CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

20.6.17

Semester III - MTI UI

Semester II berlalu, gak terasa udah 1 tahun, 1 tahun yang lalu kita OMB, kita berjuang di SIMAK-UI, wkwkk... waktu itu gw liburan ke.. eh kemana ya? Liburan apa engga? Duh lupa, yang jelas klo pun liburan pasti gak tenang, karena dah terbayang KA yang musti kita tulis di semester III, dan mikir dapet pembimbing yang mana? Ah entahlah, yg penting nikmatin aja liburannya, tapi kemana? Lupa?!

Pengalaman super baru pas liburan dari semester 2 ke semester 3 adalah.. ngisi IRS..!! alias milih mata kuliah yang kita pengen, wow..!! ya ampun, ini pengalaman pertama bagi gw, dari D3, trus S1 semuanya sistem paket, udah ditentuin dari sononya, tinggal jalanin apa yang udah ditempel di jadwal pengumuman. Deg-degan rasanya, wkwkk... jadi karena banyak mata kuliah yang bisa kita pilih, dan kita musti milih 3 aja, selain itu 1 matkul wajib. Kita musti pinter-pinter milih mata kuliah, harinya, jamnya, dan dosennya juga, semua itu jadi bahan pertimbangan, dan musti cepet-cepetan juga, karena maksimal 25 atau 30 orang gitu, klo udah lebih gak bisa lagi, dan klo yang daftar di matkul itu kurang dari 15, matkulnya bakal dibatalin, nah loh, hehee... jd mikirnya ini kira-kira ada peminatnya gak ya, ini orangnya masih cukup gak ya, gitu... lucu lah.

Sembari kuliah juga gak tenang mikirin soal proposal KA, alhamdulillahnya dapet MPPI A maka berhak mengajukan proposal KA Bab 1-3, tapi kapan? Denger-denger sih sekitar 2 minggu setelah perkuliahan dimulai, rasanya lama betul nunggu pengumuman di SCELE. Yah meanwhile kita bikin proposal KA, tapi apa? Hhmm.... klo judulnya X, kayaknya bakal dapet dosbing killer itu, klo judulnya kita-kira soal analisis kepuasaan dsb, pasti dapet dosbingnya ini itu, hahaa... yah pokoknya semua sudah bisa dibayangin lah.

1. E-Business

Dari namanya sih keren ya, E-Business, tapi klo diterjemahin namanya jadi Perdagangan Elektronik, hehee... gak banget sih, kayak dagang di Glodok atau Two Mango. So overall, kita belajar tentang penggunaan TI untuk berbisnis. Mulai dari hulu yaitu memikirkan tentang supply, lalu proses, lalu ke hilir yaitu selling, yang semuanya menggunakan TI. Intinya sih, tentang online shop ya, hahaa... yah pokoknya tentang penggunaan TI untuk menggerakkan bisnis, baik yang online ataupun offline. Menarik banget kuliahnya, dosennya juga eksentrik dan update banget, kekinian lah si bapak YGS itu. Dia tau banget apa yang sedang trending saat ini, online shop apa, barang apa yang lagi laku, artis siapa yang lagi viral macam awkarin dan younglex, wow..!! kuliah dengan bapak itu selalu eye opening terhadap isu-isu terkini pemanfaatan media sosial.


Belajarnya text book banget, judul bukunya digital business, daffey, pas ujian juga open book, santai lah, gak ada tugas apapun, cuma tugas pas terakhir aja sih ada semacam bikin PPT, cuma presentasi aja. Intinya kuliah ini tentang.. penggunaan TIK untuk berbisnis, well itu terdengar klise dan sangat general ya. Intinya tentang start up dan bagaimana start up bisa survive dengan memanfaatkan TIK, baik infrastrukturnya, proses, dan strategi marketingnya.

Kuliah ini mengajarkan bagaimana kemajuan TIK di berbagai bidang merubah cara kita bertukar informasi, dan perubahan itu juga berdampak terhadap cara kita berbisnis. fenomena media sosial dan inbound marketing, dimana orang yang malah mencari sendiri barang/jasa yang dia inginkan, menjadikan kemampuan pengelolaan TIK dan marketing sangat utama dalam membuat bisnis kita survive.


Nah, jadi apa itu e-commerce dan digital business? Untuk jelasnya liat gambar aja kali ya. Digital business itu bagaimana perusahaan menggunakan TIK dan media untuk meningkatkan competitiveness melalui optimasi proses internal mulai dari supplier sampai selling unit. Sementara e-commerce adalah segala pertukaran informasi secara elektronik antara organisasi dengan pihak luar, baik ke arah supplier, dan ke arah selling, itu sih simpelnya. Jadi e-commerce adalah bagian dari digital business. Jadi ada online shop yang dia full digital business, misal dell. Ada juga yang hanya e-commerce, ya hanya jual saja, sementara suppliernya belum di-TIK-kan juga ada.




Kemudian tentang marketplace, alias pasar, ada banyak jenis-jenis marketplace. Matkul ini agak ngawang-ngawang ya, alias ya barangnya gak keliatan, tapi yang cuma bisa dibayangin yaitu sejenis website, heheee.... intinya apapunlah website itu ya bisa dikategoriin di marketplace ini, apakah search engine, affiliate, sejenis tokopedia, bukalapak, aggregator, website penghimpun misal trivago, semua-semuanya itu ada kategorisasinya, dan kategori itu menentukan apakah bisnis kita ke depan akan survive atau enggak.


Trus ada bentuk revenue, ya kita musti tentuin juga cara kita dapet duit gimana, apakah dengan iklan, per klik, per lihat, per proses de el el banyak banget. Kemudian tentang digital business infrastructure, misal kita harus memikirkan mau di platform apa, apakah PC atau mobile, andorid, atau IOS. Media sosial yang seperti apa, apakah cukup twitter, FB, instagram? Gaming platform, email platform, compliance terhadap peraturan terkait dll. Selain itu bagaimana domain dan URLnya yang catchy dan dapat bertahan untuk waktu yang lama. 

Ada juga tentang lingkungannya, e-Environment, gak jauh-jauh dari SLEPT ya, Social, Law, Environment, Politic, and Technology. Ya intinya kalau bikin iklan di negara yang gak mahir berbahasa inggris ya musti bahasa lokal. Kalau di negara itu iklan kondom masih tabu yang musti dilokalisasi atau kustomisasi. Yak kayak-kayak gitu lah... (slogan YGS).

Efek samping yang dari matkul ini adalah kita musti belajar di LAB soal kata yang gw baru denger selama kuliah, yaitu ERP (Enterprise Resource Planning), somehow, gw gak gak tau itu apaan, dan selama kuliah dari semester 1 klo denger kata itu yang gw inget adalah Electronic Road Pricing, sehingga gw harus selalu googling setiap denger kata itu, hahaaa.... dan gw terkejut betapa gw enggak tau, tapi temen-temen gw tau, dan yang gak tau sudah dipastikan PNS, wkwkkk... Jadi ERP itu adalah aplikasi yang mengintegrasikan aplikasi-aplikasi atau proses-proses bisnis di dalam organisasi, jadi di dalem ERP udah ada modul tentang kepegawaian, keuangan, penjualan, marketing dll yang bisa copot pasang dan dikustomisasi. Intinya, perusahaan-perusahaan besar macem astra, honda, bank, pastilah punya ERP, dengan ERP ga usah bikin aplikasi-aplikasi lageeee... buseeett, kenapa PNS kagag tau yak?!!! Karena selain mahal, programmernya juga langka. Ya ERP punya bahasa pemrogrammannya sendiri. Nah di MTI, kita belajar nge-LAB aplikasi ERP yg namanya SAP. Intinya SAP adalah.. sangat tidak user friendly!! Tampilan jelek, tapi somehow ya terkenal banget itu aplikasi SAP, mahal pulak. Heheee....




Oke terakhir soal kuliah umum dan tugasnya. Gw seneng banget dan merasa eye opened. Kuliah umum soal start up, narasumbernya anak muda bergaya selengean yang kerja di perusahaan sejenis venture. Perusahaan itu mengumpulkan uang dari investor untuk diputar menginvest start up – start up yang mulai menjamur di dunia. Dia bilang uangnya gak terbatas, you can write the number, bebas..!! gilak gak tuh!!. Apapun ide lo, apapun target lo, dateng aja ke perusahaan dia, dia bakal analisis layak apa enggak, klo layak bakal dapet jutaan dollar buat ngembangin start up, tapi dia musti hadir di setiap rapat dan jadi pemegang saham. Gw kurang ngerti gimana caranya, penjelasaannya gak detail, lebih ke masalah kepemimpinan sih yah, dan ide.

Jadi katanya start up itu didesain utk cepat berkembang, klo idenya bukan cepat, ya bukan start up. Pembagian keuntungan juga gak jelas, lo bisa aja bikin ide start up yg murni bantu orang awalnya, nanti dengan kepemilikan user yg banyak ya itu start up bisa dijual, so gak selalu ngejar untung, dan venture juga gambling, katanya dari 10 start up, yg berhasil dan untung cuma 1, sisanya rugi!! Contoh start up yang masih rugi kan macam go-jek, grab, dll. Dan venture menerima risiko itu..!! gw curiga investor-investor start up sebenarnya make uang haram atau money laundring, karena si narasumber gak mau ngebuka investornya siapa aja, ya kan? Cuci uang emang gitu kan caranya, hahaaaa....

Tugasnya bikin analisis start up, membuat model bisnis, semacam proposal yang bakal kita presentasiin untuk perusahaan venture. Jadi kita memilih start up yang udah ada, kita tanya-tanya tentang apa aja sebenernya value perusahaan, apa core bisnisnya, partnernya siapa aja, segment pasar, pendapatannya dari mana aja, susunan organisasinya apa. Bener-bener mencerahkan ya. Banyak banget start up menjamur yg isinya anak muda, dan ide-idenya out of the box. Ada lah start up soal bawang dijual per 5 Kg untuk melawan tengkulak, ada juga start up tentang cari jodoh, tentang jual daging langsung ke konsumen, hahaa.... intinya start up itu ada untuk melawan model bisnis konvensional yang banyak rantai dan banyak tengkulak. Kemudian di start up itu strukturnya gak kayak PNS ya, mereka ada CEO, CIO, CTO, COO C apalah-apalah.




Begitulah anak muda, kerjaan gak jelas, pake kaosan mulu, sneakers, kayak gak mandi, but hey, mereka lebih kaya dan kartunya ada C apalah-apalah. Dunia emang aneh...

2. Manajemen Risiko 

Matkul manajemen risiko ini menarik juga, selain karena udah ngincer buat KA soal manajemen risiko sejak semester 2, juga karena gw gak bisa coding!! Hehee... jadi buat orang TI yang gak bisa coding, ya lo cuma bisa berharap di aspek keamanan alias satpam alias security. Nah, pertama yang paling jelas adalah, namanya itu RISIKO ya!! Bukan RESIKO!! Oke? Hehee... belajarnya asik, sesuai buku banget, judulnya managing risk in information systems, darril gibson. Dan buku itu jadi buku acuan gw prioritas nomer 1 selama pembuatan KA. Dosennya pun eksentrik banget, muda, banyak pengalaman, pernah kerja di IBM USA, wah banget, heran kok pulang ke indo ngemis-ngemis jadi konsultan, well gak ngemis sih, tetep aja dateng ke perusahaan ngarep dapet proyek. Mungkin karena gw PNS jd gak masuk akal sih, gw sukanya zona nyaman, hahaaa... tapi ya pengen buat jadi konsultan juga, duitnya banyak kali ya?




Anyway, jadi apa itu risiko? All about possibilities, atau likelihood, jadi risiko adalah “kemungkinan kerugian yang akan terjadi ketika ancaman mengeksploitasi kerawanan” duaarr..!!! itu dia..!! KEMUNGKINAN..!! matkul ini dibilang abstrak iya, dibilang nyata iya juga, karena penting banget. Segala hal itu ada risiko ya, aset, informasi, kegiatan, proyek TI, pengembangan aplikasi, pemeliharaan, operasional, itu ada risikonya, dan risiko itu adalah kemungkinan, dan kemungkinan itu gak bisa dikontrol!! Misal bencana alam, banjir, gempa, trus kena data center, trus aplikasi down, trus lo bengong aja gitu karena bencana alam gak bisa dikontrol? NO..!! If you fail to plan, you are planning to fail, and if you can’t control something, JUST MANAGE IT..!! jadi ya musti dikelola, alias manajemen.




Untuk menjelaskan lebih lanjut tentang manrisk (manajemen risiko) gampang, tinggal breakdown aja dari definisi Risiko di atas tadi. Misal ancaman itu adalah aktivitas/kegiatan yang bersifat mengganggu dan menyerang, kerawanan adalah kelemahan, seperti biasa paling kelemahan itu terkait PPT (People, Process, Technology). Risiko itu adalah kemungkinan ancaman mengeksploitasi kerawanan, nah kerugian adalah compromise of business function, entah kenapa bahasa enggrisnya compromise ya, gak cocok klo diterjemahin jadi kompromi, jadi kerugian adalah ketika fungsi bisnis/aset terganggu/down. Nah itu dia, lengkap kan! Ancaman sendiri bisa sengaja atau gak sengaja, misal bencana alam, gempa, banjir, kebakaran, yang intinya dari pihak luar atau alam. Nah kalau sengaja juga dari pihak luar sih, tapi sengaja, misal hacker, cracker, attacker, motifnya macem-macem, misal uang, dendam, atau emang cuma mau test ilmu aja untuk merusak.


Secara simple-nya sih, Ancaman  Kerawanan  Risiko  Kerugian  Mitigasi trus balik lagi deh, ya, Manajemen Risiko adalah sebuah Siklus yang tanpa henti yang harus dipikirkan dari waktu ke waktu. Setiap penambahan sistem/aset, maka harus di-update manajemen risikonya. Nah, ada banyaaak lembaga di dunia ini yang udah memikirkan tentang risiko, karena apa? Karena kejahatan cyber itu nyata!! Makanya banyak standar, prosedur, peraturan, dan, lembaga-lembaga yang mikirin tentang kejahatan cyber yg pada akhirnya ya tentang Manrisk. Misal aja ID-SIRTII, id-cert, NIST (National Institute of Standard and Technology), US-Cert, CVE list, dan lain-lain.

Manrisk ini juga terkait dengan complience, atau kepatuhan, karena memang aset yang harus dilindungi menguasai hajat hidup orang banyak, misal sektor perbankan, keuangan, kesehatan, pendidikan, dll. Maka orang amerika sana membuat banyaaak banget aturan-aturan. Gagal mematuhi, maka siap-siap lah di penjara. Misal Computer Security Act yang menghasilkan standar NIST itu, atau FISMA untuk melindungi komputer lembaga pemerintahan, hukum-hukum tentang privasi. 

Kemudian ada HIPAA untuk melindungi data pasien rumah sakit atau aspek kesehatan, Sarbanes-Oxley yang muncul setelah kasus Enron, agar setiap lembaga keuangan menyimpan dengan baik data keuangan dan harus bisa di-retrieve kapanpun, intinya menjaga integritas data agar tidak terjadi penipuan, CIPA untuk anak-anak sekolah, dan PCI-DSS, yaitu seperangkat aturan mengenai transaksi keuangan lewat kartu, apapun kartunya. Keren kan?

