendidikan, kemitraan, begitu-begitu deh. Nah di sini kita pelajari bahwa proyek-proyek TIK untuk Pemerintah itu tidak mungkin dibiayai sendiri oleh pemerintah, karena sifat dari pemerintahan elektronis itu kan tidak mencari untung, malah mencari rugi. Di sinilah pentingnya konvergensi dan kemitraan dengan pihak swasta. Pemerintah dapat berperan melalui kebijakan dan insentif, untuk kemudian swasta dapat berinvestasi. Selain itu perlu dipikirkan tentang pemilihan Teknologi dan Isi konten.


Apakah teknologi mudah di gunakan dan kompatibel dengan infrastruktur yang ada? Apa saja komponen biaya teknologinya itu, bagaimana pengaturannya antar pemerintah-swasta. Lalu tentang isi konten, siapa yang mengelola? Untuk siapa? Apakah isunya relevan dengan masalah masyarakat dan mendukung MDGs/SDGs? Hayoo siapa yang mikirin? Gak ada, hahaa... belajar mata kuliah ini membuka mata gw bahwa pengelolaan TIK di negara kita ini masih ad hoc, gak terencana.

Kalau tadi belajarnya umum, sekarang kita belajarnya khusus. Jadi tujuan E-Gov adalah pemerintahan yang bisa online, tanpa kertas, berbasis pengetahuan (data mining/knowledge management), dan transparan, intinya 4 itu aja sih. Kemudian ya bagaimana contohnya dihubungan dengan relasi pemerintahan, misal G2C (community), dan G2B (business)? Layanan ke masyarakat itu ya misal tentang pembuatan KTP (klasik banget kan, hahaa...) kependudukan, pendidikan, penerimaan siswa baru, kesehatan, BPJS, perpajakan, izin-izin, perumahan online, pelaporan dengan QLUE atau LAPOR!, itu semua layanan E-Gov G2C. Kemudian yang G2B contohnya adalah yang mendukung iklim usaha untuk berbisnis, misal E-Procurement untuk pengadaan/tender, izin impor ekspor, izin produksi makanan, perpajakan, bea cukai, dll.

Kemudian kita belajar faktor-faktor kesuksesan penerapan E-Government dalam suatu negara, yaitu, proses bisnis yang jelas, struktur organisasi yang ada unit TI, dukungan kebijakan, dan kemitraan dengan sektor swasta. Dan selalu Korea Selatan yang menjadi contoh penerapan tersukses E-Government, katanya di Korsel itu semua udah online, 1 nomor penduduk bisa untuk kependudukan, kesehatan, pendidikan, semua-mua sudah didaftarkan otomatis secara online. Kalau sakit maka asuransi sudah terintegrasi dengan bank-nya, kalau ada anak yang harus sekolah tapi belum sekolah akan dinotifikasi harus sekolah dan langsung didaftarkan di sekolah terdekat.




Kemudian belajar tentang trend TIK yang bisa digunakan untuk penerapan E-Government, cuma pengenalan-pengenalan aja sih dan sedikit sejarahnya misal Clod Computing, penggunaan HP, permasalahan akses TIK dengan HP, satelit dan kesenjangan digital karena permasalahan akses TIK. Ada juga tentang konektivitas internet melalui kabel, wireless. Jaringan komputer, jaringan sensor IoT, RFID, penggunaan smart card di MRT hongkong.

Ya begitulah, kurang berguna sih, kita semua udah tau, dan slidenya agak ketinggalan, masa dijelasin tentang VoIP, Nokia E61, hahaa... sekarang jamannya instant messaging, udah bukan Voice lagi tapi udah Video Call, Video Conference secara instant via Hape.

Tata kelola internet menjadi penting dibahas karena merupakan akses TIK dan penerapan E-Government yang utama. Sekali lagi yang dibahas soal dunia, bagaimana Amerika Serikat terlalu memonopoli hak internet, DNS, dan IP. Oleh kareana itu dijelaskan bagaimana WSIS (Word Summit of Information Society) yang terdiri dari banyak negara berusaha menghadirkan tata kelola internet yang lebih adil. Dan sampai sekarang masih belum jelas, hahaa... bagaimana nanti jika IP versi 4 sudah habis, lalu penamaan root DNS, keamanan, intinya AS masih berkuasa dan negara lain tak berdaya, yah kita ikut ajalah, yang nemuin internet juga mereka kan.