Oke tiba saatnya untuk developing risk management plan, so what is a plan? Jangan tertipu dengan kata ”plan”, walau diterjemahkan jadi “rencana” sebenarnya bukan berarti gak ada fisiknya, plan itu artinya DOKUMEN, ya dokumen, tertulis, dan ada kesepakatan. Apa isinya? Ya isinya sejumlah daftar risiko, ancaman, kerawanan, dampak, cara mitigasi, sampai kepada siapa yang bertanggung jawab. Banyak banget standar-standar untuk developing management plan, ada NIST SP sekian ya, lupa, hahaa... ada ISO 27005 khusus untuk manajemen risiko, masih satu keluarga dengan ISO 27001 tentang keamanan informasi. Ini dia gambarnya ya:



Yah beda-beda tipis lah ya, satunya dari amerika, satunya dari eropa, cuma beda-beda bahasa dan istilah aja. Yang satu mitigasi, yang satu treatment, yah begitulah. Jadi intinya kita membuat daftar ancaman, lalu hubungkan dengan kerawanan, lalu kemungkinan yg terjadi, dampaknya bagaimana, sampai kepada nilai risikonya, trus kita pilih mitigasinya apa. It’s all about math, ada hitung-hitungannya. Risiko adalah kemungkinan*dampak. Nilai risiko yang tinggi tentu jadi prioritas untuk ditangani, kalau nilai risiko rendah ya nanti-nanti aja, yekan. Itulah yang dinamakan tahap Risk Assessment, atau penilaian risiko.

Risk Assessment (RA) ada metode kuantittatif, ada kualitatif. Kalau kualitatif itu tadi, cuma perkalian dari kemungkinan dan dampak, itupun cuma kira-kira aja apakah kemungkinannya sering, jarang, sedang, apakah dampaknya rendah, sedang, atau tinggi. Kalau kuantitatif ada hitung-hitungannya, bisa berdasarkan data yang disimpan, misal data down, dan juga dampaknya dalam kerugian uang. Jadi gunanya RA adalah untuk memprioritaskan risiko, untuk apa? Untuk membuat mitigation plan, rencana mitigasi. Setelah risiko-risiko tadi didaftar, nanti kelihatan mana risiko yang paling besar, yang kemungkinan sering dan dampaknya besar, nah, baru kita tentukan mitigasinya seperti apa, apakah akan diterima atau dibiarin aja, ditransfer atau diasuransikan, atau dilakukan sesuatu dengan memakai control atau countermeasure. Lalu dilihat, berapa biaya untuk implementasi control, waktunya berapa lama, dan kalau risikonya kejadian, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk UP lagi dengan kontrol itu, masuk akal gak antara biaya control dengan manfaatnya, jangan-jangan kerugian cuma seiprit tapi biaya control jutaan dollar, ya mending gak usah beli kan, sesederhana itu sih.



Oh ya, kerugian itu bukan cuma uang, tapi bisa juga misal reputasi. Kalau ada website pemerintahan, bank, atau perusahaan bonafide dihack misal website dideface gambar tak senonoh, atau uangnya dibawa kabur hacker, maka hancurlah reputasinya, konsumen bakal gak mau masuk lagi, karena terkait kepercayaan.



Oke lanjuuut.... Membuat mitigation plan tentu sampai detail ke pemasangan control, biaya, berapa lama, dan siapa yang bertanggung jawab. Oke, gw rasa udah selesai deh ini kuliahnya, udah lengkap kan semua, ada ancaman, kerawanan, risiko, kemungkinan, nilai risiko, dan mitigasi, tapi kok kuliahnya belum berakhir juga, haaa.... ternyata diulang lagi, yak, kita belajar lagi cara menganalisis mulai dari ancaman sampe mitigasi.

Cara menganalisis ancaman kita bisa mulai dari 7 domain of TI, kita bisa ambil dari aspek CIA (confidentiality, integrity, availability). Confidentiality misal hak akses, Integrity misal hacker, Availability misal sistem down karena DDOS. CIA-nya itu kita tembak ke masing-masing 7 domain of IT, kita bisa FGD atau brainstorming, atau pakai data pelanggaran informasi/down. Lalu cara menganalisis kerawanan/vulnerabilities lagi-lagi dengan FGD, data historis, tapi bisa juga dengan VA, vulnerability assessment atau penetration testing yang semuanya mengarah ke PPT. People misal social engineering, lack of security awareness. Process misal gak ada prosedur keamanan, bikin password yang lemah. Technology misal gak ada patch, gak ada antivirus, port-port yang terbuka, gak ada firewall. Lalu dibikin match deh, ancaman menembak kerawanan untuk masing-masing CIA dan PPT.



Setelah semua itu selesai sampai ke nilai risiko, saatnya menentukan control. Ada 4 jenis control, mencegah (firewall, IPS, IDS), mendeteksi (AV, SIEM, ARCSIGHT), mengelabui, dan memulihkan (backup storage). Tapi tak kalah penting dari control yang bersifat teknis (firewall, AV) dan fisik (CCTV, satpam, dll), adalah control administratif, yaitu kebijakan atau dokumen tertulis, misal kebijakan, aturan, standar, SOP, asuransi, pemeriksaan latar belakang pegawai, pelatihan kesadaran dll.


Oke mustinya udah selesai lah ya soal manajemen risiko, tapi ternyata enggak, malah naik ke level atasnya lagi, namanya contingency plan, atau rencana kontinjensi, apa itu? Jadi gak cukup dengan kita hanya memikirkan risiko dan mitigasinya, kita juga harus mikir kalau benar-benar ada kejadian, bagaimana memulihkannya? Nah sebelum kita memikirkan bagaimana memulihkannya, kita musti mikir, banyak banget mikirnya, hahaa... udah gitu mikirnya jadi ke belakang-belakang ya, begitulah, dari yang kecil remeh-temeh jadi ke yang besar, semacam bottom-up. Jadi, sebelum kita mikir bagaimana memulihkannya, kita membuat BIA (business impact analysis) yaitu dokumen berisi.. kalau manajemen risiko berisi daftar ancaman dan kerawanan, maka BIA berisi daftar fungsi-fungsi bisnis.



Dan fungsi-fungsi bisnis ini kita analisis berapa sih boleh down-nya, kalau down berapa kerugiannya, nanti hasilnya adalah daftar fungsi-fungsi bisnis yang amat kritikal yang layak untuk masuk ke program pemulihan, karena gak semua fungsi bisnis harus dipulihkan, tergantung tadi MAO (Maximum Acceptable Outage), misal ada yang 3 hari harus up, ada yang gak boleh down sama sekali, ada yang 4 jam. Nah kesemua itu masuk ke rencana pemulihan dan dapat menentukan strategi recovery-nya, apakah Disaster Recovery Centernya aktif-aktif full atau bergantian, atau mirroring.


Terakhir, ini beneran terakhir, kita naik ke atas lagi, jadi setelah manajemen risiko, kita ke atas mikirin rencana kontinjensi, lalu kita ke atasnya lagi membuat business resilience, resilience artinya membal atau tahan, jadi setelah diserang, bisnis kita bisa mengkerut untuk beberapa waktu untuk kemudian ke posisi semula, ibarat bola karet kali yak. Nah nama dokumennya adalah BCM (Business Continuity Management). Si BCM ini mengatur cara organisasi kita bekerja selama dan setelah terjadi krisis maha dahsyat, keren ya orang bule, udah mikirin beginian, hahaa... jadi klo krisis terjadi, tentu pekerjaan kita gak normal kan, tadinya pake komputer jadi pake kertas, tadinya data center deket, jadi pake data center yang jauh, nah itu semua membutuhkan pengaturan, mengenai siapa yang jadi koordinator, bagaimana rantai komandonya, fungsi bisnis apa aja yang masuk ke BCM, scopenya apa aja.

Semuanya kesepakatan sih, sebagus apapun prosedur, apakah itu manrisk, mitigation plan, BIA, atau BCM klo gak sepakat dan gak pernah disosialisasiin ya percuma. Semua plan-plan itu juga harus diupdate setiap ada perubahan aset, perubahan fungsi bisnis, perubahan infrastruktur, perubahan secara reguler, dan perubahan setelah testing!!. Ya, semua plan-plan itu harus ditesting, diuji, pura-puranya diserang, pura-pura down untuk melihat DRC-nya jalan gak, untuk kemudian jadi pelajaran apa aja yang harus ditambah ke plan tersebut. Semua pegawai harus patuh akan plan-plan itu dalam kegiatan training, testing, dan excercise. Fyuuuh, selesai, banyak ya, karena gw emang suka kayaknya yang berbau-bau keamanan, risiko, prosedur, intinya yang ada kepatuhan dan disiplin, hahaa..!!!

3. MPPTI (Manajemen Perubahan dan Proyek TI)

Kayaknya ini mata kuliah paling penting selama semester III karena ini adalah mata kuliah wajib, yang lain kan pilihan, hehee... oke, matkul ini secara namanya gabungan dari dua topik, ada manajemen perubahan dan manajemen proyek TI. Kenapa disatuin? Entah, dosen gak jelasin, gw musti dengerin rekaman dari kelas sebelah yang dosennya si bapak fenomenal itu. Katanya.. lupa... bentar gw cek lagi rekamannya

.. .. .. ..

Manajemen perubahan dulu ya, jadi dulu itu semua perusahaan kan gak pake TI, nah tiba-tiba harus pake TI maka akan ada yang berubah, yang dulunya TI sebagai support, kini TI harus menjadi enabler suatu product dan process. Kenapa harus di-manage? Agar bisa bertahan dengan cara beradaptasi, yaitu dengan cara merespon perubahan itu sendiri, kesuksesan merespon perubahan akan membawa organisasi bertahan. Jelas kan? Hubungan dengan Proyek TI adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk mengeksekusi strategi TI supaya bisa berubah dan merespon perubahan, agar dapat memenangkan persaingan.


Manajemen proyek TI adalah cara atau bagian dalam manajemen perubahan. Hal ini merupakan benar-bener baru bagi gw. Karena dalam dunia PNS, proyek TI itu ya pengadaan, lelang, penawaran, bikin spesifikasi teknis dll. Nah di matkul ini kita seakan-akan sebagai vendor yang bikin aplikasi, bikin alat, nawarin pemasangan alat dsb. Dan ternyata ribet, gak seperti yang kita bayangkan, banyak proses, standar, prosedur, dalam proyek TI. Dan lagi-lagi yg namanya standar dan prosedur tuh gak jauh-jauh dari yang namanya DOKUMEN, ya, kita belajar PMBOK (Project Management Body of Knowledge) semacam best practice langkah-langkah apa aja, form apa aja, dan apa-apa aja yang harus dipikirkan ketika pengadaan proyek TI. Disini Proyek TI biasanya adalah tentang pembangunan aplikasi ya, software engineering, tapi bisa juga pengadaan alat, pemasangan alat, kegiatan TIK, pokoknya segala hal yang bisa dinamakan PROYEK.

Selain PMBOK, ya kita belajar dari slide dosen aja, hasil copas dari buku fenomenal ITPM (IT Project Management) Marchewka. Ke depan, kita akan mengingat PM sebagai Project Manager atau Project Management, bukan Prime Minister, hahaa... Jadi kenapa PM itu penting? Karena belajar dari era software chaos era 90an sampai sekarang, bahwa rata-rata penyelesaian proyek TI selalu telat, karena masa depan itu gak pasti, banyak hal yang bisa membuat sebuah proyek gagal, dan karena sumber daya perusahaan itu terbatas, Uang, Waktu, Orang, Ruangan, dan Perangkat lainnya itu terbatas jadi harus direncanakan sebaik-baiknya. Dan juga karena pepatah yang kurang lebih begini “9 orang Ibu tetap tidak bisa melahirkan anak dalam waktu 1 bulan” artinya banyaknya orang untuk menyelesaikan proyek tidak serta merta berpengaruh untuk selesai dengan cepat.


Sehingga butuh disiplin ilmu baru bernama PM untuk merencanakan proyek TI, merencanakan berapa sumber daya yang dibutuhkan, membuat komitmen diantara stakholders, memperjelas job role, dll. Kan kalau kita membuat penawaran pembuatan aplikasi pasti kita nyatakan kita butuh waktu berapa lama, uang dan orangnya berapa banyak, see..? it’s all about managing resources, and we will manage it through series of document or commitment. Ya kuliah ini, it’s all about membuat proposal penawaran proyek TI, hahaa...

Dan lagi-lagi sebagai PNS gw gak tau soal keberadaan profesi atau kegiatan PM ini sebelum ikut kuliah MPPTI. Ternyata seorang IT PM itu pekerjaan yang serius lho, ada sertifikasinya dari PMI (Project Management Institue) yang harus di-maintain dengan angka kredit pekerjaan sebagai PM. Dan bidang PM ini juga banyak menjadi tesis, misal contoh “faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan proyek TI pada perusahaan XYZ” benar-benar matkul yang eye opening.

Dalam IT PM ada 3 batasan (constrain) yaitu scope, schedule, dan budget yang digambarin dengan segitiga. Konon katanya kita cuma bisa mengontrol 1 sisi aja, misal kalau mau scope yang besar, maka jadwal dan biayanya mau gak mau jd ikutan melebar, atau kalau kita gak punya budget yang longgar, maka implikasinya scope dan jadwalnya jadi kecil. Memaksakan ketiga constrain ini diluar hukum alamnya, niscaya proyek akan gagal berantakan.




Dari gambar tahapan PLC (Project Life Cycle), dimulai dari fase inisialisasi dan konseptualisasi proyek, deliverables-nya Business case. trus ke fase berikutnya adalah Planning, deliverables-nya project charter and project plan, nah itu semua DOKUMEN sodara-sodara!! Haha... yak, di matkul ini kita cuma belajar sampe fase ke 2, tahap selanjutnya ya belajar sendiri, karena bakal lamaaa banget klo belajar semuanya, PM itu luas broh..!! dan profesi yang amat sangat menjanjikan bergelimang harta di perusahaan swasta.


Oke tahap pertama inisialisasi dan konseptualisasi, deliverable-nya business case, semacam proposal lah ya, mengenai kenapa harus ada proyek ini, apa MOV-nya (Measurable Organizational Value) yah semacam kecap-kecap mengenai tujuan utama proyek ini sehingga dianggap layak untuk diteruskan. Nah yang namanya measurable itu berarti musti terukur, maka di business case musti ditulis apa yang mau dicapai dan berapa, musti PAKAI ANGKA. Misal, dengan aplikasi yang mau dibangun ini, maka jumlah customer meningkat menjadi xxx, keuntungan akan break even point pada saat sekian, penjualan meningkat sebesar XYZ, atau banyaknya customer baru yang membuka aplikasi sebanyak XXX. Tapi semua musti logis dan terukur. Apakah akan membuat sesuatu lebih besar? Proses lebih cepat? Biaya produksi lebih murah? Atau apa? Tulis semua di business case, intinya ngecap!! Agar pimpinan manajemen bisa menilai apakah layak diteruskan, dan kalai diteruskan maka business case ini akan menjadi acuan tunggal TUJUAN proyek TI, kalau tujuan gak tercapai, maka proyek dinyatakan GAGAL.


Setelah business case disetujui, maka langkah selanjutnya adalah membuat Project Charter, semacam dokumen untuk meresmikan ini lho ada Proyek TI!! Yeay, resmi!!, semacam kick off meeting bahwa proyek akan berlangsung. Isinya ya tentang SIAPA mengerjakan APA dengan TOOLS apa, sumber daya yang diperlukan apa aja, waktunya berapa lama, dan BIAYA-nya berapa. Nah dari project charter ini lah disusun strategi untuk mengeksekusi sumber daya berdasarkan MOV yang telah dibuat di business case. Nah bayangkan, namanya aja sih project charter, tapi isinya beranak, misal nentuin scope, itu ada analisisnya lho, bikin scope statement, scope definition, WBS (Work Breakdown Structure), Scope verification dan control, itu baru SCOPE loh ya, belum biaya, tools, sumber daya manusia, dan yg gak kalah penting adalah BIAYA, semua ada analisisnya, ada templatenya, ada form-nya, sangaat lengkaaap..!! capek kuliahnya, hahaa...



Karena scope ini penting, proyek TI kita harus berdasarkan scope untuk memulai acuan jadwal dan biaya kan. Dan yang penting gw pelajari adalah = jangan cuma nulis scope yang bakal dikerjakan saja, tapi juga tentuin APA YANG GAK AKAN DIKERJAKAN juga. Itu berguna untuk mengontrol scope, kalau pun scope berubah, biasa PNS kan, ada form scope change request, musti dilihat masih sesuai dengan MOV gak, kalau enggak ya jangan disetujui, kalau disetujui, terima risikonya anggaran dan jadwal akan membengkak. Kemudian WBS, adalah proses membagi-bagi pekerjaan menjadi lebih kecil, pekerjaan-pekerjaan kecil inilah yang akan kita estimasi nanti biaya dan jadwalnya. Tekniknya banyak asalkan bukan guessmatting, alias nebak-nebak.



Ada metode delphi technique, semacam minta pendapat expert, lalu time-boxing, tiap pekerjaan ada alokasi waktunya sehingga bisa di-break down. Top-Down, dimana pimpinan menentukan biaya dan waktu, sementara bawahan menentukan WBS-nya. Bottom-Up dimana itung-itungan dimulai dari pekerjaan kecil, lalu diakumulasi, banyak deh ada COCOMO, Heuristic, Line of Code, dll. Scope sudah, WBS sudah, kini kita tentuin hal yang paling penting, yaitu SCHEDULE dan BUDGET. Intinya sih dari tadi gambar dan teknik kan ya, nah menentukan jadwal dan biaya juga pake gambar atau tabel.







Longest path adalah waktu paling lama, yaitu waktu tercepat agar project bisa selesai, jika kurang dari waktu terpanjang kemungkinan ada yg terlewat. tujuan cari critical path adalah: jika ada task yg mundur sehari dalam critical path, maka penyelesaian project juga mundur sehari. Kalau tasknya bukan di critical path, berarti boleh mundur sebanyak sampai jumlah hari critical path-nya tanpa memundurkan keseluruhan project.

Tapi namanya kenyataan gak sekaku itu, ada lagi metode lain yang ngasih buffer, jadi waktu penyelesaian proyeknya udah di-mark up dari awal supaya gak kelihatan telat di depan pimpinan, tapi tetap jadwal yang dikasih ke anak buah yang gak pake buffer, hehee.... pinter emang orang bule. Project schedule dan budget ini pastinya akan melewati beberapa iterasi untuk disetujui pimpinan manajemen sampai ada kesepakan akhir dan akan menjadi BASELINE PLAN.

Next kita belajar tentang Risiko Proyek TI, well gak ada perubahan signifikan sih dari yang kita dah belajar Manrisk, tetep tentang risk assessment, risk identification, risk monitoring and control, ujung-ujungnya kita membuat tabel daftar risiko. Nah kalau di Manrisk yang berat ke keamanan informasi dengan CIA-nya, kalau di risiko proyek TI kita membagi risiko dengan aspek kesuksesan proyek yaitu= Schedule, Budget, Scope, dan Quality.

Dari setiap aspek itu kita bedah apa aja ancaman dan kerawanannya, lalu dinilai secara kualitatif atau kuantitatif. Sebenernya kalau kita udah define scope, schedule, dan budget sebenernya udah lah ya udah selesai, hehee... tapi PMBOK ini emang annoying mengharuskan kita bikin banyak dokumen tetek bengek banget, jadi bakal ada tambahan dokumen yang namanya Project Communication Plan, yang mengatur cara Tim berkomunikasi, hahaaa... itu aja pake diatur lho, ada form dan templatenya, lalu ada Project Quality Plan, berhubungan dengan complience dengan standar yg dipake di perusahaan, misal CMMI. Lalu ada Project Managing Resistant, Procurement Plan, and Ethics and Leader. Itu semua jadi bumbu aja sih, ribet banget, ngantuk belajarnya, hahaa...


Terakhir Project Closing, musti diperhatiin bagaimana pergantian dari sistem yang lama ke yang baru, apakah langsung ganti, paralel, atau dibuat per fase. Terakhir closing pake rapat donk, ada evaluasi. Apa lesson learned yang bisa diambil dari Proyek TI tersebut. Oke DONE...!! selesai!! Hehee... 


Terakhir, pengajarannya memang buat mengantuk tapi tetap menarik bagi saya, dan saya tau ini adalah hal yang sangat penting untuk diterapkan di kantor. Karena kantor melakukan pengadaan proyek TI seadanya, sehingga implikasinya gak terdokumentasi, nilai apa yang di dapat, pengadaan yang lama mau dikemanain, gak jelas. Dan juga tertarik sih untuk ambil sertifikat PM, yah sebagai cadangan kalau mau keluar dari PNS, hahaa... tapi berat lah.

Dosennya eksentrik, namanya pak WCW, saking narsisnya dia punya website yang depannya WCW, bukan WWW, hahaaa... semua materi ajar dan tugas bisa didownload disitu, serta ada website satu lagi untuk kita bikin tugas business case dan project charter dan plan. Jadi intinya Proyek TI yang katanya banyak dokumen itu sebenernya bisa di-manage lewat website aplikasi PM, disitu kita bisa bikin segala hal mulai dari semua tahapan PM, gantt chart, WBS, Node, budget, kirim-kirim jadwal dan tugas antar tim, upload dokumen, notifikasi waktu, notifikasi pekerjaan sudah selesai apa belum, lengkap pokoknya

4. E-Government


Ini dia mata kuliah terakhir yg akan gw bahas sebelum tentang KA. Mata kuliah ini sangat PNS banget kan, electronic government, atau pemerintahan elektronis. Sebagai PNS yang bekerja di Satker pengelola TIK tentu penting memahami e-government. Agak kecewa sih ya, ternyata yang dipelajari terlalu mengawang-awang. Memang praktis sih, jadi bahan ajarnya mengambil langsung dari suatu badan UN (United Nations) yang menangani ICTD (Information and Communications Technology and Development) tumplek plek download dari websitenya langsung yaitu UN-APCICT, semuanyaaa.... sisanya ya tugas aja.

Intinya belajar tentang bagaimana pemerintah menggunakan TIK untuk mendukung percepatan MDGs (Millenium Development Goals) / SDGs (Sustainable Development Goals). Mengenai mengapa pakai MDGs dan SDGs gak terlalu dijelasin. Kebanyakan belajar tentang apa itu E-Government, apa layanan yang bisa elektroniskan, hubungan layanan pemerintah dengan bisnis yang lain, dan contoh-contoh E-Government dari berbagai negara.


Tadinya gw berharap belajarnya ya PNS banget lah, membumi di negara sendiri dan instansi masing-masing, belajar tentang Undang-Undang, Peraturan, Kementerian terkait yang berwenang untuk mengelola TIK dan sebagainya, seakan gw merasa penggunaan TIK tuh mustinya wajib dan terencana. Tapi ya apa daya, ternyata memang kenyataan di lapangan enggak seperti itu, penggunaan TIK masih berupa gimmick marketing pemerintah, kementerian, atau Pemda, gak dipake ya gak apa-apa, klo dipake yang bisa promosi dan koar-koar betapa hebatnya penggunaan TIK. Tapi ya sudah lah, kembali ke mata kuliah.


So definisi E-Gov ada di gambar di bawah ya, intinya adalah penggunaan TIK di pemeirntahan yang merubah/mentransformasi hubungan/pekerjaan dengan tujuan peningkatan-peningkatan layanan. Lalu mengapa dikaitkan dengan MDGs? Karena MDGs merupakan standar terukur pembangunan yang disepakati secara global. Target-target dalam MDGs yang kemudian dilanjutkan dengan SDGs selalu terukur, misal jumlah pengurangan angka kemiskinan dan kelaparan, jumlah anak yang bersekolah, jumlah penurunan kematian ibu dan bayi, dsb.




Jadi kita belajarnya tentang apa saja yang bisa dilakukan oleh penerapan TIK kaitannya dengan peningkatan perekonomian, kesehatan, pendidikan, kemitraan, begitu-begitu deh. Nah di sini kita pelajari bahwa proyek-proyek TIK untuk Pemerintah itu tidak mungkin dibiayai sendiri oleh pemerintah, karena sifat dari pemerintahan elektronis itu kan tidak mencari untung, malah mencari rugi. Di sinilah pentingnya konvergensi dan kemitraan dengan pihak swasta. Pemerintah dapat berperan melalui kebijakan dan insentif, untuk kemudian swasta dapat berinvestasi. Selain itu perlu dipikirkan tentang pemilihan Teknologi dan Isi konten.


Apakah teknologi mudah di gunakan dan kompatibel dengan infrastruktur yang ada? Apa saja komponen biaya teknologinya itu, bagaimana pengaturannya antar pemerintah-swasta. Lalu tentang isi konten, siapa yang mengelola? Untuk siapa? Apakah isunya relevan dengan masalah masyarakat dan mendukung MDGs/SDGs? Hayoo siapa yang mikirin? Gak ada, hahaa... belajar mata kuliah ini membuka mata gw bahwa pengelolaan TIK di negara kita ini masih ad hoc, gak terencana.

Kalau tadi belajarnya umum, sekarang kita belajarnya khusus. Jadi tujuan E-Gov adalah pemerintahan yang bisa online, tanpa kertas, berbasis pengetahuan (data mining/knowledge management), dan transparan, intinya 4 itu aja sih. Kemudian ya bagaimana contohnya dihubungan dengan relasi pemerintahan, misal G2C (community), dan G2B (business)? Layanan ke masyarakat itu ya misal tentang pembuatan KTP (klasik banget kan, hahaa...) kependudukan, pendidikan, penerimaan siswa baru, kesehatan, BPJS, perpajakan, izin-izin, perumahan online, pelaporan dengan QLUE atau LAPOR!, itu semua layanan E-Gov G2C. Kemudian yang G2B contohnya adalah yang mendukung iklim usaha untuk berbisnis, misal E-Procurement untuk pengadaan/tender, izin impor ekspor, izin produksi makanan, perpajakan, bea cukai, dll.

Kemudian kita belajar faktor-faktor kesuksesan penerapan E-Government dalam suatu negara, yaitu, proses bisnis yang jelas, struktur organisasi yang ada unit TI, dukungan kebijakan, dan kemitraan dengan sektor swasta. Dan selalu Korea Selatan yang menjadi contoh penerapan tersukses E-Government, katanya di Korsel itu semua udah online, 1 nomor penduduk bisa untuk kependudukan, kesehatan, pendidikan, semua-mua sudah didaftarkan otomatis secara online. Kalau sakit maka asuransi sudah terintegrasi dengan bank-nya, kalau ada anak yang harus sekolah tapi belum sekolah akan dinotifikasi harus sekolah dan langsung didaftarkan di sekolah terdekat.




Kemudian belajar tentang trend TIK yang bisa digunakan untuk penerapan E-Government, cuma pengenalan-pengenalan aja sih dan sedikit sejarahnya misal Clod Computing, penggunaan HP, permasalahan akses TIK dengan HP, satelit dan kesenjangan digital karena permasalahan akses TIK. Ada juga tentang konektivitas internet melalui kabel, wireless. Jaringan komputer, jaringan sensor IoT, RFID, penggunaan smart card di MRT hongkong.

Ya begitulah, kurang berguna sih, kita semua udah tau, dan slidenya agak ketinggalan, masa dijelasin tentang VoIP, Nokia E61, hahaa... sekarang jamannya instant messaging, udah bukan Voice lagi tapi udah Video Call, Video Conference secara instant via Hape.

Tata kelola internet menjadi penting dibahas karena merupakan akses TIK dan penerapan E-Government yang utama. Sekali lagi yang dibahas soal dunia, bagaimana Amerika Serikat terlalu memonopoli hak internet, DNS, dan IP. Oleh kareana itu dijelaskan bagaimana WSIS (Word Summit of Information Society) yang terdiri dari banyak negara berusaha menghadirkan tata kelola internet yang lebih adil. Dan sampai sekarang masih belum jelas, hahaa... bagaimana nanti jika IP versi 4 sudah habis, lalu penamaan root DNS, keamanan, intinya AS masih berkuasa dan negara lain tak berdaya, yah kita ikut ajalah, yang nemuin internet juga mereka kan.


Selanjutnya belajar tentang keamanan informasi, isinya gak jauh dari yang udah dipelajari di Manrisk ya, ya tentang CIA lah gitu-gitu. Ada macam-macam ancaman misal hacker, DDOS, social engineering, kemudian perangkat pencegahannya macam firewall, IDS, IPS, AV, yah begitulah, hahaa... bosen. Terus ke metode, dijelasin soal ISO 27001, nah kan sama lagi dengan mata kuliah Manrisk, hehee... ya mungkin berguna banget ya untuk mahasiswa yang gak ambil mata kuliah Manrsik, karena emang pilihan sih.



Tapi yang menarik adalah soal CSIRT (Computer Security Incident Response Team), karena kurang dipelajari di matkul Manrisk, malah di sini dijelasin panjang lebar soal sejarah dan kegunaan CSIRT dan bagaimana model-model struktur organisasi CSIRT. Jadi ada yang terdistribusi internal, terpusat internal, terdistribusi dan terpusat, dan terkoordinasi. Serta apa saja yang dibutuhkan untuk membangun CSIRT. Sebenarnya yang dipelajari di sini adalah saran dan rekomendasi untuk pemerintah/negara untuk membuat CSIRT nasional, tapi kenyataam gak seindah teori, hahaa... 



Terakhir tentang Pendanaan, yaitu pentingnya pemikiran bagaimana pendanaan proyek-proyek TI Nasional. Maka bisa menggunakan PPP (Public Private Partnership) semacam kontrak kerja antara pemerintah dan swasta. Keuntungannya lebih hemat, risiko dipindah menjadi milik swasta, keuntungan uang untuk swasta, sedangkan pemerintah mendapatkan keuntungan layanan bagi masyarakat. Udah lah ya, pelajaran selesai, hahaaa...



Tugasnya ini yang bikin pusing, tugasnya ada 2, yaitu tugas individu dari asdos dan tugas kelompok dari dosen. Nah asdosnya ini sangat mengagungkan sekali yang namanya paper, ya paper, dan dia akan sangat bangga sekali melihat namanya muncul di google scholar, katanya itu bukti tanda intelektualitas yang abadi yang bisa diberikan sebagai inspirasi untuk anak-cucu, WOW, gw gak kepikiran, hahaa... dia cerita bagaimana susahnya paper untuk di-accept oleh suatu konferensi internasional, sering ditolak, sering gagal, sering revisi, belum kalau gak ada duit, karena ternyata si pemakalah juga harus bayar agar papernya bisa diterima dan masuk jurnal database, dan itu bayarnya per lembar, pake dollar. Makanya paper itu halamannya pada sedikit, supaya hemat, hahaaa...

Sama asdos kita diajarin cara membuat paper, nah tugasnya kita membuat paper, metodenya SLR (systematic literature review). Semacam mengumpulkan berbagai definisi ya, misal kita mau ambil topik definisi e-government, trus kita cari tuh ratusan jurnal yang isinya ada definisi e-government, iya RATUSAN!! Hahaa.... nanti di-pivot lagi, dikompres, definisi yang sama ya disatuin, kita bikin tabel mengenai kriteria definisinya, ada berapa jurnal yang begini, ada berapa jurnal yang begitu, teruuus dikompres baru kita pilah-pilah, dan bikin kesimpulan. Yak, itu yg namanya systematic, capek kan.