Selanjutnya belajar tentang keamanan informasi, isinya gak jauh dari yang udah dipelajari di Manrisk ya, ya tentang CIA lah gitu-gitu. Ada macam-macam ancaman misal hacker, DDOS, social engineering, kemudian perangkat pencegahannya macam firewall, IDS, IPS, AV, yah begitulah, hahaa... bosen. Terus ke metode, dijelasin soal ISO 27001, nah kan sama lagi dengan mata kuliah Manrisk, hehee... ya mungkin berguna banget ya untuk mahasiswa yang gak ambil mata kuliah Manrsik, karena emang pilihan sih.



Tapi yang menarik adalah soal CSIRT (Computer Security Incident Response Team), karena kurang dipelajari di matkul Manrisk, malah di sini dijelasin panjang lebar soal sejarah dan kegunaan CSIRT dan bagaimana model-model struktur organisasi CSIRT. Jadi ada yang terdistribusi internal, terpusat internal, terdistribusi dan terpusat, dan terkoordinasi. Serta apa saja yang dibutuhkan untuk membangun CSIRT. Sebenarnya yang dipelajari di sini adalah saran dan rekomendasi untuk pemerintah/negara untuk membuat CSIRT nasional, tapi kenyataam gak seindah teori, hahaa... 



Terakhir tentang Pendanaan, yaitu pentingnya pemikiran bagaimana pendanaan proyek-proyek TI Nasional. Maka bisa menggunakan PPP (Public Private Partnership) semacam kontrak kerja antara pemerintah dan swasta. Keuntungannya lebih hemat, risiko dipindah menjadi milik swasta, keuntungan uang untuk swasta, sedangkan pemerintah mendapatkan keuntungan layanan bagi masyarakat. Udah lah ya, pelajaran selesai, hahaaa...



Tugasnya ini yang bikin pusing, tugasnya ada 2, yaitu tugas individu dari asdos dan tugas kelompok dari dosen. Nah asdosnya ini sangat mengagungkan sekali yang namanya paper, ya paper, dan dia akan sangat bangga sekali melihat namanya muncul di google scholar, katanya itu bukti tanda intelektualitas yang abadi yang bisa diberikan sebagai inspirasi untuk anak-cucu, WOW, gw gak kepikiran, hahaa... dia cerita bagaimana susahnya paper untuk di-accept oleh suatu konferensi internasional, sering ditolak, sering gagal, sering revisi, belum kalau gak ada duit, karena ternyata si pemakalah juga harus bayar agar papernya bisa diterima dan masuk jurnal database, dan itu bayarnya per lembar, pake dollar. Makanya paper itu halamannya pada sedikit, supaya hemat, hahaaa...

Sama asdos kita diajarin cara membuat paper, nah tugasnya kita membuat paper, metodenya SLR (systematic literature review). Semacam mengumpulkan berbagai definisi ya, misal kita mau ambil topik definisi e-government, trus kita cari tuh ratusan jurnal yang isinya ada definisi e-government, iya RATUSAN!! Hahaa.... nanti di-pivot lagi, dikompres, definisi yang sama ya disatuin, kita bikin tabel mengenai kriteria definisinya, ada berapa jurnal yang begini, ada berapa jurnal yang begitu, teruuus dikompres baru kita pilah-pilah, dan bikin kesimpulan. Yak, itu yg namanya systematic, capek kan.

Tugas yang dari dosen adalah membuat evaluasi pelaksanaan E-Government, topik apa aja terserah, tapi udah diarahin sih, jadi ada tentang Evaluasi Indeks PeGI (Indeks Pemeringkatan E-Government Indoensia), Evaluasi Indeks KAMI (Keamanan Informasi), Evaluasi faktor-faktor kesuksesan aplikasi, atau layanan E-Government, yang gitu-gitulah. Tentu yang gampang PeGI dan KAMI ya, karena udah ada standar checklistnya dari Kemenkominfo, bisa langsung keliatan nilainya, tugas kita hanya datengin tempat studi kasusnya, dan tanya setiap poin penilaian, dan itu buanyaaak banget. Penilaiannya pun berdasarkan bukti tertulis, gak ada buktinya ya nilainya setengah untuk setiap poin penilaian.

Yang bikin gw berkesan, gw berkesempatan studi kasus di BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) di Kemayoran untuk menilai Indeks KAMI. Untungnya udah ISO 27001, tinggak cheklist aja udah dan udah, hahaaa... hasilnya kita bikin presentasi dan paper. Pas presentasi gw bagi-bagi beng-beng bagi yang nanya, sekalian ngabisin sisa pas nyebarin kuesioner tesis. Yak habis ini gw bahas tentang kegiatan maha penting dan pusing dalam hidup gw, yaitu ngerjain KA, alias Tesis S-2 dan Wisuda.



(trus, Dhis...?!!)