Tugas yang dari dosen adalah membuat evaluasi pelaksanaan E-Government, topik apa aja terserah, tapi udah diarahin sih, jadi ada tentang Evaluasi Indeks PeGI (Indeks Pemeringkatan E-Government Indoensia), Evaluasi Indeks KAMI (Keamanan Informasi), Evaluasi faktor-faktor kesuksesan aplikasi, atau layanan E-Government, yang gitu-gitulah. Tentu yang gampang PeGI dan KAMI ya, karena udah ada standar checklistnya dari Kemenkominfo, bisa langsung keliatan nilainya, tugas kita hanya datengin tempat studi kasusnya, dan tanya setiap poin penilaian, dan itu buanyaaak banget. Penilaiannya pun berdasarkan bukti tertulis, gak ada buktinya ya nilainya setengah untuk setiap poin penilaian.

Yang bikin gw berkesan, gw berkesempatan studi kasus di BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) di Kemayoran untuk menilai Indeks KAMI. Untungnya udah ISO 27001, tinggak cheklist aja udah dan udah, hahaaa... hasilnya kita bikin presentasi dan paper. Pas presentasi gw bagi-bagi beng-beng bagi yang nanya, sekalian ngabisin sisa pas nyebarin kuesioner tesis. Yak habis ini gw bahas tentang kegiatan maha penting dan pusing dalam hidup gw, yaitu ngerjain KA, alias Tesis S-2 dan Wisuda.



(trus, Dhis...?!!)

17.5.17

Problems with older people (above 50)




Tadinya ingin menulis secara komprehensif generation gap mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, lalu orang tua. Ya berdasarkan observasi aja sih, asumsi dan generalisasi. Seenggaknya bisa jadi pengingat untuk semua generasi. Tapi akhir-akhir ini mendesak untuk menulis khusus masalah dengan orang tua, atau orang yang lebih tua, siapapun dan dimanapun di indonesia ini, tepatnya sih, menyebalkan, hehee...

Biasanya, orang yang lebih tua itu:

  • Cerewet ya, suka bicara apa saja sesukanya, gak memikirkan siapa yang diajak bicara, punya waktu apa enggak, tertarik apa enggak, topiknya penting apa enggak. 
  • Menggurui, cenderung ngajarin, ya boleh lah kalau dia emang udah berhasil, canggih, melewati badai dan terpaan angin ribut, proven lah intinya ya. Lah ini, berhasil aja enggak, malah ngajarin? 
  • Suka memberikan label, menghakimi lah ya. Tetiba aja bilang bodoh, mustinya begini, mustinya begitu, berarti kamu yang salah, berarti kamu yang gak paham, bla..bla... 
  • Tidak mengerti konteks, seakan-akan yang dibicarakan orang lain itu soal dirinya. Kesannya Ge’Er ya, self centered. Dan ini diperparah dengan adanya media sosial, karena orang-orang tua ini baru mengenal internet dan media sosial hanya 1-5 tahun terakhir kan. Nah, mereka gak ngerti bahwa apa yang terjadi di media sosial itu gak necessarily dan litterally happens in real life, atau juga musti ditanggapi dengan serius. Orang tua yang baru mengenal medsos bahkan bisa lebih ABG dari ABG yang aslinya, mereka ngecek notif, memperhitungkan like secara serius, dan demanding komentar dengan ganas, hahaaa..... 
  • Dan karena tidak paham konteks itu, diajarin yang detail juga sudah susah, dan cenderung tidak mau menerima masukan karena menganggap mereka yang lebih tua dan tau, maka itu semua menjadikan mereka gampang tersinggung dan ngambek. 

Konon kabar yang menyatakan bahwa semakin tua umur seseorang, maka akan semakin menjadi seperti anak kecil, saya rasa benar adanya, dan itu dimulai umur 50, lagi-lagi hanya observasi dan asumsi aja sih. Oleh karenanya, saya menghimbau untuk orang tua, sadar dirilah, bahwa mereka itu menyebalkan, dan bahwa segala urusan dunia ini bukan Cuma soal orang tua.

Bahwa anak-anak mereka, yang dibawah umur 50, punya kehidupan lain, punya urusan lain, sibuk menggapai cita-cita, cari uang untuk bayar tagihan, sekolah, beli rumah, mobil, dll. Masih baaaanyak yang harus dipikirkan daripada masalah urusan keluarga, dan itu tidak dipahami oleh orang yang lebih tua. Tulisan ini juga untuk mengingatkan saya bahwa nanti saya, dan istri kemungkinan besar akan seperti daftar di atas. Sekaligus juga saya baru paham kegunaan Rumah Panti Jompo. Bukan untuk membuang orang tua, malah sebaliknya, untuk melindungi orang tua dari tindakan-tindakan dari anak mereka karena tidak tahan karena bersikap seperti daftar di atas.

Kan banyak kita ketahui di berita, banyak anak yang tetap mengasuh orang tuanya, tapi sering memarahi ini dan itu karena melakukan ini itu, maka Rumah Panti Jompo, adalah solusi terbaik bagi kedua belah pihak, dan nilai tambah untuk orang tua bisa bersosialisasi dengan orang seumurannya. Itulah yang saya lihat di Swiss, mereka banyak memiliki flat-flat khusus untuk orang tua, semata-mata untuk memuliakan hidup mereka, dengan taman-taman indah, dan ada aturan dilarang berisik di kawasan tersebut. Mereka bahagia, di waktu tua mereka.

Kalau saya, jika tua nanti, hanya ingin berada di satu rumah indah diatas bukit, di pinggir hutan atau danau, bersama istri tercinta, my only one to be grow old with, duduk di teras minum kopi dan membaca koran, sesekali dikunjungi anak dan cucu. Setidaknya itu dalam bayangan saya, ya atau flat di swiss dan segala fasilitasnya juga boleh, hehee...


“orang tua itu suka bicara masa lalu, karena mereka sudah tidak punya masa depan” Kata salah seorang teman yang dikutip oleh istri





(trus, Dhis...?!!)

3.4.17

Kejengahan Politik dan Mencukupkan Ilmu Agama

Di sela-sela menulis blog tentang berkuliah di S2 MTI UI, saya ingin menulis sesuatu yang serius, tentang perkembangan terkini situasi bangsa dan negara, hehee... loh kok pake hehee... udah ah serius ahh.. jadi saya merasa tidak habis pikir (ungkapan yang selalu menjadi ciri khas saya ketika menemui hal yang mengherankan) bahwa agama yang saya anut ini, yaitu Islam, diwakili oleh orang-orang yang tidak rasional? Begitu gagahnya mereka berteriak lantang atas nama umat Islam, merasa mewakili umat islam, lalu berceramah, berteriak, bunuh, gantung, turunkan, bersikap rasis, dan caci-maki lainnya, kok bisa? Entahlah, saya hanya tak habis pikir.

Kasus Ahok ini membuat terbuka pikiran saya, bahwa ternyata agama yang saya anut, tidak lah sepenuhnya baik, orang-orangnya, yang suka mengatasnamkan agama. Betapa tidak, pertama tidak bisa membedakan penggunaan kata “pakai” dengan yang tidak. Kedua tidak mengerti konteks, ketiga suka merendahkan orang lain, apalagi jika orang itu kafir dan etnis cina, keempat gampang sekali mencap orang lain kafir dan munafik, kelima penuh prasangka, keenam egois, katanya tabayun tidak perlu dilakukan kepada orang kafir, ketujuh tidak bisa membedakan mana agama, mana orang. Kedelapan berisik, kesembilan rasis, kesepuluh kasar, entahlah... mau seberapa panjang saya membuat daftar tak habis pikir saya, baiknya saya cukupkan dulu.

Ahok akan mengikuti Pilkada Jakarta, seorang cina kristen kafir diprediksi akan menang telak. Sang penantang tentu tak senang wilayah ibukota ini dipimpin kafir, cina pula, segala daya upaya dilakukan untuk menyerang beliau, dan tentunya, mengatasnamakan AGAMA, yaitu Islam. Sang penantang bergerilya sampai ke rumah-rumah ibadah, menyebabkan masjid sudah tak nyaman lagi, setidaknya bagi saya. Betapa tidak, saya yang ingin menemukan kedamaian, kesunyian dan ketenangan di masjid, malah menemukan keberisikan, sumpah serapah, hinaaan, cacian dan makian yang menurut saya tidak pantas, tapi apalah arti saya, apalagi sumpah serapah itu.. mengatasnamakan agama, ya sudah, tak berkutik pun saya, masa bodoh, pikiran saya terlalu berharga jika hanya mendapat asupan kebencian, lebih baik saya pergi saja, mencari gua hira milik saya.

Situasi politik saat ini membuat saya jengah, saya yang sangat menyukai politik, sering membuat status politik di Facebook, akhirnya menyerah, capek, saya sadar, bahwa betapa pun beratnya saya melawan orang bodoh di media sosial, itu semua tergantung penerimaan mereka, level pemahaman mereka, prasangka yang sudah tertanam pada otak mereka, dan seberapa besar bandara di otak mereka untuk bisa menerima hidayah sebesar boeing 787 dreamliner. Tidak mudah merubah pikiran orang, lalu untuk apa saya capek-capek, hidup saya terlalu berharga kan. Biar saja mereka bodoh, toh mereka menganggap diri mereka pintar. Kini saya merasa bebas, tidak lagi membuat status politik, dan hal itu membuat saya tenang. Politik memang memecah belah, ya itulah yang saya baru sadari yang memaksa saya untuk stop dan berhenti buang-buang waktu berdebat soal politik.

Kasus Ahok sangat menyadarkan saya, bagaimana tidak, seorang Gubernur yang sudah berbuat banyak, sangat banyak, mulai dari membangun sistem keuangan yang transparan, menerima keluhan masyarakat, membuat aturan brilian pengganti pajak bumi dan bangunan dengan koefisien lantai bangunan, sehingga pemilik gedung lantai tinggi harus bayar pajak berdasarkan ketinggian lantainya, bukan berdasarkan luas tanahnya lagi, ide brilian tentang normalisasi sungai, KJP, KJS, relokasi pemukiman kumuh ke rusun, membangun RPTRA atau taman-taman di atas kekumuhan, membangun plaza agar masjid kumuh jadi tempat wisata, dan masiih banyak lagi. Oh ya, ide brilian yang tentang koefisien lantai bangunan tadi, berhasil membuat terlaksananya proyek simpang susun semanggi senilai 300an milyar, tanpa APBD, gratis! Sudah segitu banyak yang diperbuat oleh Ahok, tetap saja ada orang bodoh yang kontra dengannya, orang bodoh yang menganggap plaza yang mau dibangun adalah Mal, bukan tanah lapang yang luas, ya sudahlah, memang bandara hidayah di otaknya mungkin cuma cukup untuk sekelas pesawat latih cesna, mau gimana lagi? yang terlihat hanyalah Ahok itu kafir dan cina, sangat primitif argumen mereka. Ya, politik memang memecah belah, membuat dua kubu menjadi berlawanan, dua teman jadi musuh, dua kerabat menjadi saling sindir, semua gara-gara politik.

Saya sadar bukan karena politiknya sih, tapi karena orang-orangnya yang tidak siap dengan perbedaan, berbeda berarti menjadi musuh, begitulah cara pikir orang tua kita dan guru kita sejak kecil. Kita tidak diajarkan menerima perbedaan pendapat, mengatasi masalah dengan cara lain, kita tidak diajarkan mengapa suatu hal harus dilakukan, dan pula tidak diajarkan untuk membaca dengan seksama, membaca jurnal, berbagai macam tafsir, berbagai metode untuk beribadah.

Untuk itu saya memutuskan berhenti membuat komentar dan status politik. Kalau komentar masih ada, setidaknya dikurangi, kalau status rasanya saya ingin berhenti saja. Karena kasus Ahok ini membuka mata saya, sebagus apapun orangnya, jika warga atau rakyatnya sudah benci bukan kepalang tanpa ada rasionalitas lagi, maka apapun tidak akan bisa menolongnya. Ya sudah, saya tidak peduli. Yang penting saya akan tetap membaca, menganalisis situasi, berpikir, semata-mata untuk mempertahankan sisi kerasionalan saya.

Lalu bagaimana dengan agama? Saya muak, saya muak melihat tingkah sebagian orang yang mendadak alim dan overdosis agama, karena kasus Ahok. Sudah bodoh, sombong lagi, dan mengatasnamakan agama. Ahok dituduh penista agama hanya karena mengutip Al-Maidah ayat 51, bahkan dituduh menafsirkan sendiri Al-Maidah 51. Seluruh negeri heboh, belingsatan. Parahnya tak bisa membedakan kalimat yang ada kata “pakai” dan tanpa kata “pakai”. Ahok dituduh menista Al-Quran karena menganggap Al-Quran sebagai alat untuk kebohongan, dan lebih jauh Al-Quran yang telah berbohong, atau menista agama karena menghina Ulama, karena Ulama lah yang berhak menyampaikan Al-Quran, dan Ulama tak pernah berbohong, benarkah?

Bukan kepalang hebohnya, aksi 411 dan 212, dan berlanjut aksi lainnya ditanggal cantik hanya demi menekan hukum dan mencaci maki Ahok. Berdatangan ke jakarta, pakai baju jubah putih, dari seantero negeri, berbondong-bondong ke jakarta, rela berpanas-panas, rela meninggalkan pekerjaan, atau jangan-jangan memang pengangguran? Saya muak, saya tidak rela agama yang saya anut diwakili oleh orang-orang semacam itu, saya hanya bisa diam. Menentang? Akan dibilang munafik, kafir, jenazah tidak akan disolatkan dan sebagainya. Teman facebook yang sering share konten porno mendadak alim, pasang foto profil kalimat Tauhid, katanya walau belum pasti masuk surga, tapi sudah pasti menghilangkan salah satu syarat masuk neraka, hanya dengan ikut aksi dan sering share di FB.

Sekali lagi aksi Ahok membuka mata saya, betapa agama memecah belah, betapa agama membuat manusia tidak produktif, bayangkan, umat lain sudah sampai bulan, mars, bahkan sudah ke luar tata surya kita lewat misi voyager, umat kita masih ribut urusan remeh temeh soal Al-Maidah 51 dan pemujaan berlebihan kepada ulama. Klaim 7 juta orang yang ikut aksi dengan damai katanya, tak menbuat saya takjub, kenapa harus takjub? Apa kontribusi untuk pembangunan? Apa kontribusi untuk ilmu pengetahuan? Energi sebesar itu sayang sekali tidak dimanfaatkan untuk gali terowongan MRT misalnya, lebih bagus kalau bawa pacul dan pengki dari daerah masing-masing, MRT jakarta akan selesai hanya 2 minggu.

Sudah bodoh, sombong pula, tidak bisa membedakan mana Al-Quran, mana Mushaf. Al-Quran itu disebarkan secara mulut ke mulut, bunyi ke bunyi. Tapi mayoritas orang kita ini baru baca Mushaf, terjemahan pula sudah berlagak ahli tafsir, koar-koar bilang “ayatnya sudah jelas”-“ayatnya sudah jelas”. Apanya yang sudah jelas? Terjemahan? Percaya 100 persen dengan terjemahan sama saja rela terjerumus dengan rayuan setan.

AL-QURAN ITU TIDAK BISA DIPELAJARI DENGAN TERJEMAHAN, APALAGI MEMVONIS ORANG DENGAN TERJEMAHAN, nah itu saya tulis dengan kapital saking kesalnya. Terjemahan hanya alat bantu untuk memahami, bukan hasil akhir dari makna Al-Quran itu sendiri, karena Al-Quran adalah bunyi yang diturunkan dalam bahasa Arab. Tidak ada satupun metode yang bisa menerjemahkan bahasa satu ke bahasa lain yang 100 persen benar, tidak ada, karena setiap bahasa memiliki rasa, setiap bahasa memiliki perbendaharaan kata masing-masing yang berbeda, apalagi bahasa arab ke bahasa indonesia. Yang bisa dilakukan adalah menafsir, dan tafsiran pun tidak 100 persen benar, yang bisa dicapai adalah “mendekati” kebenaran. Itulah yang namanya tafsir.

Mengapa kesal? Tentu kesal dan merasa sakit hati, ketika kebodohan akan tafsir dipertontonkan secara gamblang di muka ceramah mimbar jumat. Saya sedih, karena agama saya direpresentasikan oleh orang bodoh, orang lain yang mengaku beragama sama, ternyata berlaku yang tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Karena agama adalah sejatinya hanya bahasa, sekumpulan metafora dan simbol yang gunanya untuk berkomunikasi, mengekspresikan yang sulit diekspresikan, sesederhana itu sebenarnya makna agama, sebuah bahasa. Akhirnya saya pun lelah, muak dengan agama, ketika agama dijadikan alasan berpolitik, untuk tidak memilih suatu calon, seakan-akan semua hal harus berlandaskan agama, tentu tidak. Apa yang terjadi dengan ahok dan berbagai macam aksi menentangnya dengan memakai agama, sungguh sangat terlihat mematikan rasionalitas. Untuk itu saya menyerah, saya masa bodoh, saya tak peduli dengan politik dan agama, kedua-duanya mematikan cara berpikir dan rasionalitas, serta yang paling penting adalah anti-kebhinekaan.

Orang-orang yang anti ahok, aksi sana sini, melarang memilih pemimpin non-muslim, mengkafirkan sesama muslim, menghakimi sebagai munafik kepada orang lain, sungguh membuat saya bertanya besar, apakah tujuan beragama seperti itu? Bagaimana dengan hak asasi manusia, bahwa setiap manusia adalah sama, bagaimana dengan pancasila, dengan negara kita sendiri? Entahlah, sulit saya cerna, namun banyak yang memiliki pemikiran seperti itu, tua, muda, S1, S2, Doktor sekalipun, saya hanya bisa tercengang dan masa bodoh.

Saya bisa paham, sangat paham, kenapa? Karena saya pernah di posisi mereka, mungkin karena waktu muda saya tidak cukup punya banyak teman, yang saya lakukan hanya membaca majalah sabili, buku the choice ahmad deedat, atau mengikuti artikel koran tentang gerakan-gerakan yang saat ini saya pahami sebagai radikal, dulu tentu saya tidak berpikir demikian. Pernah suatu masa saya menganggap osama bin laden, habib rizik, pembom bali 1 dan 2, organisasi semacam laskar jihad, FPI, dll adalah pahlawan, mereka adalah islam sesungguhnya. Saya pun pernah dalam fase sangat mengidolakan mereka, ingin bergabung dengan mereka, ingin langsung terbang ke afghanistan, ya saya pernah seperti itu, walau hanya niat, maklum masih muda, inginnya perang, terlihat keren, mungkin.

Semua yang berbau tidak sesuai dengan ajaran Al-Quran saya anggap bidah, tahlilan, solawatan, mauludan, pernah saya anggap bidah dan bodoh. Ya, itu dulu. Sekarang saya telah berubah, tapi malah kini banyak orang yang bersikap seperti saya yang dulu. Mungkin sayanya saja yang terlalu cepat, dan mereka masih dalam tahap belajar. Lalu apa yang membuat saya berubah? Merasa tercerahkan? Mungkin sebagian faktor yang merubah saya adalah karena pernah tinggal di swiss selama hampir 3 tahun, negara paling indah, teratur, dan sangat islami!!. Kotanya, negaranya, infrastrukturnya, orangnya, taman-tamannya, semuanya, INDAH!!. Mengapa? Karena mereka menghargai perbedaan, kesadaraan kolektif bahwa berperang sangat tidak ada gunanya, bahwa kesejahteraan bersama haruslah menjadi tujuan semua orang, oleh karena itu semua orang harus disiplin, teratur. Di sana air minum gratis, taman indah gratis, sungai bening, transportasi bersih dan terawat serta teratur, tempat wisata mudah diakses, pendidikan gratis, pelayanan kesehatan maksimal dan peduli dengan pasien, malam-malam yang sepi, pemimpin yang digilir setiap tahun dan hanya mendapat fasilitas tiket abonemen kereta, serta masih sangat banyak lagi.

Dari situ saya berpikir, berkontemplasi ke dalam, ke negara sendiri, negara kita yang memiliki lebih dari 13.000 pulau, 400 lebih suku, 700 lebih bahasa dan dialek. Bahwa persatuan jauh lebih penting dari apapun, bahwa kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, pelayanan kemasyarakatan adalah jauh lebih penting untuk dipikirkan daripada hanya berlelah hati dan menguras energi untuk memikirkan sebaliknya. Retorika yang bilang bahwa saya baik, kamu jahat, saya benar, kamu salah, saya masuk surga, dan kamu masuk neraka adalah sangat mengkerdilkan arti negara kita sebagai anugrah dari Tuhan.

Belajarlah menghargai perbedaan, pikirkanlah hal-hal yang penting, berpikir jauh ke depan, tentang ilmu pengetahuan, kedokteran, energi alternatif, eksplorasi laut dalam, eksplorasi angkasa luar, dan lain sebagainya. Sudah cukup dengan agama, namun bukan berarti atheist, oh tidak, saya adalah orang yang relijius, namun lebih memilih mengekspresikan keyakinan saya di tempat yang sunyi, sepi, dimana saya bisa berkomunikasi dengan sang Pencipta dengan lebih intim dan personal. Bukankah islam sendiri itu artinya damai?

Tulisan ini tak ada gambar, hanya tulisan, buah pemikiran saya sendiri.
(trus, Dhis...?!!)

23.3.17

Semester II - MTI UI

Yeay..!! here we come di semester 2, yaitu awal tahun 2016, yess..!! setelah puas liburan skitar 2 bulan, kami liburan di puncak, dan anyer, kini kami kembali ke kampus, kembali ke capek dan ngantuk, pulang selalu jam 10 malam, hadeeh... ya sudah lah ya, disyukuri sajah.. hahaa.... oh ya lupa pelajaran berharga di semester 1 kemarin adalah saya bisa INSPECT ELEMENT, wkwk... jadi kita kaget pas liat-liat nilai di SIAK, kok ada temen yang share nilainya 100..!! eeh.. ada temen laen lagi nilainya bisa 120..!! wkwk... ternyata pake yang namanya inspect element, klik kanan di web SIAK, inspect element, search atau find, ubah nilai, reload, foto deh, dijamin berhasil nipu banyak orang, haha.. 

1. PITI (Perencanaan Infrastruktur Teknologi Informasi) 
Ini diaa... eh kenapa emangnya, hehee.... yah ini matkul pertama yang akan gw bahas, ini soal PERENCANAAN, yak, 1 kata yang bakal sering gw denger di semester 2 ini. Oke, perencanaan, yang direncanain adalah infrastruktur. Kita sering denger kata infrastruktur dan yang paling kita tau bahwa itu adalah hardware, ternyata artinya lebih dari itu. Ciri dari infrastruktur adalah DIPAKAI BERSAMA layaknya jalan raya atau jembatan, nah dalam TI, semua hal yang dipakai bersama, mau itu software, hardware yang dipakai bersama sebagai dasar dan digunakan untuk mendukung hal yang lebih tinggi lagi, maka itu dinamakan INFRASTRUKTUR.





Untuk bisa dipakai bersama-sama dengan baik dan bisa dengan tepat mendukung bisnis kita, maka harus direncanakan, agar.... kita bisa tau kebutuhan kita bagaimana, kapasitas sekarang seperti apa, bagaimana merancang pemulihan bencana, bagaimana agar meminimalisir Outage, gitu lhoo... hehee... Langkah pertama tentu kita musti kelompokin, nah dalam infrastruktur ada 3 pendekatan, yaitu platform, service, dan pattern, dimana setiap pendekatan itu kalau dipakai bersama maka itu dinamakan infrastruktur. Disini juga dipelajari soal manajemen tingkat layanan itu apa aja, lalu merancang SLA yang benar, merancang data center dan pemulihan bencana.



Dosennya nyentrik, masih anak muda banget, rambut gondrong, dan ngajar pake jaket kulit bekas motoran, hahaa.... asik lah pokoknya, gak terlalu demanding juga. Dosennya juga sering cerita pengalaman dia menjadi penjaga server, ngerjain proyek dsb. Ujian juga normal ada UTS dan UAS dengan open note, jadi kita musti catet kecil-kecil banget karena open note Cuma sebesar kertas A4, hehee... tugas? Ada, ribet, eh gampang deh, Cuma berbentuk slide aja, untuk dipresentasiin. Tugasnya tentang PITI. Tugas PITI yah kayak Pra-nya PSSI, PSSI akan dijelaskan berikutnya. Kita pake studi kasus Telkomsel, ya sama kayak PSSI sih, malah kita Cuma comot persis dari bagian strategi TI di tugas PSSI, Cuma kita tambahin jadi slide PPT, udah sih itu doang.



Overall, gak terlalu ngerti, hahaa... mungkin juga dari dosennya udah bikin ngedown juga sih, dia bilang infrastruktur tuh bukan bagian yang penting, karena gak mendatangkan competitive advantage, karena sekarang setiap organsiasi punya infrastruktur yang seimbang, sama-sama punya jaringan, data center, server, dll, kan? Trus apa yang bikin berbeda? Ya strategi bisnis dan sistem informasinya aja. Slide tugas PITI tuh kita bikin ya standar ya, visi misi, permasalahan strategis, kondisi TI saat ini, visi arstitektur, portofolio aplikasi, landscape aplikasi, strategi TI, analisis kesenjangan, dan terakhir adalah ROADMAP. Waktu presentasi ya cukup kebantai sih, ditanya ini itu darimana asalnya, trus kenapa pake ini itu, hahaa... yah jawabnya spik-spik aja, kekekeee....oya untuk bikin landscape arstitekturnya pake TOGAF, disinilah pertama kali tau soal TOGAF, dan bakalan kepake banget ternyata ya buat bikin IT Master Plan gitu-gitu lah.





Oke, kembali ke dosen yang bilang infra itu gak penting, ternyata, pas balik ke kantor setelah lulus, infra itu puenting bangeeet..!! maha penting infra dengan segala duitnya, hahaa... ya karena model pembelanjaan PNS apalagi klo bukan buat beli BARANG? Nah disinilah kita musti pintar-pintar putar otak mau beli apa lagi disetiap awal tahun anggaran, pusing gak lo, bukannya mikirin belanja untuk pelatihan, license, sertifikasi, audit, dll. Eeh... kantor mah malah senengnya beli barang.. hahaa....

2. PSSI (Perencanaan Strategis Sistem Informasi) 
Gw kira bakal belajar apaan ya... ternyata it’s all about ITMP, yeaa. IT Master Plan, IT Blue Print, atau kalau terakhir-terakhir pas kerja sekarang namanya RISTIK (Rencana Induk Strategi TIK) yuhuuu... keren kan, hehee... belajarnya ngapain? Agak sedikit awang-awang, intinya adalah cara membuat ITMP itu, kayak konsultan/vendor yang dibayar ratusan juta!! Yeaay... langsung ngebayangin klo kerja bikin ITMP buat kementerian yang stafnya pada bodoh dan bayarin kita sebagai konsultan bermilyar-milyar, heheee...




Belajarnya text book banget bukunya ward and peppard, judulnya SPIS (Strategic Planing Information System), well bukunya keren, kata dosen sih begitu, dipuji-puji mulu sama dosen-dosen. Bukunya tebel, hhmm... tipikal buku yang disusun orang tua ya, gak terlalu jelas mendetailkan teknis, kebanyakan konsep dan awang-awang. Karena agaknya membuat PSSI ya bebas-bebas aja, setiap orang bebas berkreasi, supaya gak mandeg idenya dan sesuai dengan kebutuhan organisasi masing-masing.




So apa itu PSSI? Pertama kita belajar tentang evolusi peran TI, jadi dulu awalnya TI itu sekedar data processing, Cuma ngitung dan memproses data, lalu berkembang menjadi MIS (Management Information System), kayak website gitu... nah sekarang eranya Big Data, Data Mining, Data Warehouse, Forecasting. Katanya pencapaian tertinggi pengunaan TI adalah kalau sudah bisa memforecasting, meramal, memperkirakan, ya bener juga sih. Setelah evolusi kita juga harus mikir soal peran TI, TI-nya mo jadi apa? Naaah... dulu itu TI hanya sebagai support atau pendukung, mustinya TI yang baik itu adalah yang menggerakkan bisnis, dan dapat menciptakan peluang baru berkat penggunaan TI. Matkul ini mirip-mirip MIK (Manajemen Informasi Korporat, dijelasin nanti), Cuma disini belajar soal strategi teknisnya, SI-nya dan Infra-nya. Intinya si perencanaan dan pemetaan, pemetaaan SI dengan McFarlan Portofolio.

Kenapa butuh PSSI? Setiap pertemuan selalu ditanya dan dibahas, jadinya hapal deh, hahaa.... PSSI digunakan terutama untuk meng-align alias menyelaraskan antara strategi bisnis dengan strategi SI/TI, gak tau kenapa jadi SI dan TI adalah hal terpisah. SI adalah interaksi antar orangnya, TI adalah cara mencapainya/delivernya. Yah begitulah, mengawang-awang kan ya. Tujuan lain PSSI adalah agar tidak terjadi silo-silo (istilah yang bakal sering didenger kedepannya). Silo-silo adalah pulau-pulau informasi dalam satu unit bisnis/organisasi, banyaknya aplikasi dengan data yang sama, atau banyaknya aplikasi namun gak bisa saling berhubungan, atau banyaknya aplikasi yang gak jelas apa tujuannya, dan banyaknya unit organisasi dalam satu kantor yang bisa membangun aplikasi serampangan.



Bagi MTI itu semua BERBAHAYA, hahaa... jadi diperlukanlah PSSI agar setiap orang dalam perusahaan punya pandangan yang sama tentang strategi bisnis dan apa yang dicapai oleh bisnis, dan bagaimana TI bisa mewujudkannya, melalui strategis SI/TI, gituu ceritanya, fyuuh.... tujuan sampingan ya supaya tidak kehilangan momentum bisnis dan supaya tidak kehilangan pendapatan lainnya. Okey, cut the crab, stop omongan gak jelasnya, langsung ke tugasnya aja, yaitu membuat PSSI/ITMP.

Baik dosen ataupun asdosnya gualak banget, jutek lah pokoknya, dan sadis, ya ngajarin gitu-gitu aja, konsep doang, tapi teknisnya ga, ya kita cuma meraba-raba aja deh. Jadi intinya ya membuat PSSI itu adalah strategi, STRATEGI adalah membandingkan kondisi saat ini, dengan kondisi ideal atau yang ingin dicapai, lalu ada gap analysis, susun strategi dan roadmap, that’s it..!! udah itu aja, hahaa... ya ngemeng mah enak, pelaksanaannya gimana? Wkwkk... ya udah kita contoh lah bekas tugas senior kita, kekeee....

Langkah-langkahnya adalah seperti gambar dibawah, dah itu aja, itu muluuu yang dijelasin dengan kata mengawang, detailnya gak diajarin, toolsnya apa gak dikasih tau disuruh belajar sendiri. Intinya ada 3 phase, phase analisis kondisi saat ini, phase kondisi masa depan, dan phase strategi/roadmap. Hasil dari PSSI harus ada business IS strategi (aplikasi), IS/IT Strategy Management (pengaturan SDM), dan IT Strategi (Infrastruktur) di setiap phasenya, susah pokoknya, hahaa... kita ngerjain sekenanya aja, gak ngerti mo ngapain, pas phase-1 dikumpulin, jreng..jreng habis kita dibully, katanya analisisnya dangkal, kok halamannya dikit, mustinya halamannya banyak skitar 50an lah.. 



Disitu kita baru tau ternyata ini tugas serius, hasil akhirnya bakal ada ratusan halaman. Disitu juga baru dikasih tau analisis tuh toolsnya kayak SWOT, Value Chain, PESTEL, apaan lah, kenapa gak ngomong dari kemaren-kemaren nyet... hadeehh... dibully abis pokoknya, pakek diancem bakal gak dilulusin, sereeem dah... heheee... pake toolsnya gimana? CARI TAU SENDIRI... hahaa.... Lalu tibalah tugas phase-2, kita mulai serius, kita wawancara orang Telkomsel, kebetulan ada temen yang kerja disitu, mulai kita susun pertanyaan, rekam, bikin transkrip, bagi-bagi tugas, mayan, halamannya udah lebih banyak, wkwkkk...tugas kok dinilai dari jumlah halaman. Intinya tugas ini berkesan lah pokoknya, mana gw termasuk yang kelompoknya dapet perhatian dari asdos karena tugasnya masih kurang bagus, sial...



Berkesan capek banget tugasnya, musti banyak baca halaman yang banyak, lalu diakhir tugas ada presentasinya, dibully asdos, ahh capek... tapi worthed lah, karena ilmunya berguna banget, kita jadi tau proses membuat ITMP, jadi pas baca ITMP kita gak bingung kok tiba-tiba muncul ada aplikasi ini darimana, ternyata dari RENSTRA, atau darimana roadmapnya, dari analisis kondisi masa depannya, begitulah.. Dulu sebelum kuliah kita gak ngerti apa itu ITMP, apa gunanya, bacanya juga gak ngerti darimana dapetnya, sekarang udah tau, jadi klo ngobrol sama bapak-bapak lulusan S2 TI udah nyambung, dulu mah mereka ngomongin TI kita semua bengong deh.

3. MIK (Manajemen Informasi Korporat) 
Mata kuliah tentang manajemen,bisnis, dan strategi, wah kalo ngomongin MIK gak akan ada habis-habisnya, dan setiap ketemu temen lama atau reunian pasti yang akan diomongin ya tentang mata kuliah MIK ini dengan dosen fenomenal pak BR. Dosennya galak bro, hahaa... gak boleh telat, klo telat gak boleh masuk. Tiap jam kuliahnya, kita musti baca tema apa yang bakal diajarin, jadi musti baca silabus dan baca bukunya, karena kita disuruh ceritain apa yang kita baca, dan ada tanya jawab juga, gak bisa jawab atau gak ada yang mo ceritain? Bakal dimarah-marahin plus nilai minus, hahaa...



Sumpah dah, ini satu-satunya mata kuliah yang membuat jumlah mahasiswanya mau gak mau sering masuk dan jarang bolos, apalagi telat, udah gitu setengah jam sebelum kuliah dimulai kita bakal anteng di kelas baca-baca, hehee.... keren emang ye taktik bapaknya, bikin semua orang deg-degan sport jantung. Trus bisaaa aja bapaknya ngebully, ntar dibilang kenapa gak dapet beasiswa lah, kuliah di IPB lah, ketuaan lah, level S1 lah, gw lempar pake sepatu lah, sampe pernah dapet tugas yang ada presentasinya, trus kita gak bisa jawab apa itu IPO, wkwkkk...

Dah cukup lah soal BR-nya, kini soal kuliahnya, tentang... bisnis... yap... 100 persen bisnis dengan belajar full text book dari applegate, dosen harvard business school yang fenomenal itu. Ini ajarannya adalah tentang model bisnis, atau business model, bagaimana IT mendukung dan merubah model bisnis, bagaimana IT bisa selaras dengan model bisnis. Bagaimana menggunakan analisis Five Competitive Forces, McFarland dll. Asiknya adalah kita belajar lewat studi kasus, atau case study, entah kenapa kalau pake bahasa inggris lebih enak ya, hahaa... jadi di buku itu ada materi, lalu case study bagaimana peran IT dalam merubah model bisnis atau menjadi inspirator perubahan model bisnis, istilah kerennya Driven by IT. Studi kasus terkenal itu tentang American Hospital, Amazon, Layanan Tiket, bubble dot com era, kasus enron sehingga munculnya peraturan Sarbane-Oxley, dimana setiap perusahaan, terutama perusahaan keuangan/saham wajib menyimpan datanya dengan baik dan akurat.

Pertemuan 1-4 masih rajin tuh materinya ada di SCELE, kesininya gak ada, SCELE-nya kosong, hahaa... ya soalnya belajarnya cuma dari buku itu aja sih, jadi ya gak perlu donlod apapun dari SCELE. Gw cek di folder gw juga gak ada tuh slide materi apaan kek, karena bapaknya ngajar pake slide entah darimana, paling Cuma 4-5 slide, tapi bisa ngemeng sampe 2 jam, sambil bahas studi kasus yang di buku, tanya jawab, bully, ketawa-tawa, marah-marah, wah pokoknya horor, hahaa..... sport jantungnya itu lho, unik dan khas.

Studi kasus tuh kayak bahas Amazon, gimana dulu amazon berdiri, dari jualan buku, lalu berubah jadi jualan barang apa aja pake pihak ketiga, lalu berpartner dengan toys r us, nah peran TI dimana. Lalu studi kasus pelayanan tiket di amerika, dulu ada airlines yang masang dedicated line untuk pemesanan tiket ke counter-counter di seluruh amerika, naah, airlines lain gak bisa masuk, atau bayar sewa, karena jaringannya udah disediain sama si airlines yang canggih itu. Trus ada studi kasus tentang Enron, semacam perusahaan energi yang memanipulasi data keuangan sehingga terlihat selalu untung, jadi sahamnya selalu naik, padahal perusahannya bobrok. 



Secara substansi apa yang diajarin ngena banget dengan kehidupan sehari-hari, kita jadi tau peran TI, dan SDM di organisasi, bagaimana managingnya, GRC (Governance, Risk, and Complience)-nya berperan dalam penerapan TI. Bahwa TI, tata kelolanya, bukan sekedar teknologinya, sangat berperan untuk menjadikan TI sebagai penggerak bisnis utama, dan bahkan menciptakan peluang bisnis baru, berdasarkan analisis Five Competitive Forces buatan Porter. Selain hal diatas, kita juga belajar studi kasus terkini, yaitu trend e-commerce, Go-jek, Uber, dll. Apakah akan bertahan lama? Atau bakal terjadi bubble burst tahun 2000an dulu?



Menurut bapaknya, yang akan bertahan lama adalah Matahari Mall, karena mereka memang punya barangnya yang asli, kemudian dijual kembali lewat e-commerce. Menurut gw sih enggak, karena selain saingan udah banyak banget, kecenderungan orang-orang dan toko-toko tuh semakin mengarah ke kustomisasi dan konvergensi, mengerucut spesifik pada satu jenis barang. Kalau Matahari ya kayaknya orang dah pada males lah ya, liat aja pada sepi kan, hehe... yah Cuma menurut gw doang sih, apalah gw, Cuma butiran rinso, sekali kucek pun ilang.

Oya selain pak BR, dosen yang ngajar juga pak RS yang kata cewe2 sih ganteng banget, putih plus arab. Ahh gitu doang ganteng. Dah itu aja.

4. MPPI (Metodologi Penelitian dan Penulisan Ilmiah) 
Jreng..jreng... inilah mata kuliah paling horor, mata kuliah yang akan menentukan kelulusan kita smua, wkwkkk... karena klo gak dapet A/A- maka gak boleh ngerjain KA di semester 3, itu artinya harus nambah biaya seharga 1 motor vario, kata mas dian, calon CIO PLN. Wekekekekkk... kebayang kan betapa menyengatnya aroma persaingan di mata kuliah ini, yaitu bersaing dengan mata kuliah lain yang tugasnya juga sealaihum gambreng. Intinya, eh udah intinya aja, hahaa... ya intinya soal metodologi dan penulisan ilmiah. Dijelaskan bahwa level S2 itu problem solving bla..bla.. sama kayak kegiatan pas waktu OMB sih. Intinya adalah mencari masalah, penarikan masalah, studi literature, dan merancang metodologi.



Jujur, mata kuliah ini dengan dosennya pak RS memberikan pengalaman berbeda dibanding mata kuliah yang lain. Pikiran gw seakan terbuka, TERCERAHKAN lah pokoknya, amat sangat TERCERAHKAN. Karena apa yang beliau sampaikan tuh udah sesuai banget dengan pikiran gw selama ini, Cuma ya pikiran doang, gak sampe jadi tulisan apalagi slide. Slide-slide pak RS juga satu-satunya yang meriah berwarna dibanding mata kuliah yang lain, yah jadi bikin semangat aja setiap ikut kuliahnya, hehee... pada awal-awal kuliah masih asik banget kuliahnya, jadi soal cara berpikir manusia yang terbagi 2, yaitu ada rasional, emosional dan kultural. Lalu cara berpikir rasional pun bermacam-macam, ada yang secara statistik, matematika, logika, dan bahasa atau argumentasi. Kesemua hal itu, diperlukan untuk membuat keputusan, atau decision making, yang harus mengandung 3 hal, GOOD THEORY, GOOD DATA, AND GOOD METHODOLOGY, ituuuu terus yang diulang-ulang, and it’s all so true, gw sukak banget pelajaran kek begini.





Lalu apa itu penelitian (research)? Penelitian adalah kegiatan yang sistematis untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi, dalam rangka meningkatkan pemahaman kita terhadap suatu fenomena yang kita suka atau yang menjadi perhatian kita. Nah itu! Hehee... jenis-jenis penelitian ada applied (terapan), policy (kebijakan), positivist (develop law), intrepretive (aspek why, naratif, bercerita). Nah, di MTI akan heavy ke Policy research, yang terbagi menjadi 2, yaitu ada evaluatif, dan ada desain. Nah karena si bapak RS ini memang konsultan akut, jadi ya kita beruntung dapet ilmu soal konsultan gitu, misal tentang FGD dan kaitannya dengan intrepretive research, bahwa kebenaran itu ya adanya di setiap pikiran orang masing-masing, dengan FGD, semacam rapat, semua ide-ide dikumpulkan, lalu dicarikan polanya, dan menjadi suatu solusi, itu aja sih simpelnya.

Di minggu ke-2 mulai deh horornya, tugas 1 launching, yaitu bikin BAB-1, ya BAB-1, jadi tugasnya ke depan bikin BAB-1 sampe BAB-3 lengkap. Yang kalau nilainya A/A- berarti dah dianggap layak menjadi proposal KA. Oya untuk BAB-1 ini titik krusialnya adalah di problem analysis, apakah kita bisa menemukan masalah dengan tepat, bukan masalah yang dicari-cari, atau masalah yang dibuat-buat. Toolsnya adalah dengan fish bone, sama persis seperti OMB dulu. Wah, rasanya deg-degan, campur aduk, karena ini adalah tugas INDIVIDU, bukan maeeen.

Di sela-sela minggu kuliah, ada materi penghibur, yaitu soal Desk Research/Secondary Research, ini lanjutan materi soal jenis-jenis penelitian itu. Dinamakan Desk Research karena memang datanya adalah berupa kata/data hasil penelitian orang lain, yang kemudian kita gabung-gabung untuk mendapat pola dan menjawab asumsi/hipotesis kita. Fyuuh.. yah dinamakan penghibur karena memang gak ada peminatnya, wkwkk... kesannya sih gampang, tapi nyari datanya bakal susah, dan ribet, gak semua instansi mau ngeluarin data. Jadi ya, sebagai penghibur aja. Dan juga desk research juga belum terlalu ngetrend ya di Indonesia. Begitu kata si dosen.



Lalu berapa tugas BAB-1 guwe? Jreng.. jreng.. Cuma belasan, wkwkkk, Cuma 17 apa yak... itupun termasuk tinggi juga lho, banyak yang nol..!! ya nol..!! kita semua kaget pas dibalikin hasil tugasnya, karena ada semacam list penilaian, dinamakan borang, kita juga baru tau, wow!! Amat sangat presisi sekali list penilaiannya, bahkan untuk bagian RQ (Research Question) musti ada tanda tanyanya, dan itu ada poinnya. Dasar masalah ekspektasi dan realita, itu ada poinnya. Dan, banyak faktor yang bakal bikin nilai terhenti, misal dasar masalah kurang kuat, mengada-ada, atau gak selevel S2, bahkan jika penulisan referensi dan daftar pustaka salah sebanyak 5x, maka nilai terhenti, sadiisss!!. Yang jelas saat itu, hati gw terasa pupus, hancur, luluh lantak, terbayang musnah impian kuliah 3 semester, karena perjuangan untuk dapet A/A- makin berat, hiks..

Lanjut kuliahnya, ada pelajaran soal, SSM (soft system methodology), makin ke sini, makin kualitatif aja, karena itu memang keahlian pak RS sih, konsultan banget. Bahwa setiap orang punya ide masing-masing, kita musti temuin polanya, lalu kita jadiin rich picture, nah nanti akan jadi solusi, atau kebenaran sesuai konsensus pada saat itu, melalui FGD (Focus Group Discussion). Untuk kualitatif, metodenya ya hermeneutics, atau ilmu tentang kata, olah datanya lagi pake coding, tagging, atau yg lainnya, jadi kata itu diolah, dikasi kode yang semirip, dikumpulkan dan dianalisa, misal banyakan mana, atau maknanya apa.



Lanjut ke tugas 2, yaitu membuat BAB-2 yang isi utamanya adalah studi literature, atau literature review. Studi literature isinya ya tentang definisi atau istilah yang kita jadiin kata kunci dari RQ, misal RQ’nya evaluasi kepuasan layanan aplikasi bla...bla.. untuk mendukung bla.. bla... nah minimal punya 3 kata kunci. Trus dari masing-masing kata kunci kita cari definisinya, contohnya, dan penelitian sebelumnya dengan metode 3C2S!! Ya 3C2S tuh metode canggih, isinya Compare, Contrast, Critize, Summarize, dan Syntesize. Dari mana? Dari SUMBER TEORI!! Aaahhhh musti banyak bacaaaaa... dari jurnal, buku teks, KA sebelumnya dll. Pada fase inilah mulai banyak banget buka remote lib untuk mengakses berbagai macam database jurnal terkenal macam Proquest, Science Direct, IEEE Explore dll. Nilai gw di tugas 2 ini? Cuma 20an, hahaa... semakin pupus..



Perkuliahan selanjutnya diajar oleh Bu BP, seorang wanita luar biasa, ketua DSTI UI, semacam kepala TI-nya lah, oh, CIO-nya UI!! Kereen banget, ngajarnya detail banget, kebanyakan sih dia tentang kuantitatif, statistik, cara membuat kuesioner, menyebarkan kuesioner. Pokoknya diajarin bahwa semua yang kita tulis di KA harus ada contohnya di jurnal atau penelitian sebelumnya!!. Wah ribet, hehee... metode ajar dia simpel, kita langsung dibawa ke contoh jurnal, ada 3 yang menurut dia sangat bagus. Jadi mata kita dibukakan dengan belajar langsung dari jurnal, bagaimana mencari dasar masalah, mencari RQ yang kadang tersembunyi, mencari TF yang kadang bukan hanya gambar, lalu masuk ke metode, dan penyusunan kuesioner. Bagaimana kotak-kotak indikator dalam model TAM atau DeLone and McLean menjadi beberapa pertanyaan, dan pertanyaan itu bersumber dari mana, yah begitulah.

Ibu ini pokoknya keren, ngomongnya datar, jelas, tone-nya soft, namun menekan merangsek masuk ke dalam hati, nyelekit pokoknya kalo udah ngomong soal KA. Hahaaa..... dosen MPPI inilah dianggap sebagai dosen killer, kenapa? Karena mereka akan tau apakah KA kita sempurna ataukah KA kita cuma akal-akalan kita doang, kekekekee....

 Lanjut tugas 3, yaitu bikin BAB-3, itu tentang metodenya bakal pake tools apa, alur penelitiannya juga gimana, inputnya apa, prosesnya apa, trus output setiap kegiatannya apa. Disini gak terlalu ribet sih, intinya kita comot dari bab 2 yang menurut kita oke berdasarkan 3C2S, kita pilih aja dari situ, nah di bab-3 kita udah fix menentukan bakal pake apa, standar apa, misal langsung tulis pake AHP, atau ISO 27005, dll. Nilai gw? 60an kayaknya, wkwkkk... semakin pupus sodaraaa... perkuliahan pun juga lanjut sembari ngebahas jurnal-jurnal ala bu BP. Sambil kita ngerjain tugas 4!!

Tugas 4 adalah gabungan Bab 1 sampe Bab 3, jika hasilnya baik, maka niscaya bisa lanjut KA di semester 3, jika hasilnya buruk, ya silahkan bayar 17 juta lageee. Jadi tugas 4 itu ya simpel sih, cuma menyatukan apa aja yang udah kita buat dari tugas 1-3, kita perbaiki berdasarkan revisi setiap bab bagi yang bernilai di bawah 60. Naah, sebelum tugas 4 resmi dikumpulin, kita ada sesi waktu presentasi di hadapan dosen MPPI, dua-duanya!! Pak RS dan Bu BP, wow..!! konon saat presentasi itulah kita bakal dibantai layaknya sidang.

Kesempatan presentasi tuh 2 kali, ya si asdos selalu mendorong kita untuk ikut presentasi, tapi entah temen-temen kelas gw pada gak semangat tuh, wkwkk... mungkin karena udah tau ngapain presentasi toh nilainya juga bakal jelek-jelek juga kan. Alhasil presentasi sesi pertama ada beberapa yang daftar, Cuma 2 orang!! Cuma gw dan dimas, haduuuh... itu deg-degannya setengah mampus!! Kadang malu juga, udah tua kok masih takut, udah tua kok masih deg-degan, ya tapi emang faktanya begitu, wkwkkk...

Jreng..jreng.. dosen pun tampak kecewa, karena yang presentasi cuma 2 orang, ya sudahlah, mustinya si dimas yang presentasi duluan, tapi dia alesan mo ngeprint dulu, jadinya gw yang pertama, mampus!! Wkwkk... okelah bener aja dibantai, dasar masalah kurang kuat, gak ada pembanding, apa ukurannya, pake nominal bla..bla... apa itu heurmeneutics, kenapa pake itu, sudah berapa teori yang dibaca, bagaimana alat bantu itu bisa menyelesaikan masalah bla..bla... kedua dosen silih berganti membantai sekaligus memberi masukan untuk tugas 4 gw. Yah worthed lah, semua terbayar dengan pujian kedua dosen kepada kami atas keberanian kami untuk presentasi di kali pertama untuk semua kelas, saya yang pertama!!

Semua hal itu worthed, dan alhamdulillah.. nilai tugas MPPI saya A !!!!! wow!! Gw bahkan sampe gak percaya, gw cek ulang itu SIAK, iya bener selalu A. Ternyata semua nilai tugas 1-3 gak selalu linier, ada nilai kebijaksanaan disitu, terutama bagi yang nilainya selalu merangkak naik. Alhamdulillah luar biasa.

Belajar mata kuliah MPPI ini menurut saya enlighten banget. Disinilah kita tau soal berpikir rasional, macam-macam pemikiran, macam-macam metode penarikan kesimpulan, cara mencari masalah, tentang triangulasi, bahwa semua pernyataan harus ada dasarnya dari sumber teori. Pada mata kuliah ini pula kita berkenalan dengan database jurnal dan banyak banget baca jurnal, dan membaca jurnal itu sangat membantu kita berpikir logis, karena jurnal selalu disusun secara runut dan ilmiah. 

Fyyuuh... lelah dan capek banget banget di semester 2 ini, perjuangannya pakek keringat, darah dan air mata.. darah itu maksudnya mimisan ya, hahaa... karena terlalu sering tidur jam 2-3 pagi demi ngerjain tugas PSSI dan MPPI. Gw juga merasakan mual-mual dan mau muntah setiap inget deadline tugas MPPI dan PSSI. Baru di semester 2 inilah tau betapa kerasnya kuliah di UI karena banyak yang mengalami sakit, tipes dan demam berdarah di kelas sendiri dan kelas lain. Alhamdulillah kami enggak, berkat vitamin Ester-C dan sabun detol, serta rajin makan indomie rebus tiap malam, wkwkk...

ini meme yang tepat untuk semester 2 di MTI UI:




(trus, Dhis...?!!)

9.2.17

Semester I - MTI UI

SEMESTER I 
Kuliah dari hari senin-kamis, 1 hari untuk 1 mata kuliah, hari jumat adalah hari pengganti jika pas hari senin-kamis ada yang libur. Kuliah jam 7 malam sampai jam stgh 10 malam, diawali dengan makan malam, eh makan sore jam 5-7 sore, hehee.. jadi mau gak mau ya ngerubah kebiasaan makan malam jadi makan sore. Setiap semester ada empat matkul, dan gw akan jelasin setiap matkulnya, cerita dan kenangannya, wkwkkk... sekali lagi ini buat gw sendiri supaya gak lupa sama pelajarannya...dan kenangannya... teteup.... hehee....

Berat... ya sangat beraaat pas awal kuliah.. kerja di kantor jam 8 pagi sampe jam stgh 5 sore, lalu ke kampus, makan sore, trus masuk kuliah jam 7 malam, selesai jam stgh 10 malam, sampe rumah jam 22.00, beres-beres selesai jam 23.00, ngantuuuk banget, lemes, lesu, lelah, lunglai, lebay, hehee... asli, capek banget, tidur, besok paginya udah mulai kerja lagi... aahh.... capek.. beneran capek.... udah ah ngeluhnya, udah selesai ini kan kuliahnya, wkwkkk.... jadi gw akan jelasin per matkul yah

Oke sebelum ke matkul, ada yang namanya SCELE (Student Centered e-Learning Environment) ceritanya e-learning-e-learningan gitu, semacem website forum, ada pengumuman, lalu ada menu-menu mata kuliahnya, jadi kita musti enroll untuk mata kuliah kita, nah di menu mata kuliah itu nanti dibagi per thread per pertemuan, disitu ada bahan kuliah, silabus, presentasi, bahkan suka ada pertanyaan-pertanyaan dari dosen atau mahasiswa. Di SCELE juga sebagai tempat untuk submit tugas kuliah, jadi dosen atau asdos akan menyiapkan dropbox, ada due datenya juga itung mundur, lalu kita bisa upload tugas, nanti konfirmasi upload dikirim ke email kita.



Selain SCELE ada yang namanya SIAK (Sistem Informasi Akademik Mahasiswa), semacem website tentang mahasiswa, kita sendiri, ada menu kalender akademik untuk tahu jadwal kuliah, libur, ujian, dll. Ada menu riwayat akademis, nah ini menu yang selalu dibuka pas abis UTS dan UAS, karena untuk ngeliat NILAI, hahaa.... jadi semua nilai-nilai kita diupload di sini, mulai dari nilai quiz, tugas, kehadiran, UTS, UAS, sampe nilai IP dan IPK. SIAK juga sebagai tempat memilih mata kuliah pilihan di akhir semester 2 nanti. Oke, kembali ke mata kuliah semester 1.

1. JKKD (Jaringan Komputer dan Komunikasi Data) 
Di UI ini ternyata semua mata kuliahnya pake singkatan untuk mempermudah penyebutannya, JKKD ini belajar tentang... well, pertama kita dikasi silabus tentang jadwal pertemuan dan materi yang disampaikan, dan itu real rencananya, asumsi gak ada kejadian force majeur, hehee... materinya gw banget lah, soal elektro-elektro gitu, jadi tentang jaringan komputer, LAN, WAN, media penyampaian, dll, semisal kabel UTP dan sebangsanya, macam-macam gelombang mikro, kabel fiber, RFID, Zigbee.



Ilmu baru yang didapat tuh ya soal pemakaian RFID, Big Data, Zigbee, kabel fiber generasi terbaru yang sangat cepat tapi cuma bisa jarak pendek untuk di data center. Kemudian kita juga belajar soal pertukaran data, konversi data gimana supaya data bisa dikirim dengan cepat dan bebas error dan noise serta dapat disampaikan secara real time.



Pengajarnya masi muda, namanya mas Bay*, klo liat di Linkedinnya dia lulusan S3 Denmark, wow..!! hehe... jadi kebiasaan temen kelas klo ada orang baru, maka langsung liat Linkedin, mungkin karena kebanyakan swasta kali ya, gw aja gak ngerti apa itu Linkedin, seringnya dapet email begitu juga gw ignored. Jadi Linkedin adalah semacam FB tapi isinya riwayat pekerjaan dan testimoni bos atau temen-temen kantor, well, buat nyari kerjaan dan ngebajak orang.

 Yang berkesan adalah.. kuis dilakukan setiap akhir mata kuliah, soalnya pilihan ganda cuma 5 biji doang. Strategi yang bisa banget, jadi klo mahasiswa gak masuk, ya gak dapet kuis, walopun kuisnya cuma 3%, lah dikali 12 kali pertemuan dah berapa tuh, xixiiii... yang lucu adalah ketika pertanyaannya ambigu, jadi jawaban dan pandangan tiap orang bisa beda-beda, wkwkkk.... kadang gw pikir juga ambigu, yah mo gimana lagi, kagak bisa protes lah, kata dosennya karena udah ditentukan sama dosen seniornya, namanya pak YZD.



Pak YZD ini unik emang yak, dia ngajarnya itu selenge’an, santai, suka nanya pertanyaan garing semacem ”kenapa ini begini?” sambil nunjuk ke layar presentasi, kita udah jawab dengan ilmiah dan berusaha mikir dengan keras, eh dia bilang ”karena si penulis pengennya ya begini” wkwkkkk.. but overall mata kuliahnya fun, buat gw yg elektro dan pernah CCNA kali ya, namun agak sulit bagi temen yang lain yang full programmer.

2. PSI (Perancangan Sistem Informasi) 
Ketakutan terbesar gw adalah ketika belajar atau ada mata kuliah yang ada programming-nya, secara gw gak bisa!! Padahal kerja di lingkup TI, hehe... ya alhamdulillah ya, walo background gw elektro, ya ngecap-ngecap dikit soal TI bisa lah. Makanya pas OMB dijelasin soal jalur mata kuliah, jadi di MTI ini, mata kuliah pilihan ada jalurnya, misal jalur governance, enterprise, business intelligence, dll. Dan gw dengan polosnya angkat tangan untuk bertanya “kalo yang cocok untuk yang gak bisa programming yang mana pak?” dan semua pada ngetawain, wkwkkk... yea that’s me.



Lalu ketemu matkul PSI ini, gw kira bakal programmer akut, ternyata enggak! Yes..!! jadi inti dari kuliah ini bagaimana kita menjadi business analyst, bagaimana kita berpura-pura jadi tim vendor/konsultan yang ingin membuat aplikasi/website, dan juga berpura-pura sebagai klien yang ingin dibuatkan aplikasi/website. Awalnya kita belajar tentang proses bisnis, jadi yg namanya aplikasi/website itu mengubah proses bisnis, atau seenggaknya memudahkan, menyederhanakan, atau menciptakan proses bisnis yang baru, intinya sih gitu.

Dosennya ada dua, yang utama bapak SA, dan juniornya bapak HG. Dengan dosen utamanya dia ngajar soal apa itu aplikasi/website, gimana cara buat tim-nya, gimana membuat use case. use case adalah skenario interaksi hubungan antara manusia dan aplikasi, jadi si manusia/user ini bisa ngapain aja di aplikasinya, dan aplikasinya akan merespon seperti apa. Selain itu dosen utama juga ngajarin tentang aplikasi untuk PSI, yaitu RUP (Rational Unified Process). RUP semacam aplikasi untuk memantau perkembangan PSI, dan mengenerate dokumen PSI. Soo... it’s all about document!! Ya, DOKUMEN!! Dokumen apa? Nanti gw jelasin.

 Sedangkan si dosen juniornya, jelasin tentang BPMN (business process modelling notation), intinya sih ngegambar proses bisnis pake diagram, ada juga activity diagram, swim lane, dll. Intinya GAMBAR, jadi ada dokumen, ada gambar juga. Yang berkesan adalah, di matkul ini lah pertama kali kita dibuatkan kelompok oleh pak SA, sekitar 5-6 orang, disinilah pertama kali gw berinteraksi dengan orang asing dan harus bekerja sama, hehee... Dengan membuat proses bisnis, kita bisa paham cara kerja suatu unit organisasi, lalu kita bisa tahu proses bisnis mana yang kita bisa sederhanain, tambah, atau bikin baru. Dengan proses bisnis kita bisa buat use case, dan interaksinya dengan aplikasi.

Lalu RUP dan dokumennya apa? Nah disini intinya, RUP semacem aplikasi buat menge-trace perubahan-perubahan selama PSI. Bagi kuliah, perubahan selama PSI itu penting dan musti dikelola, change requirement, change request, dll. Selain itu RUP juga menghubungkan kebutuhan-kebutuhan PSI. Kebutuhan PSI itu apa aja? Bukan cuma aplikasinya bisa ngapain aja lho ya, yang dimaksud kebutuhan adalah jauuuuh lebih ribet dari itu, ya lebih mengawang-awang, kebutuhan yaitu dokumen yang isinya sbb:



 Jadi pertama kita musti define STRQ (Stakeholder Request), trus turun ke bahasa tingkat tinggi VISION, dari VISION menjadi NEED, lalu FEATURE, USE CASE dan SUPPLEMENTARY, yah pokoknya begitulah. Jadi gak ujuk-ujuk kita nentuin aplikasinya bisa ngapain aja, tapi kita tentuin sebelum itu kebutuhannya apa, dan software requirementnya seperti apa.
Kemudian tugasnya, tugas kelompok yang membuat dokumen PSI dari aplikasi yang udah ada, musti real, jadi kelompok kita sepakat make kantor Om Indra sebagai studi kasus, yaitu aplikasi Sistem Informasi Kepegawaian, ya kita pelajari menu dan fiturnya, nah dari situ kita buat dokumen PSI-nya dengan RUP seperti kebutuhan-kebutuhan yang tadi dah dijelasin. Baru kali ini kerja kelompok, ya unik aja, jadi kita tentuin siapa yang bikin ini, itu, siapa yang bikin traceability, siapa yang nyatuin dokumen, jadiin PDF dan upload, hahaa... ribet bet...

Intinya... intinya mulu, hehee... pokoknya penutup, matkul ini memberikan pencerahan kepada gw bahwa yang namanya membangun aplikasi tuh idealnya musti kayak gitu, musti ada analisis proses bisnis, bikin use case, bikin kebutuhan-kebutuhan kayak tadi, ada requirement management, ada traceabilitynya, ada form change request, membangun aplikasi juga memakai sistem yang iterative (Iterative Development Life Cycle). Nah selama ini dikantor jauuuh banget dari kayak gitu, cuma rapat dan rapat, perubahan bisa seenaknya, dan paling parah GAK ADA DOKUMENTASI-nya, wkwkkkkk...



Yang berkesan adalah, ini tugas pertama yang ada kelompoknya dan diakhir kuliah ada PRESENTASINYA..!! wow..!! jadi ya emang kuliahnya gak ada UAS, jadi diganti dengan presentasi, amat sangat deg-degan, hahaa... udah kayak sidang, jadi per kelompok presentasi di depan dosen aja, gak ada temen yang lain, ditanya per orang, per pekerjaan, ngeri lah pokoknya. Sebelum maju gw gak bisa makan, gak nafsu makan, wkwkkk...

 Ralat: nama aplikasinya ternyata Requisite Pro, hehee...

3. PMRPL (PM Rekayasa Perangkat Lunak) 
PM-nya gw lupa, dan setelah gw bongkar data-data di laptop, ternyata PMRPL adalah Proses dan Manajemen Rekayasa Perangkat Lunak, hehe.... selalu ada hal baru buat gw setiap ketemu mata kuliah baru di semester 1, ya maklum, namanya baru masuk kuliah kan. Jadi namanya aja ribet PMRPL, ternyata isi mata kuliahnya ya tentang STANDAR dan AUDIT, well, mirip-mirip lah standar dan audit.



Jadi standar apa? Standar tentang Tim, Proses, Unit Kerja, pengembangan aplikasi/sistem informasi. Gw nyebutnya aplikasi ajalah ya, kepanjangan klo SI (Sistem Informasi). Istilah-istilah yang menarik yang muncul adalah software process, software development. Kita belajar apa aja sih tingkatan-tingkatan pengembangan aplikasi. Intinya sih dua kata KEMATANGAN dan KAPABILITAS. Di PMRPL ini kita belajar tentang CMMI (Capability Maturity Model Integration). Atau sering kita sebut cemiw. 



Jadi CMMI itu adalah suatu standar, standar adalah dokumen yang isinya kayak poin-poin atau pasal-pasal kegiatan yang harus ada atau dilakukan. Nah, poin-poin kegiatan itu merujuk kepada tingkatan-tingkatan kematangan dan kapabilitas yang dinyatakan dengan level. Jadi misal kematangannya level berapa? Kapabilitasnya level berapa?. Untuk kematangan ada level 1-5, dan kapabilitas dari level 0-4. Tingkat kematangan dan kapabilitas ini bisa untuk tim pengembangan, proses pengembangan, dll. Ada yang namanya level berdasarkan stage, yang 1-5, ada juga yang level berdasarkan continous, yang 0-4.



Nah klo stage 1-5 itu levelnya musti bertingkat, misal level 2, musti lulus level 1, level 4 musti lulus level 1-3. Lulus maksudnya memenuhi poin-poin standar di setiap level, yaitu PROSES AREA (PA). Proses area adalah... yang gitu deh, semacem area atau jenis kegiatan. Tiap level punya PA-PA berbeda, nah tiap PA punya poin-poin kayak pasal-pasal yang harus dipenuhi atau ceklist dalam bentuk bukti kegiatan, misal dokumen, bukti email, invoice, foto, posted-it, dll.



Matkul ini gak lepas dari yang namanya tugas kelompok, jadi kita musti menilai atau mengassess suatu unit kegiatan pengembangan software untuk kita nilai kematangannya. Udah ada format excelnya, kita Cuma isi ada, sudah berjalan atau belum, lalu dikasih catatan, nanti keluar deh hasilnya berada pada level kematangan berapa. Waktu itu kita pake studi kasus di kantor om pras, PT. Mediatrac.

CMMI ini ternyata udah mendunia lho, pernah tuh dosennya bukain web daftar negara-negara pemegang CMMI, misal vietnam, singapura, bahkan Filiphina udah ada beberapa perusahaan yang punya sertifikasi CMMI, indonesia? Belum ada..!! wkwkkk..... gilak yak. Jadi punya CMMI itu bisa membuat posisi tawar perusahaan pembuat software makin bagus. Semakin tinggi level CMMInya berarti semakin banyak dokumentasi dan semakin baik dalam pembuatan sofwarenya. Dosennya juga bilang orang indonesia belum ada yang jadi assessor CMMI, padahal gajinya ratusan dollar per jam!! Iya diitung per jam loh.

Kita juga belajar soal penting gak sih punya CMMI? Karena kesannya CMMI ini heavy banget, terlalu banyak dokumentasi, padahal gimana dengan perusahaan pembuatan sofware yang kecil? Mereka juga perlu standar dan sertifikasi? Naaah... CMMI menyediakan assessment gak hanya berdasarkan stage, tapi juga continous itu berdasarkan PA, jadi perusahaan bisa lho ingin fokus beberapa PA tertentu aja tanpa harus mengambil semua PA yang gak terlalu sesuai dengan kondisi perusahaan. Yang berkesan adalah, baru kali ini gw tau kekuatan sebuah kata-kata. Standar itu ya intinya Cuma sebaris kalimat atau kata-kata yang musti dijalankan dan dibuktikan dengan dokumen, foto, dll.



Dosen utamanya pak EK, ngajarin hal umum tentang CMMI, lalu pak AF ngajarin soal PA-PAnya per poin-poin, lalu ada pak SBW yang ngajarin soal metode pengembangan aplikasi, jadi metodenya terbagi dua, yaitu Heavy dan Agile. Heavy itu normal kayak waterfall, prototyping, Spiral dll, nah klo Agile (tangkas) ada Scrum, XP dll. Agile tuh klo kata temen, jadi tim-nya kecil, semua harus punya keahlian yang sama dan tinggi, jangka waktu 2 minggu selesai, tiap pagi harus meeting dan ada deliverable (output produk), pokoknya kata temen pusing, karena ya itu musti cepet dan singkat.



4. TSBD (Teknologi dan Sistem Basis Data) 






Nah ini dia mata kuliah yang menurut gw agak membuat takut, bukunya tebel, nama bukunya connolly, eh semacem itulah. Sks-nya 4, trus ada lab-nya, wow..!! ini mata kuliah pertama dalam S2 gw yang ada lab-nya. Gw dah kebayang bakal coding-coding semacem itulah. Dosennya sih asik kok, ibu-ibu gitu, bu YV namanya. Ngajarnya juga jelas dan text book sesuai dengan buku text-nya. Yang diajarin apa ya? Ya tentang dasar-dasar DATABASE, bahasa indo-nya database itu ternyata BASIS DATA, hahaa.... gw gak ngeh tuh awal-awal.



So, gimana matkulnya? Bagi gw? SUSAH.. susah banget!! Intinya matkul ini sih selaras dengan Database System Development Lifecycle (DLC). Jadi dimulai dengan database planning, design dst. Design terbagi 3 lagi, ada konseptual, logical, dan physical. Nah, pelajaran database sampe logical aja. Tapi Masya Allah, gw kagak ngerti, apa itu field, apa itu attribute, apa itu ER (Entity Relationship). Jadi gimana? Apa yang terjadi sama gw? Gw bela-belain belajar tiap malem itu buku connollynya, kata per kata, kalimat per kalimat gw hayati bener-bener, sampe gw baru ngeh dan paham.

Untungnya bukunya emang enak dibaca dan jelas banget. Sistemnya pake studi kasus, jadi ada ceritanya, sebuah perusahaan properti sedang ingin membangun database buat data properti mereka, tadinya udah punya database tapi berbasis kertas, diliatin deh tuh kartu-kartu database, misal ada alamat rumah, pemilik, harga, lokasi, lalu ada juga database tentang pembeli, kantor cabang dan lain sebagainya, gimana desain databasenya? Jadi buku itu ceritain prosesnya secara bertahap sesuai dengan DLC, mulai dari planning, sampe ke desain, trus ke physical trus maintenance dan mikirin securitynya juga, so buku itu lengkap.

Teringat dulu pas belajar database pertama kali pas SMP belajar DBASE 3PLUS, hahaa..... trus pas SMA belajar ACCESS. Jadi, sebelum ke aplikasi databasenya, kita musti bikin MAP, semacam peta konseptual yang gambarin antar field, di dalam field ada attribut. Field itu semacem tabel, misal tabel data pembeli, tabel data penjual, tabel transaksi. Attribut itu yang kolom-kolom di tabel itu, nama, alamat, jenis kelamin, jumlah transaksi, dll. Naah... tentunya tiap tabel punya keterkaitan kan? Misal tabel pembeli ke tabel transaksi, tabel penjual ke tabel data perumahan, nah inilah yang dinamain ER itu tadi, apa hubungannya? Yaitu multiplicity, terdiri dari cardinality dan participation. Cardinality tuh jumlah maksimal kegiatan (occurance), participation tuh menentukan apakah tabel itu wajib diapa-apain apa enggak.



So membaca tabel PETA ER tuh jadi kayak baca strategi perang, dengan gambar dan tabel. Ada hubungannya, ada jalurnya, ada tanda panahnya, seruu siih, tapi ya belajarnya Cuma sebentar, karena setelah konseptual kita ke logical. Nah ini susah lagi, jadi logical itu intinya normalisasi, tabel-tabel yang dah kita buat tadi pasti banyak yang redundan, ada kolom yang sama yang ada di tabel laen kan? Itu harus diilangin karena akan menyebabkan update anomalies. Jadi kita musti normalisasi dengan berbagai tingkatannya.

Susah bener, sekali lagi gw musti belajar saban malem menjelang tidur, capek. Setiap tabel tentu punya attribute, dan ada attribute yang kita pilih harus jadi primary key dan unik. Lalu kita harus tentuin Functional Dependencies, yaitu ketergantungan unik antar anttribute. Kita harus mastiin gak ada Transitive Dependencies, klo ada musti didekomposisi. Oh My Goat, banyak huruf-huruf dan simbol-simbol udah kayak kalkulus aja, wkwkkk... serius ini susah banget. Tingkatan normalisasi pun macem-macem, dan pas ujian kita musti normalisasi ke 3NF.



 Ada tugas kelompoknya, yaitu bikin desain database konseptual dari studi kasus. Jadi kasus ceritanya ada orang yang bikin aplikasi penginapan, ya semacam booking.com dan sejenisnya. Nah kita disuruh bikin desain databasenya, ada tabel nama hotel, jumlah kamar, identitas penyewa, pemilik hotel, tabel untuk transaksi keuangan. Jadi kita musti desain databasenya, hubungan multiplicitynya, dekomposisinya, dll.



Apakah selesai kesusahan saya? Belum!! Masih panjang ternyata. Setelah selesai dengan bab konseptual, logical dan normalisasi, trus masuk ke bab penghibur lah tentang security, raid, server, aplikasi database, macam-macam hak akses, user view, dll. Trus kini masuk ke bab... jreng-jreng, Bab SQL..!!! yak SQL, oh nooo.... bahasa planet yang gw gak ngerti, wkwkkk... so SQL is Structured Query Language, yang bagi gw masih misteri adalah, QUERY itu apa??!! Googling juga gak nemu, hahaaa... jadi kadang orang enak aja ngomong dengan kalimat menempatkan kata QUERY di tengah kalimat, yang sama sekali gak bisa dibahasa indonesiain. Jadi, biarkan lah QUERY tetap menjadi misteri sepanjang masa.

Jadi SQL itu, intinya adalah mengimplementasikan design database kita tadi, setelah melalui proses normalisasi, untuk dimasukkan ke dalam aplikasi DBMS, kita bisa create table, bla..bla... masukin ini itu, netapin karakter ini itu, bla..bla... nah, di matkul ini bab SQL nya digunain untuk nampilin datanya, yak nampilin datanya, misal kita mo nampilin pegawai yang alamatnya di kita X aja, atau nampilin transaksi yang lebih dari jumlah tertentu, itu semua pake bahasa planet yang namanya SQL. 

Selain belajar di kelas, kita juga belajar di LAB, dengan asdos mas BG, dia ini keren banget plus nerd ya, tipikal anak TI lah ya dengan jenggotnya itu, ikhwan banget kliatannya ya. Jadi di LAB itu kita belajar aplikasi Postgre apa ya, itu semacem kayak aplikasi MySQL, tapi entah yang dipake itu Postgre karena katanya gratis, wkwkkk... jadi di aplikasi itu kita punya akun masing-masing, ceritanya kita ya kayak di buku connolly itu, bikin database, create table, masukin data-data apalah, lalu latihan nampilin datanya lewat perintah SQL atau QUERY apalah apalah..



Apakah cukup sampai disitu? Hoho.. tidak, ada tugas laen lagi, yaitu tentang business intelligence. Jadi chapter terakhir-terakhir buku connolly ada tentang data warehouse, data mining, bussiness inteliigence. Intinya sih soal penampilan data ya, jadi klo tabel normal itu kan Cuma baris sama kolom, nah dalam konsep data mining dan data warehouse serta OLAP (Online Analytical Processing) itu tabelnya bentuknya kubus. Cara penampilan datanya dengan slice, atau dipotong untuk menampilkan data yang kita inginkan. Itu OLAP ya, kalau data mining ya kegiatan memproses data yang tidak diketahui, tidak valid, dan tidak aktif, menjadi informasi yang berguna bagi bisnis dengan cara menemukan pola-pola yang menarik. Ada teknik clustering, ascosiation, dll.

Tugasnya adalah untuk memforcasting suatu data dengan data mining. Jadi ceritanya ada suatu toko atau swalayan, dia punya data penjualan, naah dia pengen tau klo konsumen belanja dengan nilai berapa konsumen itu mau redeem pointnya. Jadi kita dikasi data excelnya yang isinya data penjualan dan data redeem point konsumen, nah kita disuruh cari tau pola terbaik dari teknik data mining untuk melakukan prediksi. Pake aplikasinya terserah, yang terkenal diantaranya rapidminer, weka, dll.

Susaaaahh banget sih..!! kagak ngerti. Pokoknya setelah berbagai drama dilalui, tadi awalnya pake rapidminer, kok gak nyampe-nyampe ya, hang terus, terus butuh resource RAM yang gede banget, mana temen kelompok gak mikirin, hadeehh, kita ampe ngumpul di Fasilkom UI buat ngerjain bareng, wow ada Yoshinoya di sana, hehe... Akhirnya nyerah, pas malam menjelang pagi gw pake weka aja, karena bini pake weka lancar jaya aja tuh, ya udah ane ikutin aja sampe mohon-mohon minta diajarin, step by step, satu demi satu, akhirnya bisa. Intinya sih kita nyuruh si weka ngeproses excel yang dipake berdasarkan formula data mining yang udah ada, jadi kita semacem nyuruh weka belajar jadi machine learning, nunggunya bisa cepet bisa lama, tergantung formula yang kita pilih. Setelah learning selesai, kita suruh si weka forecasting data excel yang satu lagi, nah ntar keluar ketepatan persentase prediksinya, 90% kah, 88% kah, dll. Jadi intinya itu doang sih.



Yang berkesan adalah ini tugas pertama yang gw kerjain sampe pagi, gak tidur broh!!, baru tidur jam 8 pagi. Sumpah dah, ini nih yang kata asdos musti pinter-pinter cari temen kelompok, hahaaa.... pokoknya setelah selesai legaaa banget rasanya, dan kliyengan.

Akhirnya UAS semester 1 selesai, saatnya liat nilai-nilai di SIAK, hahaa... saban hari nengok-nongok SIAK sapa tau ada nilai baru yang keluar, dan bakal heboh di grup WA kelas. Sambil nikmatin liburan, 2 bulaaaan..!! yess... !! ada 1 matkul yang ampe batas pengisian nilai SIAK kok lom muncul-muncul, ternyata kata sekre emang bapaknya telat... aahh kecewa... padahal matkulnya selalu berbicara soal SETANDARRR... kata si mpit, klo sampe batas pengisian blom keisi dan musti extend, berarti B udah di tangan. Ya sudah lah yaa... yang penting libur, stress..!! karena semester 2 bakal lebih stress lagi, karena ada matkul MPPI.



(trus, Dhis...?!!)